oleh : Dwiki Nugroho Mukti
Kelahiran-kematian, kematian-kelahiran, dan seterus nya merupakan siklus hidup yang berulang dan tak terelakan, namun tidak seharusnya siklus hidup yang sederhana itu hanya dilalui dengan cara yang paling sederhana, pembuktian akan keberadaan saat melalui siklus hidup tersebut akan bisa dibaca melalui sejauh mana ia mampu bertindak untuk menjadikan hidupnya sebagai tapak, tapak yang membuatnya mampu tetap ada melampaui siklus hidup, untuk kemudian akan melewati fase bentuk fisik dan kemudian meluas ke bentuk yang tangible, bentuk sebagai landasan pikir, bentuk sebagai pola pergerakan, dan bentuk yang menjadi tapak akan keberadaan materi yang menegaskan bahwa ia hidup.
Dewasa ini banyak kelompok-kelompok kesenian yang bermunculan, para pelaku seni tentu mulai sadar bahwa peran kelompok kolektif sangat menguntungkan dalam karir kesenimanan, mengapa demikian? Karena dalam sebuah kelompok kolektif idealnya akan menjadi sebuah medan untuk menyerap informasi dari luar untuk kemudian di salurkan ke tiap-tiap anggotanya, berhitung dengan matematika sederhana bahwa semakin banyak anngota sebuah kelompok maka akan semakin banyak informasi yang masuk dan didistribusikan, namun kenyataanya perhitungan yang demikian tidak bisa diterapkan dalam sebuah kelompok, karena semakin banyak anggota suatu kelompok maka akan semakin komplek juga masalah yang timbul dalam kelompok tersebut. Selain distribusi informasi yang diharapkan dalam sebuah kelompok, saling melengkapi kekurangan antara satu dengan yang lain juga menjadi keuntungan dalam berkelompok. Kelompok juga sebagai motifasi untuk orang-orang yang ada di dalamnya mampu saling berkompetisi untuk maju, iklim yang demikian memang harusnya ada di dalam sebuah kelompok untuk kemajuan kelompok itu sendiri.
Beralih ke study kasus jika seorang seniman bekerja sendiri berusaha menyerap informasi sebanyak mungkin seorang diri lalu memproduksi karya,kemudian mendistribusikannya juga, tentu saja hal tersebut masuk akal untuk dilakukan, namun betapa berat pekerjaan seorang seniman dan dengan kemungkinan menang atas pertaruhan yang sangat kecil, saya sangat salut kepada seniman-seniman yang mampu tumbuh secara individu lalu kemudian menjadi besar dengan sendiri pula, bisa kita bayangkan betapa berat pekerjaan yang sudah dilaluinya. Kemungkinan menang seorang seniman dalam pertaruhannya untuk menjadi seniman “sukses” bisa dilipatgandakan dengan berkelompok, karena itu juga dewasa ini semakin banyak seniman-seniman melakukan aktifitas berkelompok dalam prosesnya.
Kita sering menjumpai kelompok-kelompok kesenian menggunakan istilah komunitas, baik kelompok maupun komunitas memiliki arti kata yang tidak jauh berbeda, kelompok memiliki arti ; kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi, sedangkan komunitas menurut Vanina Delobelle; merupakan sarana berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesamaan minat, komunitas dibentuk berdasarkan 4 faktor yaitu: 1.)Keinginan untuk berbagi dan berkomunikasi antar anggota sesuai dengan kesamaan minat, 2.)Basecamp atau wilayah tempat dimana mereka biasa berkumpul, 3.)Berdasarkan kebiasaan dari antar anggota yang selalu hadir, 4.)Adanya orang yang mengambil keputusan atau menentukan segala sesuatunya. Secara sadar atau tidak sadar saat beberapa orang mendeklarasikan diri untuk berkelompok maka orang-orang tersebut akan terikat pada batasan-batasan yang mengikat sebagai kelompok, dan saat batasan yang ada berusaha ditembus, dirubah, atau dihancurkan hal tersebut akan mempengaruhi stabilisasi dari kelompok itu sendiri. Bukan berarti tidak bisa untuk keluar dari patron kelompok, namun untuk bisa melampaui batas itu sendiri dibutuhkan sebuah kesepakatan yang harus dilakuan dengan anggota kelompok yang lain.
NOFLAG TEMPLE adalah kelompok seni yang disepakati oleh beberapa orang seniman muda Malang untuk didirikan, karena memang ada kebutuhan dan visi-misi yang sama. Mereka akan mendeklarasikan kelompoknya pada tanggal 17 Desember bertepatan dengan pameran kelompok mereka yang pertama dengan judul pameran “BREED”, pemilihan judul pameran “BREED” sendiri memilki arti berkembang biak yang dimaknai bahwa kelahiran NOFLAG TEMPLE sebagai proses berjalannya praktek kesenian yang dilakukan oleh anggota kelompok ini, atau bisa dilihat lebih luas lagi sebagai proses berjalannya praktek kesenian di Malang, dimana kelompok ini muncul sebagai penanda, namun untuk menjadi sebuah penanda yang digunakan sebagai titik acu maka NOFLAG TEMPLE harus bekerja keras dan membuktikan keberadaanya melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan nantinya.
Untuk mendirikan sebuah kelompok memang tidak begitu sulit, yang sulit adalah bagaimana untuk mempertahankan sehingga kelompok ini mampu sustain. Banyak kelompok seni yang bermunculan namun banyak juga yang gagal, gagal dalam artian mereka tidak dapat mempertahankan keberadaanya lewat aktivitas-aktivitas berkesenian nya. Banyak kelompok yang muncul lalu mengadakan aktivitas kesenian seperti pameran atau semacamnya, namun hanya berlansung 3 atau 4 kali kemudian kelompok tersebut sudah tidak terdengar kabarnya, ternyata fenomena yang demikian salah satu penyebabnya adalah terlalu terpakunya visi-misi kelompok kepada investasi yang bersifat materil, katakanlah mereka sudah melakukan pameran 3-4 kali namun tidak ada feedback berupa materi kepada mereka, maka mereka akan berfikir bahwa merak tidak mendapat feedback yang diharapkan sehingga untuk melakukan pergerakan yang berikutnya mereka akan kesulitan. Pola kerja kelompok yang demikian erat kaitanya dengan diskursus hawa nafsu, setiap masyarakat yang sistem produksinya berjalan lewat hukum keuntungan, menurut Felix Guattari, cenderung untuk membuat pemisah permanen antara produksi sosial dan produksi hawa nafsu.Yang pertama berkaitan dengan kerja untuk meraup keuntungan, yang kedua berkaitan dengan tindakan individu untuk meraih kepuasan1. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kesulitan materi juga tentunya terjadi karena kelompok-kelompok banyak terbentuk dengan dana kolektif anggotanya, semakin banyak kebutuhan kelompok itu maka semakin banyak juga dana yang harus dikeluarkan untuk menghidupi kelompok tersebut. Namun berapapun jumlahnya nominal yang harus dikeluarkan, saat kelompok tersebut mempunyai visi yang lebih luas dari sekedar pencapaian nilai materil maka pengeluaran yang dilakukan pasti tidak akan terlalu menjadi persoalan serius yang akan menghambat pergerakan dari kelompok itu sendiri, dan semoga NOFLAG TEMPLE juga demikian, memiliki visi yang lebih luas dari sekedar feedback berupa materi.
Proses berkembang biak adalah siklus hidup dari mahluk yang tidak abadi, untuk mengembangkan informasi yang dimiliki agar mampu sampai ke tahap yang berikutnya mahluk hidup mempunyai 2 cara yaitu untuk terus hidup (abadi) dan melakukan pengembangan akan informasi-informasi yang dimilikinya, dan yang kedua adalah berkembang biak (breed), berkembang biak adalah upaya untuk penyampaian informasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentu saja untuk melakukan tahap yang pertama dalam memperlakukan informasi tidak akan bisa terjadi kepada kita manusia, dan tentu saja manusia mempunyai waktu hidup yang tidak bisa ditawar. Dalam pemilihan judul pameran ini memang di fokuskan sebagai inang berkembangnya informasi kesenian dalam lingkup wilayah NOFLAG TEMPLE hidup, harus disadari bahwa kesenian dewasa ini bukan merupakan sesuatu yang sakral namun lebih kepada sesuatu yang empiris, yang bisa dijelaskan secara ilmiah, karena itu seni harus dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang harus disebarluaskan seluas-luasnya agar tidak menjadi sesuatu yang eksklusif dan hanya dimiliki segelintir orang yang menamai dirinya sebagai seniman dan semua yang berada dalam medan nya. “semua orang adalah seniman” ini adalah quote yang pasti sering kita jumpai dan saya setuju dengan quote ini, namun dalam penerapanya tingkat pengetahuan yang dimiliki akan mempengaruhi kadar seni yang diproduksi. Produksi diskursus (yang kritis, historis, dan sebagainya) tentang karya seni adalah satu diantara syarat-syarat produksi karya seni, setiap afirmasi kritis, di satu sisi, mengandung pengakuan terhadap nilai karya yang memancingnya, yang kerenanya di pandang sebagai objek berharga diskursus yang legitim (sebuah pengakuan kadang kala direbut lewat logika arena, seperti ketika, misalnya, polemik pihak dominan memberi satatus partisipan kepada pihak penantang), dan di sisi lain, sebuah afirmasi tentang legitimasinya sendiri2. Maka disinilah peran vital agen-agen kesenian untuk menerapkan seni sebagai pengetahuan agar sensibilitas masyarakat terhadap seni meningkat sehingga pelaku seni dan masyarakat itu sendiri bisa mendapat nilai positif dari kesenian.
Pameran ini adalah langkah awal untuk NOFLAG TEMPLE berjalan, untuk kedepannya semoga NOFLAG TEMPLE bisa menjadi komunitas yang tidak hanya sekedar ada namun juga menjadi sebuah titik penanda.
1Yasraf Amir Piliang, Dunia yang dilipat (Yogyakarta,2004), 148
2Bourdieu Pierre, The Field Of Cultural Production (Bantul, 2010), 13
