WANITA TERBINGKAI

Posted on Posted in News
Spread the love

PAMERAN KELOMPOK

17 MEI – 5 JUNI 2016

di BUMI SURABAYA CITY RESORT

Wanita dengan laki-laki menjadi sesuatu yang saling melengkapi, namun banyak kalangan yang menggangap bahwa wanita lebih inferior, karena ada anggapan yang demikian maka munculah isu emansipasi, dengan tuntutan penyetaraan antara pria dan wanita.

Apakah dewasa ini masih demikian? Saya rasa hal seperti ini akan terus terjadi dimana terdapat masalah yang menyangkut sesuatu yang kodrati,namun gejalanya sudah sangat berkurang sekarang. Berbicara gender menjadi masalah yang kodrati kita tentu sepakat bahwa kita diciptakan dalam dua jenis kelamin yang saling melengkapi yaitu pria dan wanita (tidak dibahas masalah anomali yang terjadi seperti hemaprodit dan sebagainya), kita tidak bisa menyangkal namun dalam perjalanya menjadi seorang pribadi yang benar sebagai wanita, maupun menjadi seorang pribadi yang benar sebagai seorang pria, individu tersebut kan terus mencari dan meniru bentuk-bentuk yang ada di sekitarnya, dan yang menyedihkan adalah belum tentu apa yang ada di sekitar adalah sesuatu yang benar, malah biasa saja menjadi sesuatu yang sangat keliru dan akan menjadikan produk yang dianggap “salah” atas individu.

Sebenarnya dengan kita menyalahkan lingkunganpun hal itu tidak akan menyelesaikan masalah benar atau salah terhadap seorang Individu atas prilakunya, karena ingkungan itu sendiri adalah produk yan dibuat sedikit demi sedikit melalui berbagai peradapan hingga menjadi yang kita temui saat ini.

Kita akan berfokus membahas masalah wanita mengenai kesetaraan yang sudah dia dapatkan hari ini, namun dalam penerapanya memang selalu ada bentuk ketertindasan dalam sudut-sudut persamaan itu sendiri. Maksunya adalah secara konstitusional wanita telah diakui hak nya sama dengan pria namun kiranya masih banyak sekat yang berada di kebanyakan wanita, bahwa dia memiliki porsi tertentu dalam melakukan sesatu dengan alasan dia wanita, alih-alih menjadi sebuah permasalahan ideologis namun malah digunakan sebagai tameng atas bentuk ketidakmampuan, padahal untuk memperjuangkan kesetaraan ini bukanlah yang mudah, seperti Ibu Kartini yang bersusah payah memberi pendidikan pada wanita agar mereka bisa lebih dihargai.

Kita dilahirkan dalam keadaan kosong tanpa mengetahui sesuatu apapun, namun kemudian kita dibentuk oleh lingkungan sedemikian rupa. Berbicara perihal wanita, wanitapun dibentuk demikian dia dibatasi oleh ide-ide menggenai wanita yang baik oleh sekitarnya, alhasil ia akan menjadi produk dengan batas evolusi,tapi tentu saja ada yang berhasil keluar dari batas itu dan benar-benar muncul menjadi wanita yang tidak mempersalahkan gender atas segala pekerjaannya, dia akan berlaku profesional sebagai seorang manusia. Batas takar pengahargaan melaui gender harus dikikis lebih dan lebih lagi.

………

Dalam ranah seni rupa atau lebih spesifik lagi di ranah seni lukis, banyak wanita hebat yang mampu muncul dan menjadi tokoh di dalamnya,  meskipun bukan sebuah pergerakan yang massive namun apa yang dilakukan oleh wanita-wanita ini diharapkan mampu menjadi pemantik untuk wanita-wanita yang lain untuk berani memulai menunjukan potensi yang dimilikinya tanpa harus menunggu, saat ia hanya menunggu maka ia akan tertinggal satu putaran dunia, dan bila ia terus menunggu ia akan selalu tertinggal putaran dunia.

Dengan semakin banyaknya pameran yang digagas dan dilakukan oleh wanita semoga kedepanya jumlah wanita yang malkukakn aktifitas seni rupa semakin bertambah dan turut meramaikan seni rupa sebagai pelaku bukan hanya sebagai apresiator saja.

image

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *