MENITI PAWITRA

Posted on Posted in News
Spread the love

Judul pameran : Meniti Pawitra
Tempat : Galeri House of Sampoerna (Surabaya)
Waktu : 12 agustus – 3 september 2016
Seniman : Komunitas Bolo Kulon
Kurator : Zuhriyan Zakariya

Pada tanggal 12 agustus 2016 di galeri House of Sampoerna digelar pembukaan pameran dengan judul “Meniti Pawitra”, pameran ini di inisiasi oleh 10 seniman komunitas Bolo Kulon dari Pasuruan diantaranya adalah; Achmad Toriq, Afif AF, Agung Prabowo, Hafidz Ramadhan S, Hasan Saiyudin, Karyono, M. Medik,  Nofi Sucipto, Toni Ja’far, Yunizar Mursyidi, dan dikuratori oleh Zuhriyan Zakariya.

Pameran ini sangat menggembirakan dan menjadi angin segar terhadap bagaimana proses pola kerja seni rupa untuk Jawa Timur khususnya, bila dirunut dari proses hingga hasil akhir yang disajikan melaui karya kita akan menyadari adanya pola yang sangat sehat dalam penggarapanya, sehat yang dimaksud disini adalah adanya metode intepretasi terhadap tema melalui pendalan yang dilakukan melalui riset langsung ke tempat munculnya tema yang di angkat dalam pameran kali ini.Tema meniti pawitra sendiri adalah tema yang diambil untuk merespon Gunung Penangungan sebagai situs sejarah dari agama Islam, Hindu, dan Budha yang tentu saja erat kaitanya dengan kerajaan Majapahit, kerajaan yang dalam kisah menjadi salah satu kerjaan yang sangat makmur. Gunung Penangungan sendiri merupakan salah satu tempat yang menjadi pusat aktifitas kerjaan majapahit maka dari itu banyak ditemukan situs-situs sejarah disana. Hal ini juga adalah yang melatar belakakngi kenapa kemudian Bolo Kulon merespon Gunung Penangungan untuk kemudian dijadikan sebagai tajuk pameran.


Beberapa bulan sebelum pameran ini berlangsung saya sudah mendapat kabar akan diselenggarakanya pameran ini, dan untuk pendalaman dalam pembuatan karya seniman yang terlibat diwajibkan untuk bersama-sama ke Gunung penangungan untuk secara langsung menggali apa yang ada disana mencari sebuah temuan untuk kemudian di presentasikan dalam karya yang akan dipamerkan. Proses itu tidak hanya terjadi sekali namun beberapa kali dilakukan memang untuk tujuan agar seniman mampu menangkap sesutu hal yang menurut mereka menarik lalu di bahasa kan lewat karya.

Kiranya pola yang demikian adalah pola yang ideal dilakukan untuk memaparkan sebuah tema, jadi tema yang ada tidak terkesan hanya sebagai benang merah dari karya-karya seniman yang terlibat tapi juga memang menjadi landasar dasar dari karya-karya yang dibuat oleh para perupa.Sajian hasil akhir karya-karya seniman juga sangat menarik, berbagai gaya dan bentuk digunakan oleh seniman untuk mepresentasikan temuan perupa, seperti karya Hafidz dengan karya instalasinya yang bernuansa sangat spiritual, lalu karya Nofi Sucipto dengan karya lukisnya yaang menggunakan warna cerah serta pemilihan objek yang actual dengan ciri khasnya di mampu memunculkan Pawitra melalui versinya, kemudian ada juga penampilan artefak dan karya interaktif yang menggajak apresiator untuk menggambar gunung pada bidang yang sudah ditentukan.

Alur yang dibanggun berdasarkan tema sangat menarik meskipun pembentukan narasi masih kurang begitu kuat namun secara keselurahan visual dari karya sudah mampu berbicara banyak menggenai tema itu sendiri. Tapi menjadi catatan saya bahwa narasi yang disajikan kurang karena harusnya ada sebuah panduan teks yang dapat menggiring apresiator untuk dapat menikmati karya secara lebih mendalam sebagai bentuk kesadaran bahwa apresiator yang hadir bukan hanya dai kalangan yang mampu membaca visual dengan baik.(dnm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *