SADAP | Sandiolo Residency Program – vol.1

Posted on Posted in 2016, News
Spread the love

Sandiolo Residency Program | vol.1

Sandiolo sebagai ruang alternative tempat berkegiatan seni rupa di Surabaya menginisisasi program residency, program yang mendatangkan seniman dari beberapa kota di Indonesia untuk kemudian melakukan riset sebagai dasar karya yang akan dipresentasikan dalam bentuk pameran di /Sandiolo. Sangat menarik untuk tau apa yang menjadi temuan seniman residency selama di Surabaya, mungkin ada sebuah pepatah yang menjadi dasar dilaksakanya program ini “gajah di pelupuk mata tak tampak, namun semut di sebrang pulau tampak”, sebagai orang surabaya yang hidup di Surabaya biasanya akan banyak melewatkan detil-detil isu yang sebenarnya menarik, namun karena menjadi rutinitas maka nilainya akan menjadi berkurang, atau malah kita tidak sadar akan hal tersebut. Dengan menggundang seniman dari luar kota diharapkan karya-karya yang dibuat nantinya akan memberikan sebuah sudut pandang baru, menghadirkan kota surabaya melaui sudut pandang mereka, sehingga apresiator akan dapat di rangsang kepekaanya terhadap hal-hal yang terjadi disekitar mereka.

Tema dalam program residency ini adalah ‘Surabaya dan Ramadhan’, pemilihan tema disesuaikan dengan waktu ketika mereka melakukan program residency. Selain karena bertepan dengan bulan ramadhan alasan lain pemilihan tema ‘Surabaya dan Ramadhan’ adalah karena disaat ramadhan tentunya akan banyak terjadi fenomena yang menarik untuk di respon dijadikan sebuah karya, dengan kondisi letak geografis yang berada di daerah dataran rendah, banyaknya etnis yang tinggal di surabaya, surabaya sebagai kota industri, kiranya faktor-faktor ini bisa menjadi indikator pembeda Ramadhan di Surabaya dengan kota-kota lainya.

Program residency yang pertama ini dilakukan bersama 4 seniman yang berasal dari Aceh, Banyuwangi, Medan, dan Surabaya. Ke empat seniman ini selama sebulan akan melakukan riset dan bertempat tinggal di /Sandiolo selama kurang lebih 1 bulan, selanjutnya presentasi karya mereka akan dipamerkan setelah hari raya Idul Fitri, lingkup penelitian mereka adalah Surabaya dan Bulan Puasa, maka dari itu waktu mereka melakukan program residensi adalah selama bulan puasa, mereka akan melakukan riset untuk mendapatkan temuan-temuan mengenai 2 bahasan tersebut.

 

Waktu

Durasi : 1 juni – 26 juli 2016

Proses : 1 juni – 23 juni 2016

Presentasi 1 : 8 juni 2016

Presentasi 2 : 16 juni 2016

Pameran : 18 juli -26 juli 2016

 

Tempat

Riset karya : Surabaya

Presentasi : /SANDIOLO (Jl. Gempol Balas Klumprik no.1, wiyung, Surabaya 60222), DKJT ( Komplek Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Genteng Kulon no.7, Surabaya)

Pameran : /SANDIOLO (Jl. Gempol Balas Klumprik no.1, wiyung, Surabaya 60222)

https://www.google.com/maps/search/sandiolo+space/@-7.3263288,112.6454284,12z/data=!3m1!4b1


 

PENGANTAR KURATORIAL

Baca Surabaya Saat Puasa

Oleh : Dwiki Nugroho Mukti

 

Menggulik aktifitas puasa yang terjadi di surabaya tentu kita akan mendapatkan banyak hal  yang sangat menarik mulai pola ngabuburit, kuliner, ibadah, dan banyak juga aktifitas kesenian. Dalam prakteknya,di aktifitas yang terjadi selama bulan ramadhan kita akan berasumsi bahwa Surabaya memiliki pola aktifitas yang berbeda dari kota-kota lainya berdasarkan teritorinya, namun apakah hal itu benar-benar kita jumpai?, atau malah sebenarnya pola aktifitas selama ramdhan di surabaya sama saja dengan kota-kota yang lain dan tidak ada perbedaan sama sekali, ambilah contoh ragam takjil yang tersedia di surabaya setiap bulan ramdha akan ada takjil berupa kolak namun di kota-kota lainya kolak juga ada, kemudian setiap menjelang buka puasa akan ada aktfitas ngabuburit untuk menghabiskan waktu menunggu saat berbuka dan tentu saja di kota lainya juga terdapat aktifitas demikian. Perlu adanya perbandingan yang menjadikan dasar kita dapat menyimpulkan bahwa pola aktifitas yang terjadi di surabaya memiliki perbedaan dengan kota-kota lainya, bukan sekedar asumsi berdasarkan penggalaman yang belum terbukti.

Dalam program residency yang diselengaran oleh SANDIOLO menggundang seniman untuk merespon pola aktifitas yang terjadi selama ramdhan, sebenarnya tidak ada tujuan untuk menyimpulkan pola aktifitas selama bulan ramdhan di surabaya apakah berbeda atau sama dengan kota lain, namun temuan yang didapati oleh seniman yang menggikuti program di SANDIOLO ini akan merepresentasikan temuan mereka selama di surbaya dan akan membawa apresiatornya untuk memiliki kesimpulan mereka sendiri terhadap pola aktifitas ramadhan di surabaya.

Lantas apa perlunya untuk tau pola aktifitas selama ramadhan melalui presentasi karya seniman?, toh hal ini sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang urgent. Bila dianggap bukan merupakan sesuatu hal yang urgent bisa dibilang demikian ini bukan sesuatu yang sangat mendesak, namun di sisi lain presentasi karya terhadap temuan selama ramadhan yang akan dilakukan oleh seniman menjadi penting karena membawa data hasil temuan mereka, memunculkan hal-hal yang unik selama bulan ramadhan disurabaya yang sangat menarik untuk diketahui, mungkin selama ini kita sudah tahu namun karena terlampau dekat dengan kita maka kita tidak terlalu menghiraukanya dan cenderung menggabaikannya, saat kita dibawa untuk tahu dan peduli lewat sudut pandang seniman yang menggikuti program residency terhadap pola aktifitas ramadhan di Surabaya selain menjadi sajian karya yang bernilai estetis namun juga akan menjadi pemaparan yang bermuatan pengetahuan dan tentu saja bernilai positif dan bermanfaat jika kita mampu mencerna dengan baik.

Karya-karya yang dipresentasikan oleh seniman yang menggikuti program residency ini sangat beragam, tidak hanya hanya menjadi pemaparan hasil akhir karya namun proses kan juga dipaparkan agar karya mampu diserap sebaik mungkin sebagai pengetahuan yang bermanfaat.


 

Seniman

 

Aceh

Nama                   : Fadhlul Hadi

Alamat                 : Jl. Medan-B. Aceh, Kec. Syamtalira Bayu,

 Aceh Utara

 

Fadhlul Hadi adalah seorang graphic designer yang berasal dari aceh, dia berfokus pengolahan simbol-simbol visual pada karya yang dihasilkan, yang aplikatif seperti logo, maskot, dan sebagainya. Disini kami menantang Fadhlul untuk melakukan rebranding terhadap temuan nya selama disurabaya, mempermainkan bentuk visual, dan menulis ulang maknanya.

………………………………………………………………………………………………..

Judul                : KILL THE TIME

Media              : Mural di tembok, instalasi objek

Ukuran            : 4 x 2,5 m

Tahun              : 2016

Pemetaan terhadap aktifitas ngabuburit disurabaya akan di sajikan oleh fadhlul hadi, ia memaparkan bahwa pola ngabuburit di surabaya  benar-benar menyebar dan tidak memiliki klasifikasi khusus untuk menjadi tempat ngabuburit, namun biasanya aktifitas ini dilakukan secara berkelompok dan masing-masing kelompok memiliki kecenderungan tersendiri dalam memilih tempatnya untuk ngabuburit. Karena memang semua tempat bisa digunakan sebagai tempat ngabuburit maka fadhlul hadi memilih untuk hanya membatasi pemetaan tempat ngabuburit yang dilakukan di taman-taman surabaya, perlu diketahui juga bahwa taman kota menjadi tempat yang homogen, tempat berkumpulnya berbagai kelompok, dan tentu saja menjadi salah satu tempat favorit untuk berkumpul, jumlah taman di surabaya sangat banyak dan terawat dengan baik. Meski taman merupakan tempat berkumpul berbagai kelompok dalam bulan ramadhan kelompok-kelompok yang melakukan aktifitas ngabuburitnya memiliki tempat yang menjadi favorit mereka untuk melakukan ngabuburit. Hal ini akan dipetakan dan kemudian si seniman akan membuat icon sebagai penanda bahwa taman ‘A’ digunakan kelompok apa saja untuk melakukan aktifitas ngabuburitnya, begitu juga kelompok ‘B’, ‘C’, dan seterusnya.

 

Banyuwangi

Nama                   : Ariestyan Putra

Alamat                 : Dsn. Sidomulyo rt.001/rw.002 Gitik, Rogojampi,

 Banyuwangi

 

Putra merupakan seniman dari banyuwangi yang tidak hanya berfokus pada seni rupa dalam karya-karya yang dibuat, namun ia juga berfokus pada musik, dan satra. Saat ini Putro aktif terhitung sebagai mahasiswa aktif universitas negeri malang dengan jurusan yang diambil Desain Komunikasi Visual. Dia menyebutkan bahwa sedang melakukan PDKT terhadap seni dan salah satu caranya adalah dengan terus berkarya secara continue dan bereksperiment dengan semua media yang memungkinkan untuk ia respon. Dengan tidak hanya berfokus pada karya rupa, dalam program ini peleburan rupa, sastra, dan musik akan karya yang mampu mencakup dan menampilkan elemen dasar terhadap pembacaan tema.

………………………………………………………………………………………………..

Judul                : KEEP FASTING NO COLLABS (UNTUK  

                             SURABAYA DAN SEKITARNYA)

Media              : Ilustrasi digital, instalasi objek (buah)

Ukuran            : Dimensi variabel

Tahun              : 2016

 

Karya kolaborasi kreatif surabaya yang disingkat ‘KOLAK SURABAYA’ oleh Ariestyan Putra, dalam karya ini putro akan berinteraksi terhadap para pelaku aktifitas ramadhan yang ada di surabaya, dia akan melalukan sampling dengan berinteraksi dengan pedagang, penjual takjil, orang yang melakukan aktifitas terawih, dan orang-orang lain yang menjadi bagian dalam aktifitas khas selama bulan ramadhan. Dia berinteraksi dengan cara ngobrol atau aktifitas jual beli lainya, kemudian dia akan mendokumentasikan dengan mencatat, merekam,dan foto. Setelah itu hasil interaksi tersebut akan diubah menjadi ilustrasi-ilustrasi yang merepresentasikan keadaan para pelaku aktifitas di bulan ramadhan. Selain ilustrasi buntuk dokumentasi juga akan di paparkan untuk memperkuat karya ilustrasi yang di sajikan.

 

Medan

Nama                   : Jundullah Husein Ramadhanu | ecun

Alamat                 : Jl. Medan Area Selatan Gg. Merak no.6 Medan

 

Ecun berkelar bahwa dia banyak gaya namun miskin karya, meskipun begitu ecun merupakan seniman yang tidak berhenti melukis menggunakan media konvensional, dia kerapkali melukis menggunkan media barang-barang bekas, direspon dengan ditambahkan garis-garis abstrak yang banyak dipengaruhi oleh Basquiat dan Farid Stevy. Ecun membentengi dirinya dengan kata ‘kontempore’, tentu saja sebagai pembenaran terhadap semua respon visual yang dilakukan. Dalam program ini sangat dinantikan untuk mendapati respon respon visual yang akan dilakukan Ecun.

………………………………………………………………………………………………..

Judul               :

Media             : Print on Paper

Ukuran            : A0

Tahun             : 2016

Karya Jundullah Husain R., seniman berasal dari medan ini berfokus untuk merespon penjual takjil di yang ada selama bulan ramadhan di surabaya, dia berangapan bahwa para penjual takjil biasanya beranggapan bahwa apa yang dilakukan mereka bersifat temporary maka mereka tidak akan terlalu memikirkan untuk memperindah kios-kios mereka dengan tulisan nama toko atau apapun yang mereka buat dengan bagus, mereka cenderung hanya untuk membuat identitas seperti itu hanya alakadarnya tanpa memikirnya bahwa saat mereka membuat identitas tersebut dengan lebih bagus atau indah hal tersebut akan berbanding lurus dengan hasil penjualan yang didapat, karena kita tidak dapat memungkiri bahwa sekarang adalah era visual dimana penilaian awal akan dilakuakn melalui apa yang tampak. Isu kedua yang digarap adalah strata para penjual takjil, ini merupakan gagasan yang sangat menarik dimana seniman beranggapan bahwa penjualan takjil juga berkaitan dengan kemampuan ekomoni dan motif para penjual, ada yang berfikir bahwa bulan ramadhan memang menjadi sebuah peluang untuk meraup rupiah, namun ada juga mahasiswa-mahasiswa yang bisanya berada di sekitaran perguruan tinggi juga berjualan takjil yang sebenarnya meraka yang mencari aktifitas ngabuburit saja, lalu sekat strata ekomoni yang terjadi bila si penjual berekomi baik maka yang diperjual belikan, tampilan kios akan berbeda dengan para penjual yang berekonomi lemah. Sajian presentasi karya akan dilakuan dalam bentuk konsep.

 


 

Surabaya

Nama                   : M. One Abdillah

Alamat                 : Lidah Wetan gg.2 no.49, Lakarsantri, Surabaya

 

Bergerak pada pendokumentasian hasil karya maupun proses seni, karya-karya seni yang di hasilkan lebih banyak dibuat melalui tools digital seperti olah foto, video, dan sebagainya. Dalam program ini pemunculan dokumentasi untuk menjadi sebuah karya kiranya akan menarik, karena tema yang diangkat adalah tema yang luas namun spesifik, penambahan unsur dokumentasi ataupun pengolah bentuk-bentuk dokumentasi agar lebih terlihat artsy kiranya merupakan bentuk ekperiment yang dinantikan untuk muncul dalam program ini.

………………………………………………………………………………………………..

Judul               : SOCIAL SHIFT CULTURE AND TRADITION

Media             : Video, patrol artefak, quiseneri interactive

Ukuran            : Dimensi variabel

Tahun             : 2016

Karya  yang digarap oleh M. One Abdillah adalah merespon fenomena patrol (membangunkan orang untuk sahur dengan menggunakan alat musik, alat musik yang digunakan bisa alat musik yang sederhana atau apapun yang dapat menggeluarkan bunyi), dalam riset yang dikerjakan menggenai patrol  One menemukan bahwa praktek seperti ini banyak ditemukan di pinggiran kota surabaya, sedangan di pusat kota sudah jarang ditemui. One mempertanyakan apakah benar motif berlangsungnya musik patrol ini adalah hanya membangunkan orang untuk sahur atau memiliki motif lain dibaliknya, ada indikasi bahwa dalam patrol ini juga terdapat penyimpangan yang dilakukan para pelaku nya, maksud penyimpangan adalah tujuan patrol tidak menjadi sesuatu yang benar-benar adiluhung seperti tujuan utama untuk membangunkan orang sahur, namun karena ada alasan-alasan yang lain. Seniman juga akan melakukan perbandingan terhadap fenomena patrol yang ada di surabaya dan kota-kota di sekitar surabaya, penampilan artefak juga akan menjadi bagian yang di presentasikan dalam karya ini, artefak akan menjadi bagian interaktif yang berusaha untuk membangkitkan lagi memori tentang patrol yang ada dimiliki para apresiator.


 

One thought on “SADAP | Sandiolo Residency Program – vol.1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *