Oleh : Dwiki Nugroho Mukti
Seni jalanan sering dianggap menjadi bentuk seni yang minor sekaligus pola kerja yang sangat tidak mengguntungkan bagi lingkungan, karena memang banyak produk dari karya seni jalanan seperti mural dan sub genre nya yaitu graffiti yang dibuat pada tempat yang tidak patut sehingga banyak merugikan pihak terkait yang mempunyai kepentingan dengan tembok yang digambar tersebut, lantas haruskan pola kerja seni jalanan harus di downgrade sedemikian rupa agar dapat dibawakan dengan lebih santun dan dapat diterima dengan baik ?.

Dokumentasi budidayabaik
Contoh seni jalanan dari sub visual yang berkembang di daerah perkotaan di Indonesia
Bila ditelisik jauh kepada budaya urban itu sendiri seni jalanan yang mengacu pada budaya visual memang diciptakan sebagai bentuk protes, kekecewaan terhadap tatanan sistem yang berlangsung, banyak gejolak yang timbul namun tidak ada pihak yang dapat mengapresiasi dan memberikan sebuah solusi yang nyata terhadap masalah yang timbul sehingga muncul lah seni jalanan sebagai tempat untuk meluapkan segala kekesalan yang bernada protes.
Dewasa ini para pelaku seni jalanan yang mengarah pada bentuk visual mulai melupakan cita-cita atas terbentuknya seni jalanan ini sendiri, para peluku lebih memilih untuk terhegemoni atas budaya yang membuatnya menjadi seorang seniman jalanan atau atas pencapaian yang mereka dapatkan, alhasil yang dilakukan oleh para pelaku seni jalanan saat ini seni jalan adalah sebuah karir yang ditapaki untuk menjadikan diri mereka lebih dikenal sehingga dapat memeperoleh kesempatan-kesempatan selanjutnya akan apa yag dilakukan. Mudahnya para pelaku seni jalanan saat ini lebih banyak yang hanya terhegemoni atas pencapaian estetis dan benar-benar melupakan tujuan sesunguhnya dari seni jalan ini.
Kembali konteks apakah seni jalanan menjadi sesuatu yang ideal bila dilakuakan di Indonesia pada umumnya, dengan budaya aslinya yang benar-benar menyuarakan sesuatu dengan pola kerja yang frontal, dan pola kerja saat ini yang beralkulturasi dengan budaya lokal yang syarat dengan nilai adiluhung, tentu saja ini akan menjadi sebuah ciri khas yang benar-benar unik atas pola kerjanya dan saya rasa akan memberikan corak pembeda atas budaya awal seni jalanan ini sendiri.
Salah satu contoh terjadinya alkulturasi terkait dengan nilai sopan santun adalah, pola senior junior, dimana yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua di scene seni jalanan di Indonesia. Kita pasti pernah mendengar istilah senior maupun junior, tentu saja yang paling umum adalah saat kita memasuki dunia sekolah kita akan dihadapkan dengan situasi yang demikian dengan selalu seniorlah yang lebih berkuasa dan junior harus menurut dengan apa yang dikatakan oleh senior. Ini juga adalah budaya yang terjadi di Indonesia seperti sopan santun dan sebaainya sehingga yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua, dan yang lebih muda harus mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang yang lebih tua, dan seterusnya. Ini pula yang terjadi di dunia seni jalanan terjadi pola senior dan junior yang lebih tua adalah mereka yang lebih dahulu terjun di dunia jalanan dan menjadi lebih berkuasa ketimbang mereka memasuki dunia seni jalanan lebih lambat. Pola-pola kerja yang demikian seharusnya bukan menjadi pola yang sehat terhadap berlangsungnya seni jalanan karena bila menganut pada budaya awalanya seni jalanan muncul sebagai seni untuk menyuarakan sesuatu yang mana semua memiliki porsi yang sama tidak ada didewakan karena usia, namun lebih kepada skill yang mereka miliki, effort yang telah dilakukan sebagai seorang seniman jalanan dan sebagainya, begitulah kiranya pola kerja yang benar yang se-yogyanya dilakukan dalam dunia seni jalanan. Seni jalan bukan menjadi sebuah medium yang menjadi monoton karena pola kerja salah yang berlangsung, mungkin karena itu sangat perlu adanya sebuah pewacanaan yang dibangun agar para pelaku yang terjun di dunia seni jalanan memiliki pemahaman yang baik terkait dengan apa yang dilakukan sehingga akan tercipta sebuah ekosistem yang menyehatkan akan nya. Ya inilah bentuk alkulturasi yang benar-benar terjadi atas budaya urban yang masuk dengan budaya lokal yang syarat dengan nilai-nilai adiluhung.
……..
Saya akan bercerita pengalaman saya saat mengunjungi kota Auckland kota terbesar di Selandia baru, Selandia baru sendiri merupakan sebuah negara yang ada di kawasan wilayah pasifik dan jika dilihat berdasarkan pembagian wilayah Selandia bisa dikatan sebagai negara timur, begitu pula budaya dan pola perilaku masyarakat yang masih tidak lepas dari adat istiadat ketimur, memang Selandia merupakan negara persemakmuran Inggris dengan penduduk asli yaitu suku maori kurang lebih 14.9 % dari keseluruhan, namun karena paparan sejarah yang panjang bagaimana Inggris masuk ke Selandia Baru budaya dan kesukuan di Selandia Baru masih terus di lestarikan hingga kini, alhasih budaya yang tercipta meskipun lebih banyak orang kulit putih namun budaya yang berlangsung merupakan alkulturasi antara budaya maori yang notabene budaya yang memiliki pakem ketimuran dengan budaya barat yang di bawa oleh orang kulit putih. Ini merupakan gambaran umum terhadap budaya yang berlangsung di Selandia baru.

Dokumentasi budidayabaik
Karya seni jalanan di Auckland
Budaya seni jalanan disana tentu saja sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia, di Auckland perlakukan terhadap seni jalan seperti mural atau graffiti sangat ketat, para pelakunya tidak bisa mengambar dengan sesuka hati karena memang hanya ada beberapa titik yang diperuntukan oleh bagi seniman untuk melakukan aktifitas gambarnya, vandalisme yang berkaitan dengan corat-coret tembok maupun fasilitas publik yang lain juga ditekan, sehinga ruang lingkup para seniman seni jalanan yang ada di Auckland begitu terbatas. Pamerintah kotanya mengangarkan dana untuk menanggulangi tindakan vandalisme sangat besar jadi gambar yang ada di jalanan yang dilakukan secara ilegal tidak akan bertahan selama satu malam, gambar yang dibuat akan langsung di bersihkan ataupun di cat ulang oleh pihak-pihak terkait, mungkin kalau di Indonesia pihak terkaitan yang mengatur ketertiban kota dalah satpol pp, atau kantibmas. Salah satu narasumber yang memberi informasi ini adalah salah satu seniman graffiti yang juga memiliki kelompok yang bernama ‘cutscollective’ nama jalanannya adalah TRUSTME dia adalah salah satu seniman jalan yang mampu bertahan ditengah pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah terhadap seni jalanan. Dia bercerita mulai sekitar 8 tahun lalu pemerintah kota mulai menganggap bahwa kegitan seni jalanan seperti vandalisme corat-coret di ruang publik maupun fasilitas publik menjadi hal yang perlu mendapat perhatian khusus karena bila di biarkan akan semakin tidak terkontrol dan meresahkan, akhirnya pemerintah membuat kebijakan yang mencanangkan angaran yang cukup untuk menangulangi hal ini, pemerintah mulai membersihkan gambar-gambar dijalanan yang dilakukan tidak pada tempatnya, tentu saja pada awalnya seniman melakukan perlawanan terhadap kebijakan tersebut karena dirasa kebijakan tersebut sangat membatasi cara mereka untuk berekspresi dan menyampaikan sesuatu, namun seiring bergulirnya waktu para seniman jalanan dipaksa mengikuti kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, bayangkan saja dari pihak pemerintah tentu saja memiliki anggaran yang besar untuk selalu menutup gambaran yang dibuat oleh para seniman, sedangkan seniman melakukan aksinya dengan biaya sendiri, tentu saja lama-kelamaan ini seniman tunduk juga dengan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Namun pemerintah tidak serta-merta menghentikan kreatifitas seniman jalanan pemerintah juga tetap menyediakan tempat yang di legalkan untuk mengekpresikan kreatifitas seniman, namun tempat itu memang kebanyakan di tempatkan di daerah pingiran kota yang mana di angap tidak merusak pemandangan dan sebagainya, tentu saja pemerintah setempat juga memiliki ukuran sendiri terhadap pamilihan tempat yang dilegalkan tersebut. Selain itu seniman juga dirangkul untuk melakukan program-program yang dicanangkan oleh pemerintah dalam rangka memperindah kota, dan ini juga yang menjadikan TRUSTME tetap dapat bertahan dengan bersinergi dengan pemerintah dalam menyalurkan kreatifitasnya, sehingga ada sinkronisasi antara apa yang dia lakukan dengan kebijakan yang dicanangkan pemerintah.

Dokumentasi budidayabaik
Karya seni jalanan di Auckland
Peran pemerintah sebagai pihak yang memiliki kontrol terhadap wilayah yang dinaunginya sangat nampak disini terkait dengan aktifitas seni jalanan, namun tetap saja ada seniman yang hingga saat ini melakukan resistensi terhadap peraturan yang dilakukan pemerintah meskipun jumlahnya terhitung sangat sedikit. Bila di Indonesia sekarang seni jalanan sangat semarak dan aktifitas ekonomi yang meliputinya sangat subur disini tidak begitu dengan di Auckland aktifitas ekonomi yang berkaitan dengan seni jalanan sangat tidak berkembang disana, terhitung hanya ada satu toko yang menjadi penyedia alat bahan untuk kegiatan menggambar di jalan itupuun mereka bercerita penjualan sangat tidak bagus, dan alasan mereka masih bertahan adalah alasan semangat idealisme seni jalanan yang mereka usung. para pelaku seni jalanan yang ada di Auckland juga memilih untuk melakukan kreatifitas seni jalanan nya di luar Selandia untuk dapat bertahan seperti Australia atau bahkan Amerika. Aturan semacam ini tidak titerapkan disemua tempat di Selandia, aturan semacam ini hanya diterapkan di Auckland sedangankan kota lain seperti Welington masih memiliki kelongaran terhadap aktifotas seni jalan yang terjadi terbukti dari banyak coretan-coretan dan gambar liar yang tersebar di seluruh kota.

Dokumentasi budidayabaik
Satu-satunya toko penyedia alat dan abahn untuk melakukan aktifitas seni jalan yang berada di St. Karangahape, Auckland
Ini adalah salah satu contoh dimana tidak terjadi sinkronisasi budaya urban yang masuk dengan budaya lokal yang berlangsung, sehingga akan terjadi banyak kesenjangan, dan bila terjadi hal semacam itu terjadi maka pemerintah sebagai pihak yang berwenang harus menggambil tindakan dengan membuat aturan-aturan yang jelas dan mengikat agar praktek yang seperti ini menjadi suatu aktifitas memiliki nilai guna lebih banyak ketimbang nilai yang merugikan. Lantas bagaimana dengan pola kerja seni jalanan di Indonesia terkait dengan budaya visual nya, apakah sudah cukup ideal dan sinkron terhadap budaya yang berlangsung disini, atau bahkan sebaliknya. Bila yang kita menganalisa kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja, Malang, dan kota-kota besar lainya munugkin kegiatan seni jalanan semacam ini sudah dapat diterima karena memang budaya urban yang tumbuh subur di daerah perkotaan, sedangan di daerah yang masih memiliki aturan yang ketat terkait tradisionalismenya kiranya kegitan seni jalan bukan menjadi sebuah kebutuhan terlebih dicita-citakan untuk berkembang, saya rasa akan memiliki dampak negatif dan mencaplok keadiluhungan budaya yang ada di daerah tersebut, lantas bagaimana bijak kah untuk mendistribusikan seni jalanan semacam ini ke daerah-daerah. Atau setidaknya seni jalanan harus memiliki corak yang berbeda dengan corak budaya urban yang ada di barat, harus ada penyesuaian terhadap budaya lokal dan harus jelas fungsinya sebagai apa bukan hanya sebagai legitimator atas budaya urban yang berkembang, budaya urban harus berkembang dengan memiliki kerendahan hati serta kesadaran akan pelakuknya terhadap kebutuhan mereka melakukan kegiatan ini, sehingga budaya seni jalanan dapat masuk dan menjadi sebuah metode yang ramah serta memiliki akar yang kuat terhadap kedaerahanya, bukan menjadi bentuk alienasi terhadap sebuah wilayah, dan para pelakuknya hanya menjadi pelaku yang tidak memiliki wawasan sehingga apa yang dilakukan hanya menyuburkan bentuk kebudayaan asing di Indonesia.
