SIMBIOSIS ANTARA PENDIDIKAN DAN SENI RUPA

Posted on Posted in Journal, News
Spread the love

Essay Curatorial

SIMBIOSIS ANTARA PENDIDIKAN DAN SENI RUPA

oleh : Dwiki Nugroho Mukti

Pendidikan adalah hal fundamental untuk membangun sebuah generasi. Dengan pendidikan  diharapkan generasi yang akan datang siap menjadi peminpin-pemimpin yang cemerlang. Pengaharapan yang baik tentunya harus disertai dengan upaya yang baik pula, bila berbicara pendidikan dengan segala cita-cita baik yang diingini, adalah tugas pendidik dan semua pihak yang terkait untuk melakukan usaha keras, menjadikan pendidikan sebagai pintu untuk generasi mendatang untuk dapat mengetahui, mengakses, dan mengenggam dunia, atau bahkan terlebih lagi dapat membawa kebaikan untuk sekitarnya.

Menyoal dunia pendidikan dan seni rupa, dan seberapa jauh hubungan saling menguntungkan yang terjadi. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan 2 pembacaan melalui sudut pandang seni rupa dan pendidikan.

Dari Sudut Pandang Seni Rupa

Pembacaan dari sudut pandang seni rupa, seni rupa menjadi keilmuaan yang perkembanganya sangat bergantung pada dunia pendidikan, mungkin ada yang berangapan bahwa banyak perupa yang tidak muncul dari dunia akademis atau pendidikan, seperti halnya perupa otodidak, perupa yang belajar dari sekitar, dari pelukis lain, atau cara lain, yang mana cara tersebut tidak ada kaitan nya dengan pendidikan kesenirupaan formal, namun harus dimengerti bahwa dunia seni rupa tidak dapat hanya dibangun dengan karya kuat yang lahir dari para seniman, tapi dunia seni rupa juga sangat tergantung pada pewacanaan, tergantung pada banyak aspek yang mampu landasannya untuk bertumpu seperti apresiator. Apresiator adalah bagian penting dalam ekosistem seni rupa, dan disini pendidikan berperan sebagai kontributor untuk menciptakan apresiator-apresitor yang mampu mengerti mengenai karya seni, sehingga karya seni yang diproduksi oleh seniman tidak menjadi karya yang hanya dapat dimengerti oleh si perupa nya saja, namun apresiator yang baik dapat membentuk bentuk apresiasi terhadapa karya, sehingga dapat memunculkan kesempatan-kesempatan berikutnya bagi para perupa. Seperti ditulis Hilton Kramer dalam New York Times untuk obituari Herbet Read pada 1968, Read menggangap seni sebagai “unsur yang paling mungkin paling pokok bagi jalinan sosial yang tercerahkan (enlightened social fabric)…suatu dasar bagi upaya untuk memperbaiki nilai-nilai sosial secara keseluruhan” dan dalam upaya itu “pendidikan memiliki peran utama”.1

Dewasa ini banyak seniman yang selalu membuat karya secara konseptual, dengan gagasan yang kuat perihal permasalah yang ada disekitarnya, karya yang dibuat bertindak sebagai media untuk mengkritisi, atau bahkan karya sebagai medium untuk melakukan penggalian lebih lanjut terhadap dirinya. Pola yang seperti ini mengharuskan untuk apresiator dapat menangkap apa yang dimaksudkan perupa, untuk dapat menikmati karya seniman dengan baik. Bayangkan saja bila tidak adanya bantuk pembelajaran yang menggenali hal tersebut, tentu saja perupa-perupa yang membuat karya dengan pola kerja seperti yang saya sebutkan di awal paragraf akan sangat berat untuk karyanya dapat diterima dan mendapatkan apresiasi lebih, dan bisa saja medan seni rupa akan menjadi sangat kering karena karya yang ada hanya sebatas bentuk visual yang melulu dinikmati melalui sisi estetisnya saja. Perlu disadari bahwa dunia seni rupa saat ini tidak dapat disamakan dengan dunia seni rupa pada zaman mooi indie 2, dimana karya seni rupa dibuat semanis mungkin, dilihat sebagai sesuatu yang indah dan dapat mencuri perhatian apresiator, dan pada akhirnya bantuk apresiasi yang terjadi hanya sekedar apresiasi yang bersifat estetis, meskipun tidak semua seperti itu, namun kebanyakan bentuk apresiasi terhadap karya pada zaman mooi indie memang seperti itu. Dunia seni rupa saat ini sudah sangat berbeda, apresiasinya tidak hanya dari sisi estetisnya namun banyak hal yang membuat karya itu dapat mencuri perhatian, seperti konsep yang ditawarkan, tujuan dari karya itu dibuat, dan banyak lagi alasan yang tidak hanya berkutat pada masalah estetis.

