POLITIC ISSUE BETWEEN ART MOVEMENT

Posted on Posted in Journal, News
Spread the love
Oleh : Dwiki Nugroho M.

Kebijakan yang diatas namakan masyarakat atau skup yang lebih luas dibebankan pada pungung-pungung pion kecil untuk ketercapaianya, jebakan dengan nama kebijakan akan menjadi penyakit laten bagi kebudayaan dan pada akhirnya memimpin kehancuran atas sebuah peradapan. Mereka adalah tunggal yang disamarkan, mereka dipakaikan kulit yang cerah serta kemeja warna putih sehingga semua kebohongan serta caci yang dikeluarkan akan terdengar indah serta membuai, dan menjadi candu yang merusak. Yang menakutkan adalah kesemuanya ditujukan  untuk mengguasai, karena hukum yang berlaku dibuat oleh sekumpulan orang-orang yang haus untuk memonopoli, mereka lemah namun berani untuk berbuat picik dan kongsi.
Sebelum adanya batasan-batasan yang dibuat untuk segelintir kepentingan, secara intuitif manusia menerapkan hukum rimba, hukum yang keras namun setidaknya adil untuk manusia yang jujur. Namun dengan segala daya saat mereka mulai berfikir untuk memonopoli, hukum rimba di arahkan pada gambaran yang sangat tidak manusiawi dan  bar-bar, dimana orang-orang terhormat yang mampu membuat gambaran akan hukum rimba ini akan menjadi pengemudi handal atas semua kepentingan dan semua keuntungan untuk diarahkan pada diri dan kelompoknya.
Saat terlihat tatanan sudah tidak berjalan semestinya, dibentuk dan diatur sesuai kepentingan suatu golongan harus ada pahlawan yang sangup menjadi tumbal atas dirinya, untuk sekedar menyadarkan atau ikut memikul beban dari masyarakat dan lingkungan yang menjadi korban. Pada pendekatanya pahlawan bisa menjadi siapa atau apapun namun saat ini akan muncul pertanyaan siapakah yang mau dan mampu menjadi pahlawan yang sekiranya siap untuk dihancurkan.

As artist
Kesenian mungkin bisa menjadi pahlawan, dan oase ditengah dahaga akan kebenaran melalui pergerakan seni yang berani,  di dalam seni rupa indonesia pernah mencatat adanya suatu sikap heroisme kultural yang dicatat sejarah pada tahun 1950-an, sekelompok seniman, beberapa sastrawan, dan budayawan pernah berikrar yang diantaranya bahwa “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kami teruskan dengan cara kami sendiri”, tersirat bahwa sebagai insan kreatif seniman memiliki daya untuk meneruskan sebuah kebudayaan, mengancurkan, melestarikan ataupun mengubah total sebuah kebudayaan, entah itu baik ataupun buruk, tentunya akan sangat sulit karena ‘Kebudayaan bukan hanya sebuah cara hidup, melainkan seluruh cara hidup seseorang, dari lahir hingga mati, dari pagi hingga malam, bahkan juga dalam mimpi’1, tapi agaknya yang menjadi fokus adalah bagaimana membongkar budaya yang buruk dan korup kemudian mengubahnya menjadi suatu tabiat yang baik, maka seniman akan mampu melakukan sebuah perubahan dengan cara nya sendiri, dengan gaya yang khas seorang seniman.
Dalam menjadi seseorang yang memberi pengaruh terhadap perubahan sekitar, pergerakan seniman secara umum dapat digolongan menjadi dua, yang pertama adalah merespon sebuah peristiwa dan menjadikanya besar, atau membuat peristiwanya sendiri untuk dijadikan besar dan memiliki dampak untuk sekitar. Pergerakan yang dilakukan oleh Taufik Monyong adalah sebuah pergerakan yang dilakukan dengan pola merespon sebuah peristiwa kemudian meledakanya dengan kencang, pergerakan yang dilakukan terwakilkan dalam aksi performent art dan kesenirupaanya, aksi performent art yang dilakukan oleh Taufik adalah ditujukan untuk merespon sebuah peristiwa dalam aksi demonstrasi, penjelasan mengenai performent art dan korelasinya dalam demonstrasi dijelaskan dalam buku Themes in contempoarary art ; although the word ‘perfomance’ is now a generic reference for presentational art, artist (especially in the 1950 and 1960) proposed many different labels to discribe their performance pratice : ‘happening’, demonstrations, rituals and ceremonial ; body, event, action, live and destruction art – to name just few 2. Dalam melakukanya aksinya Taufik biasa membaur dengan demonstran lain ataupun melakukan aksinya sendirian, selanjutnya peristiwa yang dituju di respon dengan aksi khas-nya saat berdemo yaitu dengan melakukan performent art untuk menuntut keadilan atas mereka yang menjadi korban.
Aksi yang pernah dilakukanya antara lain pada awal tahun 2015 dengan aksinya yang berjudul ‘Tahun Tangkap Koruptor’ ia melakukan aksi di taman apsari dengan tinggal didalam jeruji dari bambu selama 3 hari 3 malam, untuk menuntut di adilinya para koruptor. Aksinya yang lain adalah merespon kasus bank century pada tahun 2010, dan banyak lagi aksi-aksi lain yang dilakukan mulai tahun 1995.
Sebagai seorang seniman dengan major study seni rupa Taufik banyak melakukan eksperiment pada karya-karya rupa, dia banyak bermain-main dalam tema politik sosial didalam karyanya, Taufik mampu memvisualisasikan gejala sosial yang sedang terjadi menurut sudut pandangnya dan dengan leluasa mengoreskan buah pikirnya tersebut secara ekspresif di atas kanvas atau media lain yang digunakanya. Ia secara militan terus melakukan aksi perfoment art dan berkarya rupa, karena ia meyakini bahwa aksi dan karya yang dilakukan akan mampu memberikan dampak pada gejala sosial dan isu-isu politik yang sedang berlangsung, menjadi bentuk nyata perlawanan nya atas penyelewengan sistem yang terjadi. Slavoj Zizek seorang critical theoris yang berasal dari Slovenia berpendapat bahwa how to built transnational politically movement and institution strong enough to seriously constain the unlimited rule of capital and render visible and politically relevant 3. Dan pergerakan dalam bentuk performance art dan rupa yang dilakukan taufik adalah sebuah pergerakan secara garis besar searah dengan apa yang dilontarkan oleh Zizek, sebuah pergerakan yang masuk akal untuk dilakukan namun mampu memberikan dampak positif untuk perkembangan isu sosial dan politik yang berlangsung.
Dalam pameran tunggal kali ini taufik menggangkat tema ‘Dunia tanpa konspirasi’ dengan menampilkan 30 karya rupa, karya rupa yang tampilkan taufik antara lain : Kekuasaan laut selatan, Pertarungan sang jendral, Berawal dari mimpi, Tahun malaikat kambing, Sensasi khayangan, Sang pembisik ibu, Harmoni, Sila satu, Berebut bintang, Sawungaling, Cita cita anak indonesia, Kejayaan pencinta,Penegakan hukum, Beban sang brengos, Lokalisasi doli tutup, Malaikat monyong, Semar gareng petruk bagong, Pembisik provokator, Gak jadi bintang 4,Menanggung beban pemimpin, Berita radio bohong, Perasaan yang indah, Istana pemimpi, Duka baju kotak, Mengebom kuruptor, Gantung koruptor. Karya rupa taufik kali ini banyak di visualkan dengan warna-warna yang cerah dengan bentuk figur khas yang digoreskan dengan gaya ekpresif dengan pemberian garis-garis hitam yang tegas, taufik banyak memasukkan propaganda mengenai apa yang terjadi saat ini, secara sekilas bila dilihat dari judulnya kita akan banyak menemukan muatan sosial dan politis yang  terkandung  di dalam lukisanya. Bila pada zaman perang saudara di spanyol di visualkan oleh Miro dengan karya-karya still life-nya dimana ia menggambarkan sepasang sepatu sebagai perlambangan kegundahanya atas perang yang berkecamuk, maka isu sosial politik yang terjadi di negeri ini digambarkan dengan figur-figur naive, dan garis-garis ekspresif khas taufik.
Karya-karya taufik adalah jenis karya lukis yang mengarah pada aliran ekpresionis dan dikemas dengan bentuk bentuk naif. Is that called gestural painter, concerned in different way with spontaneous and unique touch of the artist, his or her “handwriting”, and the emphatic texture of the paint it include such major artist as pollock, willem de kooning, and franz klik 4, dengan gesture karya yang khas di tiap karyanya taufik menyuguhkan sebuah ilustrasi mengenai peristiwa yang terjadi, menceritakan kegundahan-kegundahan yang selalu menggangu dirinya mengenai gejala sosial politik yang terjadi, taufik meng aktualisasikan sebuah suasana yang dirasakanya dan kemudian didistorsikan dan dituangkan dalam goresan ekpresif. Dengan goresan-nya yang ekpresif akan didapat sebuah bentuk-bentuk naif karakter khas taufik, karakter gambar yang di sampaikan dengan warna-warna cerah, yang terlihat begitu lepas namun juga sangat ritmis. Konklusi dari karya yang dibuat taufik adalah seperti apa yang dilontarkan oleh Harold Rosenberg mengenai aliran ekpresionisme yaitu ‘what was go on canvas not picture but and event’.
…..
Dalam misinya sebagai seorang seniman yang melakukan suatu pergerakan sosial maka karya-karya yang ia buat, yang ia ceritakan adalah sebuah bentuk penangung jawaban atas pergerakan yang dilakukanya, sehingga harus dibagi dalam sebuah pemeran yang nantinya akan menjadi forum atas pergerakan-nya.
Semoga karya-karya disampaikan serta pergerakan yang dilakukan oleh taufik mampu menjadi sebuah kekuatan yang memiliki dampak positif terhadap isu sosial dan politik yang terjadi hari ini atau dimassa mendatang. Semoga ia tetap mampu bersuara lantang sebagai seorang seniman yang mencintai masyarakat, mencintai lingkungan , serta mencintai tanah airnya.

 

1 T.S Eliot. Notes toward the definition of culture (London,1948), 31
2 Perry, Gill – Wood, Paul. Themes in Contemporary Art (London,20014), 188
3 Perry, Gill – Wood, Paul. Themes in Contemporary Art (London,20014), 306
4 Anason, H.H – Mansfield, C. Elizabeth. History of modern art (London,2012),435

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *