Latar Belakang
Dalam rangka peningkatan mutu terhadap perkembangan Seni di lingkup akademi Universitas Negeri Surabaya perlu adanya iklim yang sehat salah satunya bisa dilakukan dengan kompetisi. Servis di selenggarakan berlatar belakang ingin membuat iklim persaingan yang sehat yang akhirnya mampu membuat iklim seni di universitas surabaya lebih dinamis.
Dengan adanya kompetisi sebagai pengakomodir yang memberikan penghargaan terhadap pelaku-pelaku kesenian di Universitas Negeri Surabaya diharapkan semakin tercipta iklim kompetitif yang dimanis untuk kemajuan kekaryaan mahasiswa.
Servis pernah di laksanakan sebelumnya pada 2014, tentu saja saat pelaksaannya mendapat antusiasme yang cukup meriah terhitung dari banyaknya peserta, maka dari itu untuk terus menghidupkan iklim kompetitif yang dinamis di tahun ini kami mahasiswa SRDG ingin melanjutkan progam kompetisi Servis.
Bentuk acara
Kegitan servis akan berupa kompetisi dengan durasi 2 hari mulai tanggal 17-18 mei, penjurian 19 mei, kemudian hasil pemenang 1,2,3 di tiap-tiap kategori akan di umumkan pada 20 mei dan dipamerkan di /sandiolo selama satu minggu mulai tanggal 20-27 mei 2016.
Kategori lomba
– Mahasiswa terkeren
– Sketsa
– Komik strip
– Konseptual art
– Foto
– Puisi
– Cerita mini
PENINGKATAN MUTU AKAR RUMPUT

Kritik saran terhadap Servis vol.2dan Universitas Negeri Surabaya
SERVIS vol.2 | MANUSIA DUNIA DIGITAL
PENINGKATAN MUTU AKAR RUMPUT
Oleh : Dwiki Nugroho Mukti
Dalam rangka peningkatan mutu aktvitas kesenian dalam kontesks karya maupun proses di Universitas Negeri Surabaya maka beberapa mahasiswa dengan di motori oleh Candra P.W, Khairus Samhan, Kiyoro Putro, Yanuar Lek, Kharisma Adi mahasiswa PSR 2013 mengadakan sebuah kompetisi yang bernama SERVIS.
Servis sendiri merupakan kompetisi yang sebelumnya juga pernah dilakukan pada tahun 2014 kemudian diteruskan pada 2016 ini, format servis adalah lomba dengan memperebutkan penghargaan dan hadian dari kategori kategori yang dilombakan, kategori yang dilombakan antara lain; Mahasiswa terkeren, sketsa, komik, fotografi, seni konseptual, cerita mini, dan puisi. Meskipun yang menyelengarakan adalah mahasiswa srdg (seni rupa dan desain grafis) namun skala lombanya di luaskan dalam skup Universitas Negeri Surabaya, sehingga seluruh warga unesa yang tercatat sebagai mahasiswa dapat menggikuti.
Dalam paragraf pertama ada sebuah kalimat “dalam rangka peningkatan mutu aktifitas kesenian di Universitas Negeri Surabaya” lantas mengapa perlu adanya peingkatan mutu keseniann di lingkup kampus? Atau mungkin pola kesenian di Universitas Negeri Surabaya tidak bermutu?, tentu saja tidak begitu, harus ada barometer untuk dapat menyebut mutu saat ini baik atau buruk. Taruhlah saat ini kita membicarakan tentang kualitas karya mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, hal ini menjadi penting karena di Universitas Negeri Surabaya memiliki fakultas Bahasa dan Seni dan didalamnya terdapat banyak prodi yang berkaitan dengan seni atau sastra, contohnya; Pendidikan Seni Rupa, Seni Murni, Seni Musik, Seni Tari, Teater, Desain Grafis, Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Indonesia, Sastra Ingris, dan beberapa prodi lainya yang berkaitan dengan bahasa dan seni.
Kita akan sedikit meraba bagaimana “kualitas” peserta didik dalam tolak ukur seni melalui SERVIS, sangat menarik kiranya untuk mengetahui seberapa jauh bentukan mahasiswa yang ada di Universitas Negeri Surabaya yang nantinya setelah lulus akan penjadi distributor seni entah itu menjadi pelaku secara praktis, ataupun menjadi penggajar yang tentu saja memiliki tugas lebih berat lagi karena harus mendistribusikan pengetahuan seni dengan baik dan benar + aktual, toh tidak mungkin bagi seorang guru untuk dapat menjelaskan mengenai seni dengan baik dan benar bila hanya mendapatkan materinya dari buku saja, harus selalu ada aktualisasi sebagai bentuk kompetensi distributor seni.
Dalam tulisan ini saya akan melaporkan kepada pembaca apa saja yang menjadi temuan saya saat penyelengaraan acara SERVIS. Perlu ada kritik mengenai apa yang saya jumpai disini, karena negativitas merupakan modus keterlibatan kritis dalam budaya dominan1.
Pertama
kurangnya pemahaman terhadap pengertian dasar, pengertian dasar terhadap salah satu kategori yang dilombakan yaitu sketsa, hal ini tidak menjadi masalah saat yang melakukan kekeliruan adalah mahasiswa non seni rupa, karena bisa kita sadari mereka tidak mendapatkan materi tentang hal tersebut, namun saat mayoritas yang melakukan kesalahan adalah mahasiswa seni rupa tentu saja hal ini sangat menganggu menurut saya, dan harus dibicarakan panjang lebar, dan yang perlu diketahui lagi para peserta lomba adalah mahasiswa mulai angkatan 2012 sampai 2015 tentu saja seharusnya mereka sudah menerima materi sketsa.
Yang salah dari beberapa peserta yang mengikuti lomba dalam kategori sketsa adalah mereka tidak membuat sketsa untuk kategori sketsa mereka membuat gambar ilustrasi, dan fatalnya itu pahami sebagai sketsa oleh para peserta kategori sketsa. Perlu sedikit diluruskan pengertian sketsa adalah memindahkan objek dengan goresan, arsiran ataupun warna dengan tujuan baik sebagai rancangan maupun karya yang dapat berdiri sendiri (selesai, biasanya sketsa hanya dibuat secara “ringan” dengan mengunakan bahan yang mudah seperti pensil, tintan atau pen2. Sketsa yang ditujuka sebagai tahap awal dalam pembuatan karya maupun menjadi sebuah karya selesai dalam bentuk akhirnya tetap akan terlihat “ringan”, tidak menggunakan teknik dengan kerumitan tertentu karena nanti karya tersebut tidak pihami sebagai sketsa lagi namun cenderung menjadi sebuah karya ilustrasi. Pemilihan teknik gambar yang banyak digunakan oleh peserta tidak merujuk pada sketsa sama sekali karena melihat isi gambar yang dibuat hal tersebut tidak memenuhi unsur bahwa ia sebuah sketsa, malah membuat karya tersebut menjadi sebuah karya ilustrasi.
Bagaimana pengertian dasar seperti inibisa terlewatkan? Angap saja mereka yang tidak mengerti adalah mahasiswa “nakal” yang tidak pernah mendengarkan saat diberi materi dalam perkuliahan, tapi hampir semua para peserta kategori sketsa berakhir membuat karya ilustrasi, lalu apakah mereka semua mahasiswa “nakal”, saya rasa tentu tidak demikian. Mari kita permasalahkan hal ini lebih jauh lagi menggenai proses belajar di kelas saat materi tersebut gagal untuk diterima oleh mahasiswa maka ada beberapa indikator yang patut dipertanyakan.
1.) Apa atitude para peserta didik yang jelek, dalam artian menjadi mahasiswa “nakal” tidak mau mendengarkan materi yang diberikan oleh penggajar.
2.) Apakah sumber daya yang jelek, sehingga sangat sulit untukdapat menyerap mata kuliah dengan baik.
3.) Penyampaian materi yang gagap dari para penggajar sehingga materi sangat sulit untuk dipahami.
Itu tiga pint yang menjadi indikator, variabel saya ambil hanya dari sisi peserta didik dan pengajarnya saja, sebenarnya bila diluaskan lagi akan ada faktor lain seperti apakah kondisi kelas untuk melajar mengajar sudah cukup nyaman, dan banyak hal lagi.
Dalam tulisan ini saya tidak akan menyimpulkan sesuatu, saya hanya akan sekedar menuliskan mengenai hal yang saya tangkap melalui penyelengaraan SERVIS. Indikator pertama yang menyebutkan jeleknya atitude peserta didik dengan tidak mau mendengarkan materi mungkin saja hal tersebut terjadi tapi tentu tidak terjadi dalam skala mayoritas, saat itu hanya 30% dari peserta yang tidak mampu membuat sketsa alih-alih membuat ilustrasi saya masih akan bisa menyimpulkan seperti itu “oh mungkin mereka yang salah, saat dikelas tidak mau mendengarkan” namun saat ini yang mengalami kesalahan hampir 95% dari peserta SERVIS kategori sketsa, kiranya tidak relevan jika hanya permasalahnya dari sisi ini.
Selanjutnya sember daya yang jelek, maksudnya karena peserta didik memang tidak mampu untuk menyerap materi yang di ajarkan. Tapi seketika pernytaan ini akan gugur menggingat betapa ketatnya tes untuk masuk perguruan tinggi negeri, ada beberapa bentu dan pola tes yang dilakukan untuk menyaring peserta didik yang berkualitas. Mungkin akan beda lagi bila yang bermasalah adalah proses penyaringanya sehingga yang lolos adalah orang-orang yang tidak berkopeten, namun kita tidak perlu membicaran hal ini karena akan terlampau jauh.
Yang terkahir adalah penyampaian materi yang gagap oleh pegajar, hal ini menjadi masuk akal menggingat prosentasi peserta yang melakukan kesalahan. Bila hal ini terjadi tentunya akan sangat fatal, karena pengertian-pengertian dasar merupan pondasi untuk melakukan proses seni ke tahap yang selanjutnya, saya tidak berusaha menyudutkan pengajar atau siapapun disini, tetapi bila saja apa yang saya sampaikan benar merupakan akar permasalahnya tentu harus segera diperbaiki. Saya juga merupak alumni Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya saya akan berusa bercerita sedikit mengenai proses yang saya alami, dalam mata kuliah sktesa kami semua dijelaskan lalu diberikan tugas untuk melakukan sketsa dalam jumlah yang tidak sedikit, tapi memang saat pemberian materi mengenai apa itu sketsa saya rasa diberikan secara tidak tuntas, dalam artian tidak menjadi sebuah penekanan yang harus dipahami terlebih dahulu namun disegerakan untuk berpraktek, memang tidak semua tertarik untuk memahami secara lanjut memang lebih menyenangkan untuk langsung berpraktek, tapi hal itu sendiri akan mengurangi esensi dari praktek yang dilakukan saat pengertian akan apa yang kita kerjakan belum dapat dipahami dengan benar.
Kedua
Bentuk apresiasi yang sangat kurang, bentuk apresiasi dari mahasiswa maupun dari para penggajar juga sangat kurang. Mengetahui kondisi di Universitas Negeri Surabaya bahwa kurang adanya acara-acara untuk menghidupi pola kesenian disana maka beberapa dari mahasiswa sepakat untuk membuat sebuah acara untuk memeriahkan ekosistem seni di kampus, namun tidak begitu mendapat tanggapan yang bagus dari mahasiswa unesa sendiri. Mungkin salah satu faktor adalah panitia secara terburu-buru untuk membuat acara tanpa melakukan publikasi yang kurang sehingga apriasiator yang berminatpun sedikit, namun saya akan sedikit membela SERVIS bahwa paling tidak di kelas seni rupa maupun desain grafis sudah ada agen-agen yang di serahi tugas untuk mendistribusikan informasi kepada teman satu kelasnya, namun pada akhirnya tetap saja peserta tidak terlalu banyak seperti apa yang panitia cita-citakan. Selain ini mungkin juga karena iklim seni di unesa yang dibentuk terlalu tinggi padahal tidak menyasar tinggi sama sekali, tinggi yang saya maksud adalah para pelaku seni di Universitas Negeri Surabaya hanya tahu pola-pola kesenian yang mainstrem seperti melakukan pameran digaleri, melakukan pertunjukan pertunjukan digedung pertunjukan dan lain sabagainya, hanya ada beberapa yang mampu keluar dari kungkungan pola pikir demikian. Saat yang diketahui hanya pola-pola seni yang demikian maka tentu saja bentuk apresiasi terdapad aktifitas diluar itu sanggat kurang, padahal perlu diketahuai bahwa bentuk-bentuk kesenian dewasa ini sudah sangat berkembang dan tidak melulu mengikuti pola yang demikian, pola gerak harus ditekankan bahwa pola gerak yang berkembang adalah sesuatu yang liar, nakal, atau bila diarahkan serius maka harus dilakukan seserius mungkin.
Ketiga
Kekurangan selanjutnya adalah lembaga mahasiswa atau biasa disebut dengan HIMA (himpunan mahasiswa), kita tahu bahwa lembaga tersebut dibuat untuk mengakomodasi kegiatan mahasiswa, memberi dukungan atau semacamnya. Lembaga ini dicita-citakan dengan baik meskipun tidak dijalankan dengan baik, program SERVIS ini telah di ajukan untuk dilaksanakan mulai awal tahun ini (2016) namun yang ada hanya janji-janji untuk merealisasikanya, wah kenapa pola kerja lembaga yang skala kampus sudah seperti ini, hanya memberikan janji, tentu hal ini hal yang salah yang harus dibenahi. Harusnya ada sebuah ketegasan karena ide untuk melakukan acara ini adalah bukan berasal dari dalam lembaga melainkan dari mahasiswa yang bukan merupakan anggota Hima, harusnya Hima sendiri memiliki sikap untuk bisa membantu atau tidak dalam pelaksaan acara ini, karena bila hanya janji, time schedule yang sudah ditetapkan terhadap acara SERVIS ini akan berantakan dan itu sudah terjadi.
Saya mengapresiasi bahwa pada akhirnya Hima memberikan bantuan untuk keberlangsungan acara, dan semoga bentuk kerja sama yang demikian bisa terus dibangun. Saran untuk pengurus hima maupun dosen pembimbingnya, harusnya acara acara yang diadakan hima tidak usah diharusnya menjadi acara besar ataupun acara dengan format kaku (pameran galeri), harusnya banyak acara skala kecil yang dilakukan sebulan sekali agar ekosistem seni lebih baik lagi, bila pada akhirnya ada acara besar yang harus diselengarakan itu maka para pesertanya adalah mereka merka yang telah ditempa melalui banyak acara kecil yang diselengarakan, tentunya kualitas akan jauh lebik baik dan lebih baik lagi.
