Oleh : Dwiki Nugroho Mukti
Pendekatan keindahan pada sebuah titik acuan yang pada umumnya disepakati sebagai indah, dewasa ini sudah sangat memudar.Seniman mampu dengan leluasa menentukan titik acuan estetiknya.Terkadang selera seorang seniman bisa sangat aneh dan sulit untuk diterima kebanyakan orang dengan menganggap apa yang diketahui sebagai buruk, seram, atau indah sebagai sesuatu yang indah dan memiliki nilai estetik yang tinggi dimatanya.
Untuk penetapan titik acuan estetika pada seseorang adalah sebuah proses yang panjang, proses yang tidak terjadi hanya sepanjang malam, tetapi mulai dari orang tersebut belum memiliki sebuah pemahaman mengenai estetika sama sekali, hingga dia sekarang berada dan menjadi apa dia. Proses untuk membentuk sebuah titik estetika tidak akan pernah berhenti dan akan terus bergerak beriringan dengan pengalaman-pengalaman yang didapati. Hal yang mempengaruhi perubahan nilai estetik yang dimiliki oleh seseorang adalah bekisar pada pengalaman kejiwaan seseorang yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, perlakuan yang ia dapat, kesenangan atau kesedihan yang dirasa, dan ketertarikan pada sebuah hal. Semua akan terkalkulasi sebagai pengalaman kejiwaan yang mana pada akhirnya pengalaman tersebut membawa ke sebuah titik temporer mengenai keindahan itu sendiri, titik keindahan yang membawa pada sensasi tersendiri akan nya, apakah itu senang, gembira, puas atau sebagainya.
Disadari apa tidak media adalah sumber dari pengalaman yang kita dapat, yang banyak membangun konsepsi estetik. Lalu saat kita sudah mampumenggambarkan dan mempresentasikan bagaimana estetis menurut kita pribadi, kita akan tersadar bahwa kita berada dalam sebuah industri budaya.
Apa yang dihadapi dan terkalkulasi adalah bagian dari sebuah industri budaya yang mencerminkan konsolidasi fetisme komoditas, dominasi, atas pertukaran dan meningkatnya kapitalisme negara, industri budaya membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu1. Industri budaya memiliki dampak dalam waktu tertentu bisa dalam waktu yang sangat panjang atau sangat pendek, pendekatan industri budaya yang digambarkan menurut mahzab Frankrut adalah erat hubungannya dengan praktik monopoli yang dilakukan oleh sebuah kekuasaan yang memiliki kuasa dalam teritori tertentu (negara) untuk membuat rakyat yang ada didalamnya tetap dapat dikendalikan perilakunya melalui doktrin kebudayaan yang ditanamkan. Selain oleh negara industri kebudayaan juga dilakukan oleh segelintir minoritas yang memiliki idealis kuat terhadap sebuah arus kebudayaan sebagai perilaku resistance terhadap budaya populer yang sedang berkembang.
Saat kita tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk melawan wacana yang dijejalkan entah karena memang budaya yang demikian sudah diterima oleh agen-agen kebudayaan saat dalam usia yang dini sehingga akan mudah untuk dijejali doktrin budaya yang mana akan terkalkulasi saat agen tersebut sudah dewasa, dan hasilnya akan muncul dalam terapan bidang apapun yang mana agen tersebut kerjakan. Bila dalam sebuah medan kerja visual maka pengalaman yang merupakan salah satu produk dari industri budaya yang dominan yang ia terima pada masa lalu akan muncul dalam bentuk-bentuk visual yang ia buat.
Integrasi antara yang lampau dan yang kini, yang merupakan karakteristik pengalaman, terwujud dalam peranan yang ditampilkan oleh pencerita tradisional.Pencerita ini mempunyai orientasi pada kepentingan-kepentingan praktis. Jadi, cerita yang dituturkan mengandung sesuatu yang berguna bagi
sang pembaca. Dalam setiap kesempatan, si pencerita adalah orang yang senantiasa menyampaikan pesan untuk si pembaca. Kisah tadi hendaknya menyebarkan pengalaman lewat cara pandang yang mempersatukan antara yang lampau dan sekarang, yang umum dan spesifik2. Analogikan pencerita
sebagai seorang pelukis dan pembaca sebagai apresiator lukisan maka kita akan menangkap sebuah pola yang sama antara berbagai disiplin ilmu dalam seni bagaimana ia ingin mengangkat sebuah isu personal untuk kemudian dijadikan bahan yang cukup menarik untuk menarik perhatian dari appresiator seni.
Estetika adalah kata kunci dalam pameran tunggal ini, sebuah istilah yang sering kita dengar dalam setiap aspek kehidupan, istilah ini condong kepada istilah visual yang merujuk kepada keindahan.Estetika adalah kata serapan dari bahasa inggris yaitu aesthetic yang mana berasal dari aisthanomai (yunani) yang berarti hal yang ditangkap lewat indrawi dan bermuara pada perasaan, sebagai oposisi dari hal yang dipahami akal. Munro juga mengatakan bahwa estetika adalah cara merespon terhadap stimuli, terutama lewat persepsi indra, tetapi juga dikaitkan dengan proses kejiwaan seperti asosiasi, pemahaman, imajinasi, dan emosi. Ilmu estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang kita sebut keindahan, estetika adalah hal yang mempelajari kualitas keindahan dari objek, maupun daya impuls dan pengalaman estetik pencipta dan pengamatnya. Sambutan kita terhadap dunia rupa yang aneka ragam ini, baik sambutan fisiologis maupun psikologis – jadi dengan demikian seluruh latar belakang pengalaman kita tentang rupa – merupakan faktor penting di dalam kita menghayati lukisan abstrak3.Pernyataan tersebut kiranya adalah pernyataan yang aktual dan dapat diterapkan dalam kita memahami karya-karya seni rupa di era kontemporer ini tidak hanya untuk karya abstrak saja melainkan semua jenis karya.
Dalam pameran tunggal ini Prap akan membawa pengunjung pameran ke dalam alur cerita dalam karya yang sudah dipersiapkan selama 1.5 tahun, alur mulai dari pembuatan karya serta latar belakang bagaimana karya dibuat, lalu alasan kenapa menggunakan pemilihan karakter-karakter seram dan
warna-warna gelap dalam tiap karya yang ditampilkan oleh Prap. Namun dengan karakter seram dan warna-warna gelap tersebut Prap mantap untuk mengatakan hal tersebut indah, memang akan terjadi kesenjangan makna indah saat apa yang yang dilihat orang secara umum adalah hal yang
menyeramkan namun di amini oleh Prap sebagai sesuatu yang indah. Hal tersebut adalah hasil dari penerjemahan estetis oleh Prap yang kemudiandi transfer dalam bentuk visual, bentuk indah yang bagaimanapun Prap sendiri membutuhkan legitimasi bahwa ia mencapai titik memvisualisasikan karya yang indah menurut versinya sendiri.
Pengalaman pribadi dari sang seniman untuk sampai pada titik acuan estetik nya saat ini adalah bentuk dari ketertarikan pribadi terhadap aliran musik metal. Dan ilustrasi yang dibuat mengilustrasikan musik metal dan sub dari metal yang banyak mengangkat isu kegelapan, kebencian, darah, dan berbagai hal yang mempunyai keterikatan dengan kegelapan. Saat Prap banyak mengkonsumsi materi yang demikian maka secara sadar ataupun tidak sadar bentuk-bentuk visual dari karya Prap akan mengarah kesana. Klasifikasi dari karya Prap dengan gaya ilustrasi, karakter gambar seram dan gelap ini mengarah kepada
Fantasi Art, dimana Fantasi Art memiliki definisi sebagai sebuah genre yang menggambarkan subjek non realistis, mistis, mitos atau folkloric atau peristiwa dan gaya, yang merupakan representasi dan naturalistik namun bukan abstrak. Di Prancis Fantasi Art disebut dengan lefantastique, di Inggris kadang disebut seni visioner.
Bentuk dari fantasi Prap tidak hanya dimainkan melalui kanvas, namun Prap juga banyak berekplorasi menggunakan media non kanvas. Penggunaan media suara akan dimunculkan pada beberapa karya interaktif yang memilki keterikatan yang kuat dengan musik metal, dengan karya itu pengunjung akan
dibawa kedalam gambaran situasi bagaimana Prap menciptakan karyanya melalui panduan audio. Bentuk ilustrasi print juga akan banyak terpampang di ruang pamer, tidak berhenti disitu Prap juga melakukan ekplorasi berbasis ilmu terapan kimia dimana dia akan mengolah sebuah artefak biologis untuk ditampilkan dalam pameran ini. Dalam pengolahan karya yang berbasis kanvas Prap juga tidak hanya bermain pada penggunaan cat lukis namun untuk dapat mengeluarkan esensi karya yang dibuatnya secara maksimal ia menggunakan darahnya dalam proses berkarya.
Akan banyak hal yang manarik dalam karya-karya yang ditawarkan kepada para apresiator, Prap sendiri memiliki harapan yang besar agar apresiator yang menyaksikan karyanya mampu mendapat pengalaman estetikanya sendiri dengan kesadaran tanpa paksaan, dan bisa mendapat ‘indah’ nya dari sudut pandang mereka sendiri. Harapan yang kedua agar apresiator yang melihat karya Prap mendapat inspirasi dan dapat berbuat sesuatu sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Semoga pameran tunggal yang pertama ini adalah awalan yang baik untuk terus secara berkelanjutan menciptakan karya-karya jujur yang mampu merepresentasikan kehadiran Prap dalam dunia seni rupa dalam medan ia bernaung saat ini dan untuk gol jangka panjang di ranah internasional sebagai pencapaian akhirnya.
”Berpijaklah dimanapun saat kau sudah mengerti atas segala konsekuensinya, kemudian terus berlari kencang kedepan, jangan berhenti saat orang lain memintanya tapi berhentilah saat kau merasa itu sudah saatnya.”
1 Strinati Dominic, Popular Culture (London,1995), 69
2 Soetomo Greg, Krisis Seni Krisis Kesadaran (Yogyakarta,2003), 85
3 Yuliman Sanento, Seni Lukis Indonesia Baru-Sebuah Pengantar (Jakarta,1976), 31
