
Pada tanggal 8-10 januari 2016 di gedung utama komplek balai pemuda Surabaya, diselengarakan pameran tugas akhir mahasiswa Pend. Seni Rupa 2012 Universitas Negeri Surabaya. Pameran ini merupakan pameran wajib yang harus dilaksanakan sebagai salah satu tugas untuk menempuh mata kuliah.
Pameran ini terbagi menjadi 3 segmen, yaitu : seni murni, desain grafis, dan seni kriya. Sangat menarik kiranya melihat berbagai bentuk terapan seni yang dipamerkan didalam, namun yang terlihat lebih menonjol dan mencuri perhatian saya adalah karya-karya seni murni, dan 2 segmen yang lain seperti karya dari desain grafis dan seni kriya hanya berkutat pada bentuk yang sama tiap tahunya tanpa ada sebuah perkembangan yang signifikan.
Saat masuk kedalam ruang pamer kita akan di bertemu dengan karya-karya murni, yang mana murni itu terbagi menjadi beberapa bentuk karya lagi, yaitu seni lukis, intermedia, patung. Karya-karya murni yang ditampilkan oleh mahasiswa Pend. Seni rupa 2012 ini sangat beragam dan variatif, mengapa demikian karena dalam karya-karya lukis yang dipamerkan banyak yang menggunakan media-media non konvensional sebagai medium lukisnya, namun banyak juga yang terjebak dalam batas-batas kata “lukis” sehingga penggunaan media kurang optimal, alhasil yang di dapati adalah mereka memperlakuan media non kanvas seperti halnya kanvas, hanya memindahkan objek terhadap media, tetapi kiranya untuk berani keluar dan menggunakan media-media non kanvas perlu di apresiasi atas keberanianya.

karya : Didik Prasetyo “sisi lain sebuah lab sekolah”

karya : Lail Lafi Iliyun “kebutuhan wanita”
Kemudian selanjutnya adalah 2 karya intermedia yang ditampilkan kesemuanya saya rasa sangat menarik, karena mereka dengan berani memadukan bentuk visual dengan sound scape, atau menampilkan audio visual yang dikemas dalam display yang ditata sedemikian rupa.

karya : M. Rizky Darmawan “kudeta”

karya : Firmansyah Ardiawan “cencorshit”
Terakhir adalah karya patung, namun saya rasa di karya patung masih belum memiliki sesuatu yang membuat karya tersebut menarik dari segi bentuk ataupun konsep.
Di bagian kedua adalah karya-karya desain grafis, karya-karya desain grafis yang ditampilkan menarik namun saya tidak mendapati sesuatu yang berani bermain nakal, semua bermain-main di zona aman bentuk-bentuk desain grafis. Begitupula dengan karya-karya kriya, karya-karya kriya yang ditampilkan masih berkutat pada bentuk-bentuk “tradisonal”, dan bentuk-bentuk yang sangat membosankan, saya rasa karena karya-karya seni kriya dari tahun ke tahun yang terjadi di sini adalah bentuk yang secara turun-temurun di gunakan terus-menerus tanpa ada pengembangan yang signifikan, sehingga bentuk yang didapati kurang menarik. Mungkin dalam bentuk karya dari desain grafis dan kriya perlu ditambahkan referensi-referensi yang sangat “nakal” agar karya-karya kedepanya terlihat lebih progresif. (dnm)
