Di penghujung 2015 banyak event seni rupa besar yang digelar di indonesia, yang paling menyedot perhatian adalah digelarnya 4 acara biennale yang digelar hampir dalam kurun waktu berasamaan, di mulai dari makasar biennale : trajectory, jogja biennale : hacking conflic, jatim biennale : art ecosystem, kemudian yang terakhir adalah jakarta biennale : maju kena mundur kena. Kota-kota besar semakin menegaskan keberadaanya dalam dunia seni rupa dengan penyelengaraan biennale itu sendiri. Namun pada akhirnya apakah acara biennale itu tepat untuk diselengarakan ? diselengarakan karena memang butuh untuk diadakan atau hanya sekedar resonansi dari biennale-biennale yang terlebih dahulu ada untuk menegaskan keberadaan suatu wilayah saja.
Banyak kota-kota lain di daerah yang sudah mengambil ancang-ancang untuk mengadakan biennale,saya melihat gejala ini sebagai upaya untuk mengejar nilai prestis dari biennale. Semua ingin muncul untuk menampilkan potensi dari wilayah mereka masing-masing, namun apakah hanya itu makna dari biennale ?. Dewasa ini biennale memiliki arti sebagai event 2 tahunan yang di upayaka sebagai pemetaan terhadap sebuah wilayah melalui bentuk output yang disetujui, pemetaan yang terjadi bisa diambil dari sudut manapun mulai dari sosial, politik, ekologi atau isu apapun yang sedang berkembang dalan sebuah wilayah, bentuknya juga beragan bisa mulai biennale tari, arsitektur, dan sebagainya. Seniman yang dimunculkan bisa siapa saja tidak terikat dalam batas wilayah namun mampu memaparkan permasalahan yang dijadikan konsep. Paradigma bahwa yang berhak mengikuti biennale di suatu wilayah hanya seniman dari wilayah itu sendiri, adalah paradigma yang sangat salah, kecuali dari awal memang ditujukan demikian.
Contoh kasus yang terjadi di biennale jatim seniman-seniman senior merasa bahwa mereka harus dilibatkan dalam biennale jatim, karena mereka merasa sebagai orang jatim yang berhak untuk terlibat, kasus yang demikian adalah murni kesalahan pihak biennale menurut saya, karena dari pihak biennale tidak pernah memeberikan pernyataan yang tegas kemana arah biennale ini akan dibawa, hanya untuk ajang pameran seniman di lingkup wilayah jawa timur kah?, atau menjadi sebuah biennale internasional yang manangapi isu-isu global saja, atau bentuk lainya.
Saat mengagas sebuah acara yang diberi nama biennale secara tidak langsung akan ada sebuah kontrak kerja yang disodorkan bahwasanya acara ini 2 tahun lagi harus dilaksanakan lagi, karena memang pertangung jawaban dari nama itu sendiri yang menuntut untuk diperlakukan demikian. Namun saat memang hanya nilai prestige yang dikejar dari pelaksaan biennale maka langkah kedepan tidak menjadi perhatian, dan akhinya pihak penyelengara hanya terfokus pada acara yang akan berlangsung tanpa memikirkan hal detil lainya, seperti pencapaian apa yang harus didapatkan dari pelaksaan 3 pameran biennale ke depan, program apa saja yang harus disuguhkan saat biennale, dan sebagainya. Pihak penyelengara biennale jogja dan jakarta sudah bermetamorfosis menjadi bentuk yayasan, kiranya bentuk yang demikian memang di perlukan untuk program 2 tahunan seperti biennale karena yang banyak terjadi adalah panitia yang malakukan biennale hanya dituntut untuk bekerja selama 2 tahun untuk menyelengarakan sebuah biennale, malah biasanya waktu kerjanya tidak sampai 2 tahun, benar-benar waktu yang sangat minim untuk penyelengaraan event sekelas biennale, dan etos kerja yang demikian benar-benar tidak memikirkan keberlangsungan acara untuk biennale yang selanjutnya. Masalah yang juga banyak terjadi saat program ini tidak memiliki sebuah bentuk yang real adalah setelah penyelengaraan biennale panitia dibongkar lalu untuk untuk biennale periode berikutnya dibuat lagi susunan yang baru, seperti itu dan berulang-ulang, alhasil saat panitia 1 sudah merancang biennale untuk mencapai titik z lalu panitia 1 di bongkar dan kemudian dibuat lagi panitia 2 untuk melaksanakan biennale periode berikutnya maka panitia 2 akan kebingungan untuk mencapai titik z, kemuadian saat panitia bingung dia akan menetapkan sebuat titik baru yang dirasa lebih bisa dilakukan yaitu pencapain titik xy,pencapaian yang baru lagi, dan hal seperti ini terus akan berulang sampai ada titik yang menjadikan struktur ini kuat dan baku untuk kemudian memungkinkan membuat sebuah proyeksi rancangan program jangka panjang dan target pencapaian agar mampu dilaksankan dengan baik sesuai harapan. (dnm)
