oleh : Dwiki Nugroho M
Selain memiliki daya sebagai kota industri surabaya juga memiliki nilai history yang sangat panjang terhitung sejak zaman kolonial belanda, dalam masa kolonial surabaya dijadikan pusat wilayah timur karena letaknya yang strategis, surabaya memiliki akses yang relatif mudah bila dibanding kota-kota lain, dan akhirnya berkembang sampai sekarang menjadi kota terbesar kedua di Indonesia.
Sebagai kota terbesar ke dua tentu saja surabaya menjadi magnet bagi para penggadu nasib untuk bisa mendapat peruntungan yang lebih baik ketimbang daerah asalnya, tentu saja hal ini memberi dampak positif dan negatif secara bersamaan. Dampak postifnya adalah semakin berkembangnya perindustriaan dengan didukung oleh sumber daya manusia yang berlimpah ruah, tumbuhnya berbagai kegiatan yang menyokong terbentuknya ekosistem budaya baru, dan sebagainya. Kemudian dampak negatif ketika banyak orang yang beradu nasib dikota ini, dengan luas wilayah yang tidak bertambah namun populasi semakin padat tentu akan terjadi peningkatan kepadataan penduduk, dan saat terjadi kedapat tentu saja akan banyak permasalah yang muncul, seperti masalah sosial, kesehatan dan lain sebagainya.
Dengan kondisi seperti yang di ilustrasikan pada paragraf sebelumnya, tentu kita dapat membayangkan keragaman suku etnis yang hidup di Surabaya, beberapa diantaranya seperti Jawa, Madura, yang banyak mendominasi di Surabaya selaian itu ada etnis arab, cina, batak dan sebagainya. Banyak dari etnis tersebut secara berkelompok maupun perorangan membawa budaya asal mereka dan melestarikanya di Surabaya, tentu dengan adanya proses organik tumbuhnya kebudayaan multi etnis tentu akan sangat menarik dan membuat ekosisttem kebudayaan semakin ramai. Namun apakah kegiatan yang demikian tidak membahayakan untuk kebudayaan asli Surabaya ?, saya rasa tentu saja tidak salah satu contohnya adalah masih lestarinya Ludruk, tari Remo sebagai seni pertunjukan daerah, kemuan ada Lontong Balap, Rujak cingur sebagai makanan khas daerah dan sebagainya.
Dalam pameran kali ini seniman yang terlibat dalam pameran yang bertajuk “SURABAYA CITY SCAPE” ini akan menggambarkan apa yang meraka temui di kota Surabaya, mulai dari sesuatu yang eksotis seperti tempat wisata sampai hal yang sangat intim dengan si pelukis menggenai surabaya entah itu permasalah yang ditemui di kota ini terkait sosial, budaya, politik, atau apapun, atau bahkan hal-hal yang irasional menggenai Surabaya.
Seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah Aris Darmawan, Berty R, Djunaidi, Fauzi, Indra Janeb, Yoes Wibowo, Ulum. Ke 6 seniman memliki aliran serta teknik yang berbeda-beda dalam menciptakan karya lukis, sangat menarik untuk melihat perpaduan teknik yang merka gunakan melalui sebuah pameran.
Surabaya city scape merupakan judul yang mengambarkan menggenai surabaya, para seniman akan merangkum surabaya yang dilihat melalui sudut pandangnya untuk kemudian dipresentasikan melalui media lukis yang di pamerkan di Hotel Bisanta.
