Review Biennale Logam kota Pasuruan

Posted on Posted in News
Spread the love

Dibelahan bumi manapun acara seni rupa yang bernamakan bienalle selalu akan mengiring opini kita kepada event pameran seni rupa yang besar, yang mewah, atau bahkan ekperimental. Karena memang nama biennale selain berarti event yang dilakukan tiap 2 tahun sekali, biennale juga memiliki sejarah yang panjang terkait dengan perkembangan seni rupa. Seperti kita tahu bienalle yang tertua adalah venice bienalle, lalu kemudian di susul oleh kota-kota besar lain didunia untuk membuat bienalle, dan tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia ada 3 perhelatan bienalle yang meiliki usia yang cukup tua dimulai dari Jakarta Biennale, Jogja Biennale, dan Jatim Biennale. Selain 3 perhelatan bienalle tersebut ada beberapa event bienalle yang muncul seperti Makasar Bienalle, Biennale Grafis di Bandung, Biennale Klaten, Biennale Sumatra, dan beberapa kegiatan lain yang menggunakan nama biennale.

Gejala biennalisasi juga terjai di Pasuruan, Pasuruan adalah salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki perkembangan seni rupa yang signifikan, mulai dari banyaknya kegiatan yang muncul tiap tahun nya dan ruang-ruang alternatif yang bermunculan. Di Pasuruan Biennale menjadi kegiatan yang dibuat dengan mengabaikan konsepsi biennale yang umum selama ini, seperti biennale harus menjadi acara yang mampu memunculkan isu daerah, memetakan seniman lokal, melakukan internasionalisis diri, atau tujuan-tujuan yang lain yang biasanya di sematkan dalam penyelengaraan biennale.Yang terjadi di Pasuruan adalah biennale diadakan oleh KADIN (Kamar dagang dan Industri) kota Pasuruan, dan tujuan diadakan biennale ini adalah untuk memantik para pengrajin bisa menciptakan karya yang lebih kreatif dengan bentuk karya yang lebih dinamis, upaya yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan bienalle diharap para pengrajin akan semakin terpacu untuk membuat karya ekperimental, dan karya yang dihasilkan nantinya dapat menjadi sebuah produk unggulan.

Biennale yang diselengarakan di Pasuruan menjadi sangat menarik ketika mereka berani membuat dan mempermainkan konsepsi biennale dengan sangat leluasa, memang biennale tidak memiliki pakem yang mengikat dan harus dilakukan saat menyelengarakan biennale. Saat mendengar biennale opini kita akan selalu di giring pada acara yang sakral dan dikultuskan, namun yang terjadi di Pasuruan paradigman yang demikian benar-benar dibongkar dan dimaknai ulang dengan sesuka hati, menurut saya ini hal yang sangat menyenangkan, saat kegiatan yang sakral bagi seni rupa lalu di selengarakan oleh sebuah dinas pemerintahan yang mana mereka juga tidak terlalu paham dengan konsepsi penyelengaraan biennale, namun mereka berani untuk menyelegarakan dalam pemahaman yang terbatas, tentu saja ini menjadi hal yang terkesan prematur sekaligus ekperimental. Kenapa prematur, karena saat tidak dibarengi dengan pengetahuan dan referensi yang cukup biennale yang di adakan di Pasuruan hanya terkesan seperti pameran biasa yang diberi judul biennale. Kenapa ekperimental, kerena meskipun penyelengara buta mereka tetap mencoba meraba dengan meilibatkan Zuhkriyan Zakaria seorang kurator asli Pasuruan untuk membawa perhelatan biennale ini menjadi kegiatan yang seirus, lebih dari sekedar peran seperti pada umumnya. Meskipun kurator banyak bercerita bahwa kerjanya banyak mendapat pembatasan dari lembaga yang menginisisinya, namun dia sepakat untuk bienalle ini sebagai ajang ekperimentasi yang dilakukan oleh Kadin dan oleh pengrajin, bagaimana upaya lembaga pemerintah untuk dapat mendorong kreatifitas pengrajin lewat perhelatan yang saat namanya diguakan akan terlihat penting, yaitu ‘biennale’.Namun meskipun biennale yang diselenggarakan di Pasuruan sangat fleksibel dalam memaknai dirinya tanpa peduli dengan konsepsi biennale pada umumnya, mereka tetap berpegang bahwa bienalle adalah acara yang di laksanakan tiap 2 tahun sekali dan di selengarakan secara berkelanjutan.

Biennale yang di selengarakan di Pasuruan mengambil nama biennale logam, karena di tahun ini mereka berfokus untuk memarkan karya-karya berbahan logan dari para pengrajin. Logam dipilih menjadi tema juga karena Pasuruan adalah kota yang memiliki keunggulan industri di sektor logam. Untuk tahun depan mereka berencana untuk membuat biennale mebel, dan 2 tahun ke depan kembali ke biennale logam dan seterusnya.

Yang menjadi catatan penting adalah saat bagaiman biennale bisa menjadi perhelatan yang sangat cair dan bisa dimaknai dengan lelusasa, tanpa ada tendensi yang seriuspun biennale tetap bisa di selengarakan. Bila di kota lain mungkin dalam penyelengaraan biennale akan selalu menimbulkan pro kontra, karena nama yang terlalu berat dan terlanjur di kultuskan. Di Pasuruan biennale di selengarakan oleh sebuah lembaga, dan mereka berani memaknai bienalle dengan sangat leluasa. Ini merupakan entuk ekperimentasi terhadap nama biennale, dan tentu saja sangat menarik. Biennale hanya sekedar nama sebagai pemantik kreatifitas para pengrajin, atau seniman.

____________eng________________________________________________________________________

Whichever part of the earth any art event that is called Biennale will always lead our opinion to the big art exhibition event, which is luxurious, or even experimental. Because it is the name of biennale besides means the event is done every 2 years, biennale also has a long history associated with the development of fine arts. As we know the oldest biennale is Venice Biennale, then later followed by other major cities in the world to make biennale, and not least in Indonesia. In Indonesia, there are 3 Biennale events that have a fairly old age starting from Jakarta Biennale, Jogja Bienalle, and East Java Bienalle. In addition to these three biennial events, there are several biennial events that appear like Makasar Bienalle, Bienalle Graphics in Bandung, Bienalle Klaten, Bienalle Sumatra, and some other activities that use the name of the Biennale.


Biennialization symptoms also occur in Pasuruan, Pasuruan is one of the cities in East Java that has a significant visual development, ranging from the number of activities that appear each year and alternative spaces that appear. In Pasuruan Biennale is an activity created by ignoring the general biennial conception so far, such as a Biennale must be an event capable of raising regional issues, mapping local artists, self-conducting internationalism, or other purposes usually attended in the Biennale. occurs in Pasuruan is a biennale held by KADIN (Chamber of Commerce and Industry) of Pasuruan, and the purpose of this Biennale is to induce the craftsmen can create more creative works with more dynamic forms of work, the effort is to hold biennale expected of the craftsmen will be increasingly encouraged to make experimental work, and the resulting work will later become a superior product.

Biennale held in Pasuruan becomes very interesting when they dare to make and play a conception of biennale very freely, the biennale does not have a binding grip and should be done when conducting biennale. When we hear the biennale of our opinion will always be swayed at the sacred and cult event, but what happened in Pasuruan paradigm that is really dismantled and reinterpreted at will, I think this is very fun, when the sacred activity for art than on the list by a government agency which they are also not very familiar with the conception of the biennale, but they dare to hold in a limited understanding, of course, this becomes impressed premature as well as experimental. Why premature, because when not accompanied by enough knowledge and reference biennale that was held in Pasuruan just seemed like an ordinary exhibition entitled biennale. Why experimental, even though blind organizers they still try to feel with Zuhkriyan Zakaria Pasuruan a curator of the original to bring this biennale event into a serious activity, more than just a role as in general. Although the curator has much to say that his work has been heavily restricted from the institute which informs him, he agrees to this bienalle as an arena of experimentation by Kadin and by craftsmen, how the government agencies can encourage the creativity of artisans through the event which, when used, namely ‘biennale’.However, although the biennale held in Pasuruan is very flexible in interpreting itself regardless of the biennale conception in general, they still hold that biennale is an event held every 2 years and held in a sustainable manner.

The biennale in Pasuruan takes the name of a metal biennale, because this year they are focusing on exposing works made from logan from the craftsmen. Metal is chosen to be a theme as well because Pasuruan is a city that has an industrial advantage in the metal sector. For next year they are planning to make furniture biennale, and 2 years ahead back to metal biennale and so on.


The important note is when the biennale can be a very fluid event and can be interpreted freely, without any serious tendencies biennale can still be held. If in another city may be in the implementation of the biennale will always cause the pros cons, because the name is too heavy and already in the cult. In Pasuruan biennale organized by an institution, and they dare to interpret bienalle very freely. This is an experimentation of the name of the biennale, and of course very interesting. Biennale is just a name as a creator lighters, or artists.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *