Setiap karya tentu saja ada latar belakang dari penciptaannya, gagasan dari latar belakang tersebut bisa apa saja mulai dari sesuatu yang benar benar penting atau bahkan sesuatu yang benar-benar remeh, entah itu menjadi sesuatu yang penting atau remeh hal tersebut tetap menjadi otoritas seniman untuk merepresentasikanya dalam karya. Lantas saat kita sepakat bahwa tiap karya memiliki sesuatu hal yang melatar belakanginya, penting untuk latar belakang tersebut dapat ditangkap oleh apresiatornya, sejauh apa paresiator dapat menangkap konsep dari karya tersebut hal itu akan menjadi titik pencapain oleh karya tersebut, bukan hanya nilai material yang didapat tapi ada hal lain yang kiranya perlu diperhatikan seperti ketepatan seuatu karya dan bagaiman apresiator dapat menyerapnya.
Sebenarnya apakah penting suatu karya perlu dimengerti mulai dari ide dasar penciptaanya, dan sebagainya. Saya rasa hal ini sangat penting karena apabila karya tersebut dapat dimengerti dengan baik maka akan ada bentuk apresiasi selanjutnya yang bisa diperoleh bukan sekedar menyajikan pengalaman estetik kepada apresiator namun sesuatu yang lebih lanjt. Untuk dapat dimengerti, seniman dalam membuat karya harusnya peka terhadap sasaran dari aktifitas atau karya yang dia buat, angaplah kegiatan dilakukan di tempat yang mana apresiator potensialnya memiliki pemahaman yang kurang bagus terhadap sebuah karya harusnya dibedakan dari bentuk pemaparan kegiatan yang dilakukan di tempat yang apresiatornya baik.


Dalam pameran yang di selenggarakan di Galeri Prabangkara taman budaya Jawa Timur dalam acara Pameran bersama Pelukis Jawa Timur pada 21-25 maret 2017, saya melihat pemeran ini benar-benar ‘pameran’ tanpa ada upaya lebih lanjut dari seniman atau penyelengara untuk dapat mendistribusikan lebih lanjut mengenai karya kepada apresiatornya. Anggaplah apresiator orang-orang yang benar-benar awam maka diperlukan bentuk-bentuk lain untuk menjelaskan karya mungkin yang paling mudah adalah dengan memberikan teks sebagai penjelas namun ada cara lain untuk dapat menjelaskan karya tersebut yaitu dengan pemaparan yang di kontruksi dalam karya, harusnya karya yang dipampang bukan hanya karya yang dimaknai sebagai hasil akhir dan dilepaskan untuk dapat bercerita sendiri namun harusnya ada penambahan-benambahan dimana karya tersebut pada akhirnya dapat berbicara dan menjelaskan dirinya sendiri. Perlu dimengerti yang membuat karya itu menarik bukan hanya perihal teknik yang digunakan atau ukuran, atau sesuatu yang lain yang berkutat pada masalah visual saja, namun karya yang menarik harusnya dapat bercerita banyak hal perihal ide gagasan atau bahkan proses bagaimana seniman membuat karya tersebut, kiranya saat orang dapat mengerti konsep atau bahkan pola kerja unik yang dilakukan oleh seniman hal tersebut akan dapat memberi dampak positif terhadap karya itu sendiri. Saat seniman yang membuat karya hanya terjebak dipersoalan estetis saja itu akan menutup kemungkinan untuk adanya kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin bisa di aplikasikan terhadap karya tersebut. Bila berbicara perihal apresiator potensial dimana meraka adalah orang yang benar-benar awam terhadap seni terlalu jauh, dikalangan pelakupun ada yang tidak mengerti atas karya lain mungkin pemahaman hanya berkutat di area estetis dimana hal tersebut juga tentu akan sangat berbeda cara pandangnya.
Pameran bukan hanya sebagai ajang pamer yang egois yang dinikmati sendiri oleh senimanya, tapi paling tidak aktifitas seni yang demikian dapat berbicara, bukan hanya menjadi sebuah perhelatan yang bersifat pasif. (dnm)