Bagi senimanya sendiri pendidikan menjadi sebuah pintu untuk kesempatan-kesempatan berbagai karya eksperimental yang dapat dipertanggung jawabkan secara tepat. Tentu saja seniman memiliki cara pandang yang unik terhadap sebuah masalah yang terjadi, bisa saja sudut pandang yang dimiliki sangat bertolak belakang dengan orang-orang pada umumnya. Dalam menyampaikan apa yang menjadi keresahanya dalam medium kanvas, betuk 3 dimensi, atau berbagai bentuk dan jenis lainya, perupa dapat saja memilih untuk membuah bentuk visual yang tidak menganut kesepakan penandaan yang ada di masyarakat, namun ia memilih untuk menyimbolkan menggunakan simbol-simbol yang sangat personal. Namun dengan pendekatan-pendekatan akdemik karya-karya yang demikian akan dapat di urai sehingga dapat menjadi hal yang mengguntungkan bagi seniman. Karyanya bukan diangap sebagai sesuatu yang membingungkan namun akan dipandang sebagai ke khasan yang sangat unik dari seniman.

Pendidikan adalah kontruksi untuk dapat terciptanya orang-orang yang mampu menjadi perupa hebat, yang membuat karya sebagai bentuk menifestasi pengetahuan, dan karya-karya hebat yang dapat dipertanggung jawabkan dengan baik, sehingga akan terjalin sinergi yang baik atara perupa-karya-medan seni. Selain konstruksi orang-orang yang mampu menjadi perupa hebat, pendidikan menjadi sebuah kontruksi untuk munculnya apresiator yang mampu menangkap maksud dan tujuan akan karya-karya yang dibuat tidak hanya sebagai produk, tapi sebagai manifestasi pengetahuan yang dapat memperi dampak untuk sekitarnya.


dokumentasi budidayabaik

Dari Sudut Pandang Pendidikan

Seni rupa dapat menjadi sebuah alternatif untuk bagaimana proses pendidikan berlangsung, untuk membuat proses belajar menjadi lebih menarik, dengan menambahkan instrumen-instrumen visual ke dalam nya. Proses belajar sering kali menjadi sangat membosankan saat kita hanya dituntut untuk paham terhadap sebuah materi, dan pada akhirnya materi tersebut akan di ujikan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman kita terhadapnya.

Belajar adalah kemajuan moral karena merupakan asketisisme, mengurai egoisme dan memperluas konsepsi kita tentang kebenaran, juga memberikan visi yang lebih dalam, lebih tajam, dan lebih bijak tentang dunia. Apa yang harus diajarkandi sekolah, yakni memeberi perhatian dan mengejarkan semuanya dengan benar. Kekuatan kreatif memerlukan kemampuan ini. Studi intelektual dan ketrampiln menghasilkan kualitas kesadaran baru, ke dalam presepsi, dan kemampuan mengamati. Semuanya mengubah keinginan, gerak naruliah keinginan dan keengganan kita. Memberi perhatian berarti peduli, yakni belajar untuk belajar.3

Fungsi seni sebagai media dapat disisipkan, dan digunakan agar pencapain dari pola belajar tidak hanya berkutat pada bentuk yang membosankan, namun menjadi sebuah proses yang menarik dan dapat lebih membuat peserta didik menjadi kreatif. Selain untuk menjadi kreatif penambahan penambahan unsur seni dapat pula digunakan sebagai stimulus agar pencapainya dari peserta didik tidak hanya tingkat pemahaman, tetapi lebih dari itu peserta didik mampu menjadi manusia yang paham terhadap situasi sekitarnya.

Di sisi lain guru sebagai orang yang berperan menciptakan situasi di dalam kelas. Guru menginginkan anak didiknya merasa bahwa guru mereka menarik, memberikan rangsangan, dapat dipercaya, membantu melihat diri mereka sendiri dan dunia dengan cara baru dan lebih luas, memenuhi kebutuhan mereka akan pengalaman baru yang melampaui keseharian.4 Dengan adanya keinginan yang seperti ini otomatis guru harus melakukan inovasi dalam menciptakan situasi kelas yang ideal dan sesuai dengan siswanya, bukan hanya siswa yang harus menyesuaikan diri dengan gurunya, atau harus menyesuaikan diri dengan segala metode ajar yang diberikan gurunya. Namun guru juga harus memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan dirinya dengan kelas.

Pendekatan yang menarik untuk menciptakan situasi dalam kelas agar menyenangkan adalah dengan berbagai kegiatan, dan seni rupa dapat menjadi salah satu alternatif yang memungkinkan untuk diaplikasikan terhadap kegiatan belajar dikelas.

………..


dokumentasi budidayabaik

Pemerintah memiliki banyak program di bawah kementrian pendidikan dan kebudayaan untuk menjadikan pendidikan mejadi seperti apa yang di cita-citakan, salah satu program yang di gagas adalah SM3T, detail dari program ini adalah untuk mengirim para sarjana pendidikan untuk mengajar di daerah terluar dan tertinggal, mereka yang mengikuti program ini harus menunaikan kewajibanya untuk mengajar di daerah pelosok selama kurang lebih satu tahun. Hingga tahun ini program ini sudah berjalan 6 tahun, Pemerintah menyadari bahwa terjadi ketidakmerataan pendidikan di Indonesia menjadi penghambat kemajuan bangsa, banyak daerah yang pendidikan nya sangat jauh tertingal, tertinggal dari segi sarana, prasarana, sumber daya pengajar, ataupun hal-hal lainya yang menjadikan pendidikan sulit untuk dilaksanakan dengan ideal.

Pameran pendidikan yang digagas oleh kawan-kawan SM3T angkatan ke-5 bidang seni rupa yang berasal dari berbagai Universitas di Indonesia, para alumnus SM3T angkatan ke-5 ini ingin membagi pengalam yang mereka dapatkan selama mereka berjuang menjadi guru di pedalaman dengan fasilitas yang alakadarnya. Yang ingin di bagiakan adalah bagaimana mereka belajar beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan setempat dan meramunya dengan materi seni rupa yang harus di ajarkan, dan belajar bersama dengan siswa, tentu ini buka soal yang mudah. Belajar berarti membuat segala sesuatu yang kita jawab menjadi hakikat-hakikat yang selalu menunjukan dirinya sendiri pada kita setiap saat…mengajar lebih sulit dari pada belajar karena apa yang dituntut dari belajar:membiarkan belajar.5 Bagaimana proses ini berlangsung akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga, dan pengalaman inilah yang ingin dimunculkan dan dirangkai dalam sebuah pameran.

Dalam pameran ini tema yang dibicarakan adalah mengenai masa depan seni rupa Indonesia, mengapa begitu jauh membicarakan masa depan seni rupa Indonesia, jelas ini sangat berhubungan karena yang berpameran ini adalah calon-calon guru seni rupa, guru inilah yang nantinya akan mengarahkan bagaimana generasi selajutnya dapat memahami seni dengan baik, terlebih lagi bila mampu mengunakan seni sebagai metode yang dapat menyejahterakan. Karya seni untuk dapat diterima dengan baik, maka penerimnya harus baik pula, agar terjadi titik simpul antara seniman dan apresiator terkait bagaimana karya itu dipahami. Untuk menumbuhkan aprsiator yang baik, sebagai pupuk dalam ekosistem seni rupa, maka peran guru menjadi sangat penting, meskipun tidak semuanya harus dibebankan pada guru.

Karya yang akan dipamerkan akan menjadi cerminan bagaimana mereka akan membangun generasi selanjutnya melalui seni rupa, dan juga apa yang sudah mereka pelajari selama berada di daerah yang sulit untuk melakukan pengajaran, namun mereka dengan susah payah dapat menyelesaikan tugasnya, pengalaman inilah nantinya akan disarig dan dipadatkan dalam bentuk karya sebagai rujukan bagaimana pendidikan dapat terjadi didaerah yang berada di pedalaman, agar masa depan pendidikan atau dalam kerangka seni rupa nantinya menjadi sebuah sektor yang lebih menjajikan tidak hanya untuk pelaku namun juga untuk masyarakat lebih luas lagi.

…………….

 

1Hilton Kramer, New York Times, 30 June 1968, section II, hlm. 23.

2Mooi indie yang dalam bahasa Indonesia berarti hindia molek atau Indonesia jelita adalah cara pandang seorang seniman terhadap karya seni lukis yang menampilkan atau menggambarkan keindahan alam yang ada di hindia belanda(sebutan bagi Negara jajahan belanda) atau Indonesia.

Istilah mooi indie muncul sekitar tahun 1920 sampai dengan 1938-an.

3Irish Murdoch, Metaphysics as a Guide to Morals (London: Chatto & Windus, 1992), hlm. 179.

4Sarason, Teaching as a Performance Art, op. cit., hlm. 6.

5What is Called Thingking?, diterjemahkan J. Gray (London: Harper & Row, 1968), hlm. 14-15.

———————————————-eng————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Essay Curatorial

SIMBIOSIS BETWEEN EDUCATION AND VISUAL ART

by : Dwiki Nugroho Mukti

Education is fundamental to building a generation. With an education, we expected future generations ready to become brilliant leaders. A good hope must be accompanied by good efforts too, when it comes to education with all dream that we desired, it is the duty of educators and all parties concerned to make great efforts, make education become a gateway for future generations to be able to know, access, and hold the world, or even more so to spread goodness around.

Questioning the world of education and fine arts, and how far the mutually beneficial relationship takes place. In this article, I’ll describe two explaination through the viewpoint of art and education.

From the point of view of fine arts

The reading from the point of view of fine arts, the art of becoming a science whose development depended heavily on the world of education, there may be a thought that many artists do not emerge from the academic or educational world, as self-taught artists, artists who learn from around, from other painters, or other ways, in which way it has nothing to do with formal artistic education, but it must be understood that the world of art can not only be built with powerful artworks born from the artists, but the art world also depends on discourse, depending on many aspects that are capable of its foundation for such as appreciator. Appreciator is an important part of the art ecosystem, and here education serves as a contributor to create appreciator who is able to understand about the artwork, so the artwork produced by the artist does not become an artwork that can only be understood by the artist, but the appreciator can form a form of appreciation of the artwork, so that it can bring up the next opportunities for the artists. As Hilton Kramer wrote in the New York Times for the Herbet Read obituary of 1968, Read sees the arts as “the most likely element important for enlightened social fabric … a basis for an attempt to improve social values overall “and in that effort” education has a major role “.1

Nowadays many artists always make conceptual works, with strong ideas about the problems around them, works that are made to act as media to criticize, or even work as a medium for the further digging of themselves. Such a pattern requires that the appreciator capture what the artist means, in order to enjoy the artist artworks well. Just imagine if there is no learning beliefs that recognize it, of course artists who create works with the pattern of work as I mentioned at the beginning of the paragraph will be very hard for his work to accept and get more appreciation, and could be the fine art field will be very dry because the work is only limited to the visual form that is merely enjoyed through the aesthetic side only. It should be realized that the world of art today cannot be equated with the world of art in the era of mooi indie 2, where artworks made as sweet as possible, seen as something beautiful and can steal the attention of appreciator, and in the end form of appreciation that happened just merely appreciation which is aesthetic, though not all that way, but most of the forms of appreciation of works in the mooi indie era are like that. The world of art today is very different, the appreciation not only from the aesthetic side but many things that make the work can steal the attention, such as the concept offered, the purpose of the work was made, and many more reasons that not only dwell on aesthetic problems.


dokumentasi budidayabaik

Education for the artist himself becomes a door to opportunities for a variety of experimental work that can be justified as appropriate. Of course, artists have a unique perspective on a problem that occurs, it could be that the viewpoint is very contrary to the people in general. In conveying what he feels in the medium of canvas, three-dimensional, or various forms and other types, the artist may choose to produce a visual form that does not embrace the existing symbol in society, but he chooses to symbolize using very personal symbols. However, with such academic approaches, such works can be described so that they can be of benefit to the artist. His work is not regarded as confusing but will be regarded as to the unique features of the artist.

Education is the construction to create people who are able to become great artists, who make works as a form of manifesting knowledge, and masterpiece artworks that can be properly accounted so that there will be a good synergy between artists-artwork-art fields. In addition to the construction of people who are able to become great artists, education becomes a construction for the emergence of an appreciator who is able to grasp the intent and purpose of works created not only as a product but as a manifestation of knowledge that can impact the surrounding.

From the point of view of Education

Visual art can be an alternative to the educational process, to make learning more interesting, by adding visual instruments to it. The learning process often becomes very tedious when we are only required to understand a material, and ultimately the material will be tested to find out how far our understanding of it.

Learning is a moral advance because it is asceticism, breaking down egoism and expanding our conception of truth, also giving a deeper, sharper, and wiser vision of the world. What to teach in the school, which is to pay attention and pursue everything correctly. Creative power requires this ability. Intellectual and skillful studies produce a new quality of consciousness, into perception, and observing ability. Everything changes our desires, our narrative moves of desire and our reluctance. Paying attention means caring, that is learning to learn.3

The function of art as a medium can be inserted, and used for the achievement of the learning pattern not only dwells on the boring form but becomes an interesting process and can make students more creative. In addition to being a creative addition of additional elements of art can also be used as a stimulus for the achievement of learners not only the level of understanding, but more than that learners are able to become human beings who understand the surrounding situation.


dokumentasi budidayabaik

On the other hand the teacher as a person who plays a role in creating the situation in the classroom. Teachers want their students to feel that their teachers are interesting, stimulating, trustworthy, helping them see themselves and the world in a new and broader way, meeting their need for new experiences that transcend daily.4 With this desire automatically teachers must innovate in creating ideal classroom situations and suited to his students, not just students who have to adapt to their teachers, or have to adapt to all the teaching methods given by their teachers. But the teacher must also have the flexibility to adapt to the class.

An interesting approach to creating a classroom situation to be fun is with a variety of activities, and visual art can be one possible alternative to apply to classroom learning

…………

The government has many programs under the ministries of education and culture to make education what it is like to be, one of the programs that is SM3T, the detail of the program is to send educational scholars to teach in the outermost and backward areas, who follow this program must fulfill their obligation to teach in remote areas for approximately one year. Until this year the program has been running for six years, the Government realizes that the inequality of education in Indonesia is an obstacle to the progress of the nation, many areas whose education is very far behind, left behind in terms of facilities, infrastructure, teaching resources, or other things that make education is difficult to implement ideally.

The educational exhibition which was initiated by the fifth generation of SM3T visual art major from various universities in Indonesia, the 5th generation of SM3T wants to share the experience they get as they struggle to become teachers in the interior with its awkward facilities. What they want to share is how they learn to adapt to the local culture and customs and blend it with art material that should be taught, and learning together with students, this is an easy problem. Learning means making everything that we answer into the essence that always shows itself to us at all times … teaching is harder than learning because of what it requires from learning: to let learning.5 How this process takes place will be an experience that very valuable, and this experience that wants to be raised and assembled in an exhibition.


dokumentasi budidayabaik

In this exhibition the theme discussed is about the future of Indonesian art, why is it so far talked about the future of Indonesian art, obviously it is very related because the exhibition participant is the candidates of art teachers, this teacher will direct how the next generation can understand the art well, especially if able to use art as a method that can prosper. Artwork to be well received, then the recipient must be good too, in order to occur the point of the knot between artist and appreciator related how the work was understood. To cultivate a good appreciator, as a fertilizer in the fine art ecosystem, the role of the teacher becomes very important, although not all of it must be charged to the teacher.

The work to be exhibited will be a reflection of how they will build the next generation through art, as well as what they have learned while in a difficult area to teach, yet they can painstakingly accomplish their tasks, this experience will be sought and solidified in the form of works as a reference to how education can take place in rural areas, so that the future of education or in the framework of fine art will become a sector that is more promising not only for the perpetrators but also for the wider community.

…………….

 

1 Hilton Kramer, New York Times, 30 June 1968, section II, page. 23.

2 Mooi indie which in Indonesian means beauty hindia or beauty Indonesia is an artist’s way of looking at paintings that show or depict the natural beauty that exists in hindia Belanda ( the name for Dutch colony country) or Indonesia.

The term indie mooi appeared around the years 1920 until the 1938s.

3 Irish Murdoch, Metaphysics as a Guide to Morals (London: Chatto & Windus, 1992), page. 179.

4 Sarason, Teaching as a Performance Art, op. cit., page. 6.

5 What is Called Thingking?, diterjemahkan J. Gray (London: Harper & Row, 1968), page. 14-15.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *