KONKLUSI LANGKAH AWAL

Posted on Posted in Journal, News
Spread the love

KONKLUSI LANGKAH AWAL
Essay Curatorial

PAMERAN GRESART 0.1

WAKTU : 2-7 OKTOBER 2016

TEMPAT : GEDUNG WAHANA EKSPRESI PUSPONEGORO (WEP) GRESIK

Oleh : Dwiki Nugroho Mukti

Manusia bisa menjadi mahluk yang sangat rentan dan sekaligus sangat kuat, uraian kelanjutan arti sebenarnya juga tidak begitu jelas karena memang tidak ada sebuah batasan yang jelas menggenainya. Menggutip apa yang dikatan neitzhe bahwa orang yang kuat tidak hanya untuk memberikan tapi juga untuk menerima tragedi1, karena apapun batas klasifikasi yang ditetapkan bahwa seorang individu adalah orang kuat ataupun rentan keduanya punya porsi yang bila ditarik penjabaran lebih jauh lagi kita malah akan sampai ke titik yang sangat kabur dimana titik itu tidak menjadi difinisi atas keduanya. Gagasan awal adalah pembentuk untuk kita menanyakan lebih dalam apakah kita sudah cukup tau porsi yang diberikan untuk kita, untuk selalu membuat kita bersyukur, atau malah kita sama sekali tidak pernah sadar bahwa semakin lama kita dihilangkan dari peredaran realitas kebenaran untuk sampai dapat menanyakan hakikat benar salah itu sendiri.

Kita beraktifitas tiap harinya, melakukan rutiniitas kerja sebagai pemenuh kebutuhan, pemuas nafsu, tentu saja tidak ada yang salah dalam praktek ini, namun bukankah praktek ini tidak sepenuhnya benar, saya hanya mereka menggunakan mosi tidak percaya terhadap apa yang di anggap wajar saat ini. Banyak temuan menarik terkait dengan rutinitas yang sering di lakukan oleh manusia, aktifitas yang dilakukan selama berulang ulang dengan alasan pemenuh kebutuhan, apakah semua seperti itu? Tentu saja tidak semua rutinitas dilakukan dengan alasan yang demikian, manusia menjadi robot-robot organik yang programnya dapat diperbaharui melalui perintah, melaui sistem yang memusat pada dewan-dewan yang berwenang untuk mengganti program, komando pusat menjadi absolut atas nama keamanan jabatan, kemapanan yang dicapai.

Beraktualisasi setidaknya harus dilakukan sebagai solusi atas kerancuan pikir yang terjadi atau setidaknya menjadi tempat pelarian paling masuk akal atas segala program yang ditanamkan pada tiap-tiap kita saat ini, apakah saat ini kita sudah memiliki gambaran aktulisasi yang bagaimana yang mempu menjadi solusi akan kondisi kita saat ini, toh sebenarnya kita hidup dengan masalah yang terbatas pada diri kita masing-masing dan harus diselesaikan masing-masing pula, apakah benar demikian? Ini masalah personal yang memang harus diselesaikan secara personal atau ini sebenarnya sebenarnya bagain dari permasalan yang lebih besar lagi atas pengekangan kita pola gerak sosial.

Tidak ada sebuah pemecahan yang bisa kita lakukan yang bisa dilakukan adalah terus melaju seperti busur panah, maju kedepan terus dengan mendorong aturan yang sudah bersentuhan higga sampai ke titik sasaran, dan yang akan menjadi sasaran tentu titik spiritual.

Kita tidak bisa lepas dari akar budaya dimana kita hidup mayoritas dengan masyarakat yang religius (religus dalam agama apapun), yang mempunyai akar begitu kuat kaitanya dengan spiritual secara tidak langsung kita akan terbawa untuk menggikuti arus tersebut hingga kita menjadi manusia dengan pikiran yang sempurna dan mempertanyakan segala sisi spiritual yang menggacu pada agama. Banyak pertanyaan perihal kebenaran atas titik ini karena kita tahu titik ini merupakan sasaran tiap-tiap busur panah yang dilepaskan, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertanya dan mencari tahu, namun terkadang ada beberapa yang memilih membelakangi, mengupayakan agar busur kembali ke tempat dia dilepaskan itu sangat wajar dan sangat manusiawi. “Dari mana aku berasal?” atau “Kemana aku pergi ?” akan tidak terjawab, mendapat jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini bahkan lebih penting dari pada mendapatkan makanan sehari-hari, makan dan minum adalah tindakan dalam kehidupan yang singkat yang tak ada artinya dibandingkan dengan kekekalan, hasrat tertinggi tiap manusia2.

………………………..

Dalam pameran GRESART 0.1 tema yang dibahasa adalah SPIRIT(ACT)UAL yang mana bisa dipilah menjadi 3 kata pembentuk yaitu; spirit, spiritual, dan actual. Pembagian diskursus menjadi kesatuan-kesatuan yang bukan dalam bentuk oeuvres, dan dengan satu-satunya penciptaan itu, kita mulai dengan mengkontruksikan seluruh rangkaian konsep-konsep (formasi-formasi diskursif, posivitas, arsip)3.

Spirit mewakili semangat yang harus dimiliki oleh tiap-tiap manusia, menjadi alasan dalam menjalani hidup dan segala aktifitas yang terjadi didalamnya, manusia menjadi manusia seutuhnya saat ia memiliki tujuan yang mendasari tiap kegitan yang dilakukanya, tiap kegitaan yang merepresentasikan bahwa dia hidup dan bergerak untuk menghidupi lingkungan, atau paling tidak lingkungan dalam lingkup paling kecil disekitar dirinya.

Kedua adalah spiritual, adalah sesuatu yang dikaitakan dengan kejiwaan dan kerohahian, keadaan yang menggambar dimana posisi kita dalam sadar ataupun tidak, banyak penjelasan terkait dengan sisi spiritualitas seorang manusia yang menggungkapkan bahwa spiritual merupakan dimensi yang dimiliki oleh tiap-tipa individu secara berbeda namun menggarah ke suatu hal yang transendensial seperti yang dijelaskan oleh Piedmont, sedangkan menurut Wigglesworth (dalam Schreurs:2002), spiritualitas memiliki dua komponen yaitu vertikal dan horizontal:

Komponen vertikal, yaitu sesuatu yang suci, tidak berbatas tempat dan     waktu, sebuah kekuatan yang tinggi, sumber, kesadaran yang luar biasa.     Keinginan untuk berhubungan dengan dan diberi petunjuk oleh sumber ini.
Komponen horizontal, yaitu melayani teman-teman manusia dan planet     secara keseluruhan. (http:/google.com/usu)4.
Seperti halnya seorang seniman saat berproses dalam karyanya ia akan mencoba untuk masuk dalam dimensi dimana ia bisa menjadi orang yang bebas untuk benar-benar mengekpresikan dirinya sebagai kekuatan yang utuh, untuk menghasilkan sebuah karya yang idealis. Idealis kiranya merupakan kata yang sangat familiar terhadap seorang seniman, seniman akan dapat menghasilkan karya berbobot saat ia memiliki sifat yang idealis dalam berkarya yang mana ia memiliki takaran sendiri terhadap komponen karya yang dihasilkanya, yang unik dan khas dirinya, melalui banyak sudut, apakah itu estetis, gagasan, teknik, atau sebagainya.

Sisi spiritual erat kaitanya dengan hal religius karena memang kaitanya dengan kejiwaan dan kerohanian, seperti kita bahasa dalam paragrap sebelumnya bahawa sasaran dari seuah busur panah yang dilepaskan adalah sisi spiritual itu sendiri, kita perlu membuatan sebuah gambaran titik yang jelas atau bahkan tidak sama sekali untuk dapat melaju dengan pasti, untuk dapat memilih dengan tepat. Kemabali ke pembicaraan bahwa sisi spiritual menjadi bagian dari tema pameran ini adalah selain dimaksudkan untuk seniman agar melakukan ekplorasi sejauh mungkin menggenai sisi sensivitasnya dalam hal kejiwaan dan rohani ke dalam sebuah karya, sebenarnya pemilihan ini juga dipilih karena adanya hubungan yang kuat antara wilayah dilaksanakanya pameran ini dengan sisi religius utamanya agama Islam. Karena kota Gresik sendiri memiliki sejarah panjang terkait dengan penyebaran agama Islam di tanah jawa atau bahakan Indonesia,buktinya adalah adanya makam sunan Giri, dan beberapa makan tokoh lain yang dianggap memiliki pengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Jawa. Hal ini bukan sekedar sejarah namun hingga sekarang kota Gresik menjadi kota yang sanggat religus dengan intensitas kegiatan keagamaan di dalamnya.

Selanjutnya adalah aktual, aktual merepresentasikan apa yang terjadi saat ini peristiwa yang sedang berlangsung dan memang terjadi, arah dari bentuk aktual yang ingin dihadirkan adalah bagaimana seniman yang terlibat mampu menampilkan karya-karya yang dapat merepresentasikan aktual itu sendiri, entah dari gagasan karya, dari media yang digunakan, teknik dan lain sebagainya. Terlebih lagi untuk menjadi seorang seniman saat ini dengan pesatnya kemajuan teknologi maka seniman harus dapat menggimbangi dengan memunculkan karya yang mampu berbicara pada waktu yang tepat, menghadirkan muatan yang sesuai zaman dan menjadikan karya tersebut dapat diserpa dengan baik oleh apresiatornya.

Jika diartikan secara bersama dan disusun sedemikian ruap maka tema spirit(act)ual ini adalah untuk secara bersama melakukan aktualisasi terhadap diri sebagai manusia yang dapat dilakukan dengan berbagai hal, mulai dari pendekatan yang paling sensitif yaitu kejiwaan, kerohanian, atau malah bentuk aktualisasi yang lebih global seperti pemutakhiran dalam berkarya dan lain sebagainya. Karena kita harus menyadari bahwa saat kita menata langkah untuk kedepan maka tatapan kita harus kedepan pula, kita harus melihat pola bentuk lintasan agar kita dapat berjalan dengan pendektan untuk sampai tercepat, saat hal ini benar-benar sudah tertata rapi maka apa yang di cita-citakan akan dapat digapai.

Peta kekuatan awal

Gresik sedang menata dirinya untuk menjadi kekutan seni rupa yang patut diperhitunggkan dalam skala regional maupun nasional, bila kita melihat potensi para pelaku seni rupa didalamnya kita akan mendapati orang-orang yang memiliki karya yang kuat, memiliki keunikanya sendiri, memiliki banyak hal yang mana tidak kalah bila dibandingkan dengan kota-kota yang lain.

Faktanya hari ini kota Gresik memiliki banyak perupa yang memiliki potensi besar, namun pekerjaan rumah yang harus dilakukan adalah bagaimana mendistribusikan informasi para seniman ini ke medan yang lebih luas lagi agar informasi tentang kekuatan yang terbangun tidak hanya menjadi konsumsi di ranah lokal. Lantas siapa yang harusnya melakukan distribusi ini? Yang harus mendistribusikan informasi seniman adalah seniman itu sendiri tentu saja, lebih ideal lagi saat mereka berkelompok untuk kemudian membagi tugas sesuai porsinya masing-masing untuk menytukseskan pola distribusi agar apa yang dilakukan oleh perupa yang ada di Kota Gresik dapat terbaca secara luas. Ini memang pekerjaan rumah yang berat untuk dilakukan seniman secara mandiri namun memang harus ditata sedikit demi sedikit untuk dapat meraih hal tersebut, bila kita berbicara ini adalah tugas pemerintah untuk menyehatkan ekosistem seni rupa di Gresik saya rasa hal tersebut adalah hal kurang tepat, pemerintah terlalu memiliki banyak kepentingan dan ketepatan akan sebuah perencanaan yang manis dijanjikan biasanya sangat kecil, jadi menurut saya akan sangat baik saat seniman mampu berdikari untuk dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi tinggi dan diperhitungkan.

Dengan tema yang diangkat dalam pameran ini, sebenarnya adalah sebuah upaya untuk meraba kemana arah dari seni rupa Gresik untuk kemudian selanjutnya merumuskan sebuah langkah tepat untuk melangkah lebih jauh lagi, selama ini saya tidak pernah mendapati geliat seni rupa yang menjadi tongak di kota Gresik, selama ini yang terjadi adalah acara seni rupa yang ada hanya menjadi sebuah acara yang kemudian saat acara tersebut sudah berakhir maka informasinya akan hilang termakan oleh waktu, tidak ada yang mampu menjadi sebuah pondasi yang benar-benar kuat untuk dilihat sebagai simbol. Kiranya dalam pameran ini teman-teman penyelangara akan menjadiknya sebagai sebuah momentum untuk membuat sebuah pondasi yang kuat bagaimana seni rupa Gresik, dan hasilnya dapat dijadikan acuan bagaimana langkah selanjutnya.

…………………………………….

Dalam beberapa kali kunjungan saya ke kota Gresik untuk mencari bahan menulis essay kuratorial, saya berkunjung ke studio beberapa peserta pamer dan saya sangat puas dengan pencapain estetik yang dilakukan oleh kawan-kawan yang ada di Gresik, karya yang dihasilkan oleh perupa di Gresik melebihi ekspektasi saya dalam nilai yang positif, saya rasa karya teman-teman perupa Gresik ini adalah yang yang sewaktu-waktu bisa meledak saat benar-benar diditribusikan dengan baik.

Sebarnya hal ini tidak hanya terjadi di Gresik namun saya meyakini bahwa bayak kota lain yang juga sebenarnya memiliki potensi seni rupa yang kuat namun masih belum muncul, kita bisa melakukan analisa sederhana terhadap fenomena ini, hal yang membuat sebuah wilayah tidak bisa memunculkan kekuatan seni rupa nya secara maksimal adalah karena kuranya wadah-wadah yang menaungi seniman untuk mendistribusikan informasi kekaryaan mereka, saat wadah-wadah itu jumlahnya dan waktu terselenggaranya tidak menentu maka kita tidak akan bisa berharap banyak dengan pola gerak yang seperti ini. Bukan hanya persoalan sarana atau prasana yang membuat acara seperti ini jarang dilakukan, namun seniman selain menghasilkan karya dia juga harus di pantik agar bisa mengerakan dan menghidupi ekosistemnya.

Karya Dalam Pameran

Pameran ini akan diikuti oleh 17 orang seniman yang lolos pada seleksi awal, ya memang acara ini direncakan untuk menjadi langkah awal aktifitas keseni rupaan yang lebih mutakhir di Gresik oleh sebab itu maka di adakanya proses kurasi untuk memilih karya yang akan ikut berpamer. Dalam proses penyeleksian karya yang menjadi titik beratnya adalah; 1. Karya yang memenuhi standart estetik yang di cita-citakan oleh pameran, dan 2. Karya yang dalam 2 bulan kedepan mampu melakukan pengembangan, dan penyesuaian dengan tema pameran. Dari 33 orang yang minggirim lamaran dipilihlah 17 orang untuk terlibat dalam pameran ini.

Pameran ini memiliki sesuatu yang menarik yaitu penawaran terhadap seniman yang terlibat, pameran di konsep sebagai pameran tunggal bersama, maksudnya adalah setiap seniman akan di beri ruang sebesar 2×3 m, untuk kemudian ruang tersebut bisa diperlakukan leluasa oleh seniman. Pameran ini akan menjadi sebuah rangkuman dari 17 pameran tunggal yang dilaksanakan di waktu dan tempat yang sama.

Porsi karya yang ditampilkan memang lebih banyak ke 2 dimensi dan 3 dimensi, namun bentuk karya instalasidan kerya berbasis repon ruang akan bisa kita temui dalam pameran ini, kare tajuknya adalah pameran tunggal yang bersama jadi ke semua seniman yang terlibat mampu berekplorasi secara maksimal menggunakan ruangan yang disediakan.

Aries Daboel contohnya ia mengkombinasikan karya 2 dimensi dan 3 dimensi dengan sentuhan teknologi, Dalam display karyanya aris daboel akan menampilkan 3 lukis dan di tambah dengan instalasi multimedia yang berupa patung terlentang dan dari dalam mulutnya akan ditembakan proyektor yang berisi video  sebagai penanda dan pertanda cerita  adam dan hawa.

Pada kenyataanya, penanda dan petanda membentuk suatu tanda dan inilah yang menjadi suatu penanda untuk petanda yang berbeda dan tanda dalam bahasa asli. Dilihat dari segi mitos, penanda (yang merupakan tanda dalam bahsa asli) disebut bentuk, sedang petanda adalah konsep dan tanda yang dihasilkan berasal dari proses perasaan5.

Aam selama 2 bulan persiapan pameran secara signifkan melakukan perupahan terhadap visual karyanya. Dalam karyanya yang baru yang akan ditampilkan dalam pameran Gresart kali ini Aam membuat karya lukis dengan menumpukan banyak objek ke dalam media kanvas, aam seolah melakukan kolase namun tidak dengan media digital ia melakukanya dengan manual dengan teknik lukis, tema yang diangkat oleh Aam dalam karya-karya nya yang akan dipamerkan di Gresart ini adalah karya yang sangat berkaitan dengan spiritual, sesuatu yang religius, bila ditarik dari akar daerah gresik kita tahu bahwa gresik adalah kota yang religus karena itu gresik sangat kentara budaya islamnya, mungkin hal ini adalah salah satu alasan Aam memilih sesuatu yang religius untuk di tampilkan dalam karyanya, kereliguisan yang ditampilkan dalam karya lukis bercerita tentang komtemplasi yang ia lakukan, kita akan mendapati sisi religus di semua bagian diri kita atau bahkan lingkungan jika  kita benar-benar membuka mata. Aam juga mengabungan nilai spiritual dengan visual psycodelic yang biasanya merupakan simbolisasi bentuk transenden, transenden sendiri merupakan posisi antara sadar dan tidak sadar yang berkaitan dengan sisi religi dalam artian luas.

Kedua contoh karya yang telah saya paparkan di atas hanya salah satu contoh karya yang akan ditampilkan dalam pameran Gresart 0.1 ini, karya-karya yang lain juga merupakan karya yang memiliki kekuatan nya masing-masing.

…………………………….

Semoga pameran ini mampu menjadi awal atas apa yang dicita-citakan oleh para perupa Gresik, tetap bergerak untuk menghidupi ekosistem seni rupa di kota Gresik agar lebih sehat dan sehat lagi, saat dari dalam sudah tertata rapi dan sehat, untuk menyebarkan informasi keluar akan menjadi sesuatu yang harus dilakukan, dikabarkan seluas-luasnya agar dapat terbaca sebagai salah satu kekuatan seni rupa.

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Kutipan buku Birth of Tragedy, Neitzhe

2.Taslaman Caner, Miracle of the Quran (Turki, 2006), 25

3. Foucault Michele, the Archaeology of Knowledge (New York, 1976), 243

Oeuvre / oeu·vre /ˈəvrə,ˈo͞ovrə/ —- the works of a painter, composer, or author regarded collectively.

4. Penjelasan oleh Piedmont dan Wigglesworth diambil dari laman http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2016/02/pengertian-spiritualitas-menurut-para.html

5. Berger Arthur Asa, Pengantar semiotika ‘Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer’ (Yogyakarta, 2010), 67

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *