Oleh : Dwiki Nugroho Mukti
Dalam perkembangan media yang pesat akan mengasilkan banyak produk di dalamnya, dalam suatu wilayah akan punya kecenderungan untuk meniru terhadap apa yang masyarakatnya lihat, dengar, rasakan atau sebagainya. Salah satu produk yang berkembang dengan subur adalah budaya, budaya urban salah satunya, dikota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan sebagainya kita akan dengan sangat mudah untuk menangkap gejala tersebut, gejala dari penyebaran budaya urban yang secara langsung atau tidak langsung kitapun melakukanya, tidak hanya berhenti pada budaya urban itu saja. Budaya urban sendiri memiliki banyak cabang produk didalamnya dari seni rupa ada graffiti, dari seni tari ada break dance dan seterusnya.
Dalam pameran bebas parkir yang diadakan di Poharin art space kitapun disini akan disuguhkan dan diajak untuk terlibat dalam praktek dari produk budaya urban ini, Graffiti rupanya adalahan sebagai media untuk menyalurkan bakat dan minat yang sesuai dengan kultural perkotaan, memberi warna untuk sudut-sudut kota, meskipun dalam prakteknya graffiti adalah tindakan yang ilegal namun kita tidak bisa menutup mata bahwa grafiti memberikan warna yang lain dalam suatu wilayah.
Masyarakat dan kebudayaan saling tergantung satu sama lain, masyarakat tidak mungkin merupakan suatu kesatuan fungsional tanpa kebudayaan begitu pula sebaliknya1. Lalu saat sebuah kota sudah terdapat banyak karya-karya didalamnya kecenderungan selanjutnya adalah pelaku-pelaku yang melakukan graffiti tersebut akan secara natural mengelompok dan mambuat grup/crew/komunitas/dst. Saat muncul banyaknya kelompok graffiti dalam teritori yang berdekatan tentunya akan menimbulkan sebuah gesekan. Begitulah alur alamiah yang terjadi, dan memang seharusnya terjadi.
Gesekan yang muncul bukanlah sesuatu hal yang bisa dikonotasikan secara negatif gesekan yang terjadi bisa saja bersifat positif, contohnya saat suatu kelompok sudah mampu membuat karya graffiti dengan pencapaian yang lebih dari kelompok lainya, maka kelompok lainya akan berlomba-lomba untuk mengejar ketertinggalan untuk meraih pencapaian yang sama atau malah melebihi kelompok lainya. Itu adalah hal indah yang kita bayangkan dan terjadi dalam budaya graffiti di Indonesia, namun juga ada hal-hal yang tidak menyenangkan dan itu realita yang terjadi.
Untuk melestariakan keberlangsungan-nya mahluk hidup mempunyai dua hal yaitu menjadi abadi atau bereproduksi, tidaklah mungkin untuk menjadi abadi maka hal yang masuk akal adalah untuk melakukan reproduksi tapi disini kata yang tepat adalah regenerasi, dimana harus ada peremajaan terhadap pelaku-pelaku kebudayaan sebagai succesor budaya tersebut.
Di tempat berlasunganya pameran graffiti kali ini adalah malang, salah satu kota besar di Indonesia dimana kulture graffitinya berkembang dengan pesat, dalam 5 tahun terakhir ini kita bisa lihat dari coretan-coretan dikota yang terus bertambah. Jumlah pelakunya juga tidak statis namun terus berkembang. Maka bisa kita simpulkan bahwa kota malang adalah kota yang subur pertumbuhan graffitnya.
Semua aspek sudah dipenuhi disini untuk keberlangsungan budaya graffiti di kota malang ini, maka dari itu hal yang selanjutnya harus dilakukan adalah proses regenerasi yang baik, bila mahluk hidup melakukan reproduksi untuk menurunkan informasi dan pengalaman yang sudah didapat dalam massa hidupnya melalui dna, maka dalam keberlangsungan sebuah kebudayaan embrio baru yang biasanya disebut pemula juga harus dibagi pengetahuan dan pengalaman yang sudah didapat dan dilakukan oleh seniornya, jadi keberlangsungan budaya graffiti yang terjadi khususnya dimalang akan terus berkembang dan tidak dalam posisi yang statis, dimana ia akan terus mengalami perkembangan.
Adaptasi sering kami artikan sebagai proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkunganya, kini jelas kiranya mustahil berfikir adaptasi tanpa mengacu pada suatu lingkungan2. Jadi proses adaptif yang harus dilakukan oleh para pelaku baru kiranya mendapat respon positif dari pelaku yang sudah terlebih daulu memutar roda graffiti di kota malang ini, proses dalam penyaluran pengetahuan dan pengalaman harus dilakukan, salah satunya memalui ajang silaturahmi dalam acara bebas parkir ini. Acara semacam ini kedepanya akan memberikan dampak positif dan memang harus dilestarikan sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan graffiti itu sendiri.
Semoga dalam ajang bebas parkir ini akan banyak pengetahuan dan pengalaman yang didapat dan dibagikan, sukses selaku untuk pelaku graffiti di kota malang . el graffiti en vivo !!
1 Linton, Ralph. The Study Of Man (Bandung, 1984), 195
2 Kaplan, David – Manners A, Robert. Teori Budaya (Yogyakarta, 2012), 112
