Review Lokakarya Kuratorial Seni Rupa Jember 2017

Posted on Posted in News
Spread the love

Di bulan Desember ada kegiatan seni rupa menarik yang diselengarakan di Jember yaitu Lokakarya Kuratorial Seni Rupa, acaranya berlangsung mulai tanggal 4 sampai tanggal 10 Desember, acara ini digagas oleh pegiat seni rupa Jember yaitu Jember Art Frame, the Anglo-Saxon Tavern sebagai cafe yang sekaligus menjadi ruang alternatif untuk berpameran, dan Ayos Purwoadji kurator independent asal Jember yang kini berdomisili di Surabaya.


Kegiatan ini menjadi sebuah kegiatan yang menarik karena kegiatan ini muncul di Kota Jember, posisi Jember dalam peta seni rupa di Jawa Timur sebenarnya tidak begitu menonjol dan masih lebih tertinggal bila dibanding Surabaya, Malang, Pasuruan, atau bahkan Gresik. Selama ini memang jarang ada perhelatan kegiatan seni rupa yang dilaksanakaan di Jember, kalaupun ada kegiatan itu hanya dalam lingkup lokal jadi sangat kurang terbaca. Beberapa kelompok seni rupa yang aktif di Jember adalah seniman yang menggelompokan diri dan membuat kolektif, selain itu ada juga peran UKM kesenian dari Universitas Jember juga menjadi pegiat-pegiat seni rupa yang aktif berkontribusi membuat kegiatan seni rupa di kota Jember.


Kegiatan lokakarya kuratorial ini adalah kegiatan lokakarya kuratorial pertama yang pernah di selengarakan di Jawa Timur, dan yang membuat menarik penyelengara kegiatan ini adalah para pegiat seni rupa yang merasa memiliki kebutuhan untuk tahu, dan membuka dirinya terhadap praktek-praktek yang mungkin di kerjakan dalam seni rupa selain menjadi seniman. Teman-teman pegiat seni rupa yang menginisiasi kegiatan ini sama sekali tidak terafiliasi dengan instasi kesenian pemerintah, seperti dewan kesenian kota, dinas pendidikan, dinas pariwisata atau instansi peerintah lain yang secara langsung memiliki kewajiban terhadap pengembangan dan pemajuan seni dan budaya, jadi kegiatan ini memang dilaksanakan secara kolektif karena pegiat seni rupa di Jember merasa ada kebutuhan yang harus dipenuhi, para pegiat seni rupa di Jember tidak hanya menuntut untuk di penuhi kebutuhannya, tapi mereka lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri secara kolektif. ini menjadi pola gerak yang sehat untuk dilakukan oleh para pegiat seni rupa, alih-alih hanya menggeluh bergerak adalah solusi terbaik untuk memajukan.

Teman-teman pegiat seni rupa di Jember sebenarnya sudah pernah melakukan pola kerja kutator dalam menyelengarakan sebuah kegiatan seni, namun mereka belum benar-benar memahami dengan baik kerja kurator secara definitif, untuk menguatkan landasan kerja kurator yang dilakukan oleh teman-teman pegiat seni rupa di Jember maka diadakanlah kegiatan ini.


Total peserta yang terlibat adalah 6 orang, dengan asumsi bahwa bila peserta sedikit maka kelas akan lebih kondusif dan intens, sehingga materi yang diberikan akan lebih dapat diperbincangan dengan leluasa. Pemateri yang mengisi kegiatan ini adalah antara lain; Benny Wicaksono (Kurator Jakarta Bienalle 2015), Leonhard Bartolomeus (Kurator RURU Galeri), Dwiki Nugroho Mukti (Kurator /SANDIOLO Space), Ignatius Suluh (Seniman), Halim Bahriz (Penulis Seni), RZ Hakim (Founder Kalisat Tempo Doeloe), dan Rifandi Septiawan Nugroho (Arsitek).

Sebagai hasil dari proyek ini, peserta akan diminta untuk memutakhirkan proyek yang telah di submit sebagai persyaratan untuk mengikuti program lokakarya ini. Semoga program seperti ini dapat terjadi di daerah-daerah yang lain agar gambaran tentang seni rupa semakin luas, tidak hanyak berkutat kepada teknik dan pasar, namun untuk dapat menembus itu semua dan menjadi titik penting banyak kerja lain yang harus dilakukan, untuk menyehatkan ekosistem seni rupa tidak cukup hanya dengan semua pegiat menjadi seniman, namun kerja-kerja lain dalam ranah seni ruap yang menunjang sehatnya ekosistem juga harus mulai diperhatikan.(dnm)

_________eng____________________________________________________________________________________________________________________

In December there is an interesting art activity held in Jember, namely Curatorial Workshop of Visual Arts, the event took place from December 4 to December 10, the event was initiated by Jember art activist Jember Art Frame, the Anglo-Saxon Tavern as a cafe that at once become an alternative space for exhibition, and Ayos Purwoadji is an independent curator from Jember who is now domiciled in Surabaya.


This activity became an interesting activity because this activity appeared in Jember City, Jember position in the fine art map in East Java is actually not so prominent and still more left behind than Surabaya, Malang, Pasuruan, or even Gresik. So far, there is seldom any event of art activities conducted in Jember, even if there are activities that are only in the local scope so very unreadable. Some art groups that are active in Jember are artists who group themselves and make collective, in addition, there is also the role of artistic SMEs from the University of Jember also became activists who actively contribute to make art activities in the city of Jember.

The work of this curatorial workshop was the first curatorial workshop ever held in East Java, and which attracted the audience of this activity were artists who felt they had a need to know and opened themselves to practices that might be done in art besides being an artist. Friends of art activists who initiate this activity are not at all affiliated with government art agencies, such as city art councils, education offices, tourism agencies or other government agencies that directly have an obligation to the development and promotion of arts and culture, so this activity is indeed implemented collectively because art activists in Jember feel there is a need to be met, the artists in Jember not only demand to meet their needs, but they prefer to meet their own needs collectively. this becomes a healthy pattern of motion to be performed by art activists, Instead of just a grip move is the best solution to advance.


Friends of art activists in Jember have actually done the curator’s work in performing an art activity, but they have not really understood well the curator’s work definitively, to strengthen the curator’s work foundation by friends of art activists in Jember then held this activity.

The total number of participants involved is 6 people, assuming that when the participants are few then the class will be more conducive and intense, so that the material given will be more freely discussed. The speakers who fill this activity are among others; Benny Wicaksono (Curator of Jakarta Bienalle 2015), Leonhard Bartolomeus (Curator of GURY Gallery), Dwiki Nugroho Mukti (Curator / SANDIOLO Space), Ignatius Suluh (Artist), Halim Bahriz (Art Writer), RZ Hakim (Founder Kalisat Tempo Doeloe), and Rifandi Septiawan Nugroho (Architect).

As a result of this project, participants will be required to update the submitted project as a requirement for this workshop program. Hopefully this kind of program can happen in other areas so that the visuals of art will be wider, not only focusing on technique and market, but to be able to penetrate it all and become an important point of many other work to be done, to nourish the art ecosystem not enough just with all activists to be artists, but other works in the realm of art that support the healthy ecosystem must also be considered. (dnm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *