ARTS, TECHNOLOGY AND ARTIST AS A CULTURAL TRANSISTOR

Posted on Posted in News
Spread the love

EXHIBITION TITLE : Novart 2017 | Seni dan teknologi

CURATOR : Dwiki Nugroho Mukti

ARTIST : Benny Wicaksono, Zuhkhriyan Zakariya, Zalfa Robby, Yuan Alfansa, Ahmad Marwan Hadid, Rizka Azizah Hayati, Candra Pras, Blorok Project, Imanullah NA, DKV Stikom Surabaya, Figo Dimas, M. Reza Rizky Nazarudin, Febri Ari & Wahyu Aji, Deny Renanda Putra, Lavinia AS & Nadira AS, Ariel Muhammad Zein, Muhammad Aziz M, Alfian Setya, Muhammad Nur Ikhsan, Emiliano Karisma Tardifiasto, Fandi Ahmad Fajar, Anang Tsani, Rizky Eka S, Insan Scout, Akbar Warisqianto, Danang Triwahono, Benediktus Widiarinantaka, Ayax, Helmi Zuhdi, Raisa Hajar Matahati, Bagas Cahya W, Ageng Lucky, Febryanda Wahyu Ramdhany & Muthi Azizah, Dymas Nanda S, Bambang Purwanto & Devid Khoirur R, Cakra Magazine & Moch Rizki Nugroho, Adji Jamal Wicaksono, Mohamad Suyuti, Gara (Liu) Hidayat & Franciscus Xaverius, Alvin Cahya, Vlavac Art Division, Karimatus Saadah , Alif Sukma M.

EXHIBITION DURATION : 2- 4 November 2017

LOCATION : Gedung Sasana Krida, Univ. Negeri Malang

 

SENI, TEKNOLOGI, DAN SENIMAN SEBAGAI TRANSISTOR KEBUDAYAAN

Oleh : Dwiki Nugroho Mukti

Seni menjadi hal yang mengarah kepada esensi rasa, seniman memproduksi karya dengan cara yang unik, mengunakan daya imajinatif, kontemplatif, sehingga karya akan memiliki nilai filosifis yang mendalam. Meskipun tujuannya sama tapi cara untuk memproduksinya tidak selalu sama, atau bahkan terus berkembang sesuai dengan zaman nya, seniman mampu merespon hal-hal yang ada disekitarnya untuk dijadikan sumber ide dari penciptaan sebuah karya.

Beralih untuk membicarakan apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa yang mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi. Teknologi menjadi salah atu faktor bagaimana pesatnya perubahan yang terjadi sekarang ini, teknologi adalah alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, manusia terus menggali untuk dapat menemukan alat yang dapat membantunya lebih dan lebih lagi, membuat usaha yang dikeluarkan lebih sedikit namun menghasilkan hasil yang lebih banyak, kurang lebih beginilah gambaran teknologi.

Bila diartikan secara sederhana maka kita akan mendapati bahwa teknologi menjadi buah kreasi manusia dengan pendekatan logis untuk mempermudah pekerjaanya. Sedangkan seni adalah buah kreasi manusia dengan pendekatan rasa. Pembedanya menjadi jelas dimana teknologi dengan pendekatan logika dan nilai fungsionalnya, sedangkan seni sebagai diciptakan dengan pendekatan rasan dengan berbagai makna filosofis yang terkandung didalamnya.

Namun untuk dewasa ini, sekat yang dijelaskan diberikan sebagai arti menjadi kabur antara seni dan teknologi. Penjelasan dalam paragraf sebelumnya menjadi nisbih, menjadi tidak berarti apapun, karena kaburnya batasan tersebut. Dewasa ini setelah teknologi diciptakaan untuk memenuhi kebutuhan primernya, maka kebutuhan muncul berbagai kebutuhan sekunder untuk teknologi tersebut agar dapat lebih diterima. Salah satunya adalah memasukkan unsur-unsur keindahan dalam teknologi tersebut, seperti dengan desain yang manarik, atau penambahan ornamen-ornamen. Hal ini ditujukan untuk mencuri perhatian dan akhirnya teknologi ini dapat diterima dengan baik. Tentu saja ini adalah efek dari pola industrialisasi yang terjadi, sehingga benda yang memiliki fungsi tertentu harus ditambahi dengan pelegkap sekunder atau bahkan tersier untuk dapat diterima dan dikonsumsi. Sudut pandang pemaparan dari kalimat sebelumnya adalah dimana teknologi memerlukan sentuhan seni. Lantas apa yang terjadi sebaliknya ? dalam pembuatan karya seni dengan menggunakan teknologi.


Seniman mengunakan teknologi sebagai medium untuk dijadikan sebagai bagian dari karya, atau bahkan teknologi yang ada di modifikasi sedemikian rupa sehingga menjadikanya sebuah karya seni.

“As collage technique replaced oil paint, the cathode ray tube will replace the canvas. Someday artists will work with capacitors, resistors, and semiconductors as they work today with brushes, violins and junk. There are 4,000,000 dots per second on one television screen, just think of the variety of images you can get. It’s so cool. It’s like going to the moon.”.1

Kalimat di atas adalah kalimat yang di lontarkan oleh Nam June Paik, apa yang di ucapkan oleh Nam June Paik menjadi hal yang memang terjadi saat ini, dimana seniman bekerja dengan medium-medium berbasis teknologi seperti halnya seniman bekerja menggunakan kuas, dan ini bukan menjadi suatu hal yang mengejutkan, karena memang teknologi tersebut sangat dekat dengan seniman.

Seniman memilki cara pandang berbeda dalam penggunaan teknologi, atau bahkan tafsir yang unik terhadap fungsi. Penelusaran awal yang bisa didapati pada fotografi dimulai pada abad ke 18 saat kamera ditemukan, alat foto awalnya dibuat sebagai alat untuk dapat mengabadikan momen yang terjadi, bila sebelumya manusia menggunakan lukisan untuk mengabadikan momen, dan teknologi (kamera) digunakan untuk memutakhirkanya, namun setelah muncul teknologi fotografi dengan fungsi yang jelas, seniman menginterpretasikan alat fotografi sedemikian rupa, sehingga kita bisa mendapati karya fotografi yang sangat kental nuansa seninya, entah dari cara pengambilan gambar, objek yang diambil, atu hal-hal lain yang bersifat ekperimental dalam dalam praktik penggunaan kamera. Setelahnya lebih banyak lagi teknolohi yang digunakan untuk keperluan seni.

Karya seni memang tidak memiliki batasan medium untuk membuatnya dewasa ini, tanpa sebuah medium pun karya juga dapat dibuat dewasa ini, seperti karya yang hanya bebentuk gagasan, saat seniman mampu mempertanggung jawabkanya sebagai karya seni, maka apa yang dia buat akan sah menjadi sebuah karya seni. Kehidupan sehari-hari manusia dewasa ini, sangat tidak bisa dilepaskan dari penggunaan teknologi, seperti televisi, kompor gas, mesin cuci, handphone, dan banyak lagi yang lain. Ini lah yang membuat seniman untuk berkarya menggunakan teknologi, karena teknologi  fcmenjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.


Yang menjadi tantangan bagi seniman adalah seberapa jauh mereka mampu menangkap gejala yang terjadi di sekitarnya, terkait bagaimana teknologi sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Di Dalam era mikroelektronika, objek tidak lagi sekedar perpanjangan tangan manusia seperti dikatakan McLuhan, tetapi kini merupakan ekspresi langsung dari diri manusia, menjadi diri manusia – semacam cyborg 2. Kemudian dapatkah seniman menjadi transistor gejala-gejala yang terjadi disekitarnya melalui karya yang dibuatnya, ataukan seniman hanya harus berkutat dalam ranah estetis sembari terus tenggelam dalam lautan teknologi yang di gunakan tiap hari.

1 Quote diambil dari laman https://en.wikiquote.org/wiki/Nam_June_Paik

2 Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Berlari (Yogyakarta, 2004), 264

————————–eng————————————————————————————–

ARTS, TECHNOLOGY AND ARTIST AS A CULTURAL TRANSISTOR
Art becomes a thing that leads to the essence of taste, the artist produces the work in a unique way, using imaginative, contemplative so that the work will have deep philosophical value. Although the goal is the same the way to produce it is not always the same, or even growing in accordance with its era, the artist is able to respond to the things around him to be the source of ideas from the creation of a work.

Toggle to talk about what is happening now, and what affects the changes that occur. Technology is one of the factors of how rapidly the changes are happening right now, technology is a tool to simplify human work, humans keep digging to find tools that can help it more and more, making fewer efforts but producing more results, less this is more the picture of technology.


Simply understood, we will find that technology is the fruit of human creation with a logical approach to facilitate its work. While art is the fruit of human creation with a sensing approach. Differentiation becomes clear where technology with its logical approach and functional value, while art as created with a sensing approach with various philosophical meanings contained.

But for the present, the limits described are given as meaning to be blurred between art and technology. The explanation in the preceding paragraph becomes relative, meaningless, because of the blurring of that boundary. Nowadays after the technology is created to meet its primary needs, the need arises a variety of secondary needs for the technology to be more acceptable. One of them is to incorporate the elements of beauty in the technology, such as with the attractive design, or the addition of ornaments. This is aimed at stealing the attention and finally, this technology is well received. Of course, this is the effect of the industrialization pattern that occurs, so that objects that have certain functions must be added with secondary or even tertiary to be acceptable and consumable. The exposure point of the previous sentence is where the technology requires a touch of art. So what happens otherwise? in making artwork using technology.


Artists use technology as a medium to serve as part of a work or even technology that is modified in such a way as to make it a work of art.

“As collage technique replaced oil paint, the cathode ray tube will replace the canvas. Someday artists will work with capacitors, resistors, and semiconductors as they work today with brushes, violins and junk. There are 4,000,000 dots per second on one television screen, just think of the variety of images you can get. It’s so cool. It’s like going to the moon.”.1

The above sentence is the phrase that Nam Nam Paik puts forward, what Nam June Paik says is the thing that is happening right now, where artists work with technology-based mediums just like artists work using brushes, and this does not become a which is surprising because the technology is very close to the artist.

Artists have different perspectives on the use of technology or even a unique interpretation of the function. The initial exploration that can be found in photography began in the 18th century when cameras were invented, a photo tool was originally created as a means to immortalize the moment, if before man used painting to capture the moment, and technology (camera) was used to update it, photography technology with a clear function, artists interpret photographic tools in such a way that we can find photography that is very thick art nuances, whether from shooting, the object was taken or other things that are experimental in the practice of using the camera. After that more technology used for art purposes.

Artwork does not have the limits of medium to make it today, without a medium of work can also be made today, like a work that only takes the form of an idea, when the artist is able to account for it as a work of art, then what he makes will legitimately become a work of art . Everyday human life today, very cannot be separated from the use of technology, such as television, gas stove, washing machine, mobile phone, and many others. This is what makes the artist work using technology because technology becomes a part of daily life.

The challenge for artists is how far they are able to capture the surrounding phenomena, as to how technology has become an integral part of life. In the era of microelectronics, the object is no longer just an extension of the human hand as McLuhan says, but now it is a direct expression of the human self, becoming a human being – a kind of cyborg 2. Can artists transistor the symptoms around him through his work, artists only have to dwell in the realm of aesthetics while continuing to sink into the ocean of technology that is in use every day.

 

1 Quote taken from  https://en.wikiquote.org/wiki/Nam_June_Paik

2 Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Berlari (Yogyakarta, 2004), 264

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *