JATIM Youth Art Festival
Fragmen Naratif
Jawa Timur, merupakan sebuah provinsi yang terletak di bagian paling timur Pulau Jawa. Dengan ibukota Surabaya, Jawa Timur merupakan provinsi dengan wilayah terluas diantara 6 provinsi di Pulau Jawa (47.922 km²). Di samping itu, Jawa Timur juga memiliki jumlah kabupaten/kota terbanyak di Indonesia, yakni 29 kabupaten, 9 kotamadya, 657 kecamatan, 784 kelurahan dan 8.484 desa. Namun, dari segi jumlah penduduk, Jawa Timur menempati urutan kedua setelah Jawa Barat. Dari segi sosio-kultural, Jawa Timur terdiri dari masyarakat yang sangat heterogen. Antropolog Ayu Sutarto dalam risetnya mengatakan bahwa Jawa Timur dapat dibagi ke dalam 10 Wilayah kebudayaan, yaitu kebudayaan : 1) Jawa Mataraman; 2) Jawa Panaragan; 3) Arek; 4) Samin (Sedulur Sikep); 5) Tengger; 6) Osing (Using); 7) Pandalungan (Mendalungan); 8) Madura Pulau; 9) Madura Bawean; dan 10) Madura Kengean. Bahkan dalam Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape, dinyatakan ada 14 suku bangsa yang hidup di Jawa Timur. Plural, adalah sebuah kenyataan yang kita hadapi sebagai warga Jawa Timur. Hal ini penting untuk disadari, dan agaknya perlu pula untuk dirayakan. 38 kota, 10 wilayah kebudayaan, dan 14 suku bangsa, membentuk setiap diri kita menjadi entitas unik. Adapun karya seni tidak lahir begitu saja, ia menjadi ada karena ada seniman yang menciptakannya. Sebelum berjuang dengan medium seninya, seniman bersinggungan dengan kenyataan (realitas) baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Singgunggan itu kemudian memunculkan respon emosi, mengendap, lalu membucah dalam wujud karya seni. Pengaruh besar realitas eksternal seniman dalam penciptaan karya seni tentunya tidak dapat dinafikkan. Faktor-faktor eksternal, seperti lingkungan sosial, nilai-nilai, aktivitas, hingga objek-objek tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar pada diri seorang seniman. Kesemuanya itu tentunya akan bersifat heterogen pada setiap kota, wilayah kebudayaan, dan suku bangsa di provinsi Jawa Timur ini. Seni, sebagai artefak kebudayaan, dalam hal ini tentunya akan menemukan narasi kecilnya sendiri, oleh karena ia dilahirkan dari setiap entitas yang unik. Dalam masyarakat yang multikultural, setiap entitas unik memiliki hak yang sama dalam berekspresi, mendapatkan apresiasi, ruang hidup, serta ruang dialog yang egaliter. Sebagai generasi milenial yang berada dalam fase ‘sturm und drang’, yang senantiasa menghendaki demokratisasi dalam berbagai aspek kehidupan, ruang bagi eksistensi dan subyektifitas, relasi yang egaliter, dan juga kebebasan dalam berekspresi, seolah menjadi penanda bahwa kita memiliki kesadaran sosial dan menjadi empu bagi adanya kehendak atas perubahan sosial. Dalam Fragmen Naratif, kita akan mencoba untuk menciptakan sebuah ruang dialog yang egaliter bagi setiap entitas unik, yang berpijak pada setiap identitas dan narasi kecilnya, sebagai buah atas singgungan dengan realitas sosial. Katakanlah kita merupakan fragmen-fragmen dengan identitas dan narasi yang plural, yang saling berdialog untuk membentuk jejaring makna. Dengan harapan bahwa fragmen-fragmen tersebut dapat bermetamorfosis menjadi ‘organ’ dengan karakteristik yang unik dan fungsi yang spesifik. Organ-organ tersebut dapat saling terhubung, untuk kemudian menjadi sebuah ‘tubuh’ dengan wajah yang dapat dikenali – Seniman Muda Jawa Timur.
Peta siasat
Jawa timur memiliki peta kesenirupaan yang menyebar, peta seni rupanya tidak bisa hanya dibaca di Surabaya dan Malang, namun banyak kota lain seperti halnya Pasuruan dan Gresik yang aktifitas kesenirupaan nya terus menggalami peningkatan yang signifikan, juga kota-kota lain seperti halnya Banyuwangi, Jember, Blirtar, dan lain sebagainya.Kota besar di jawa timur seperti Surabaya dan Malang tentu saja lebih maju dibanding kota lain yang ada di Jawa Timur, karena sarana dan prasarana yang tersedia lebih banyak dan juga terdapat instansi seni yang menunjang untuk sehatnya ekosistem seni rupa. Di kota-kota lain meskipun tidak memiliki instansi seni sebagai wadah untuk pengembangan potensi, namun banyak dari mereka yang melakukan ekpansi ke kota-kota lain untuk belajar di sekolah tinggi seni di kota lain. Sumber daya bukan menjadi soal lagi untuk perkembangan yang di inginkan, namun apakah setelah menempuh pendidikan seni rupa di kota lain dan pulang ke daaerah asalanya masing-masing sudah cukup untuk membuat ekosistem seni rupa di daerahnya menjadi lebih sehat ?, tentu saja tidak cukup dengan hal tersebut.Banyak kendala yang muncul saat seniman yang sudah menempuh pendidikan di sekolah tinggi seni di luar kota, kemudian kembali lagi ke daerah asalnya mereka malah menjadi asing dan bingung harus melakukan apa. Karena jelas apa yang terjadi tentu saja sangat berbeda, ambilah saat mereka belajar di Jogja, selain mereka mendapatkan ilmu selama mereka belajar, mereka akan berada di sebuah lingkungan yang mempunyai sarana dan prasarana yang baik dan sangat menunjang, pola kerja yang baik, dan kesempatan yang sangat banyak untuk melakukan berbagai aktifitas seni. Kemudian saat mereka kembali ke daerah asalanya lingkungan kerja seni rupanya tentu saja sangat berbeda, pola kerja, dan bisa dibilang kesempatan untuk melakukan kegiatan seni juga semakin sedikit. Banyak dari mereka yang telah menimba ilmu dikota lain, kemudian kembali ke daerah asalnya malah menjadi seniman yang tidak produktif, yang dihasilnya menjadi sebuah karya yang tidak dapat berbicara banyak, dalam artian saat mereka ingin hidup dari keahlianya sebagai seorang seniman entah itu menjadi seorang pelukis atau pematung mereka harus memulai lagi dari awal dengan men downgrade pemahaman yang mereka miliki agar dapat selaras dan diterima di lingkungan daerah asalnya, apakah memang hal itu harus dilakukan ?. tentu saja tidak sebagai seorang seniman seharusnya harus ada penyiasatan-penyiasatan yang dilakukan terkait untuk dapat beradaptasi dengan wilayah dimana ia tinggal.Bentuk penyiasatan yang dilakukan salah satunya adalah dengan menginisiasi ruang alternatif, sebagai ruang ekperimentasi dan apresiasi, ruang alterntive muncul sebagai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh seniman-seniman muda kepada pola-pola kerja yang diangap tidak membangun, dan hanya melegitimasi pola kerja yang sudah usang. Di Surabaya dan Malang meskipun ada galeri yang yang dijadikan sebagai tempat untuk berpameran, namun seniman-seniman muda merasa galeri kurang dapat mengakomodir keliaran-keliaran yang dimiliki oleh seniman muda, bentuk ekperimentasi terhadap karya akan sangat terbatas saat dia berkatifitas di galeri, maka dari itu munculah ruang-ruang alternatif, seperti: /SANDIOLO, Satu Atap, C2o Library, Rumah Atas, Pangon 140 dan beberapa tempat lain yang muncul di Surabaya, kemudian di Malang ada Poharin sebagai ruang alternatif.Gelaja munculnya ruang alternatif juga terjadi di kota-kota lain, namun kiranya apa yang menjadi permasalahan mengapa muncul ruang alternatif ini sedikit berbeda, yang menjadi latar belakakang kemunculanya, adalah karena memang tidak ada ruang yang mengakomodir sehingga seniman-seniman muda ini membuat sebuah ruang alternatif sebagai muara aktifitas kesenian, seperti halnya Pawitra artspace dan Gang Wolu Art space di Pasuruan, kemudian ada Vila Art Space di Kediri.Selain dengan menggunakan platform ruang alternatif, teman-teman perupa muda di daerah-daerah juga mulai sadar untuk melakukan engagement dengan ruang-ruang publik untuk melakukan kegiatan kesenian. Banyak aktifitas kesenian yang dilakukan di Cafe, hotel, maupun taman-taman kota. Tempat tersebut dipilih karena fungsinya sebagai muara dimana orang dengan berbagai kepentingan berkumpul, maka saat di adakan kegiatan seni di ruang tersebut diharapkan akan muncul kesempatan-kesempatan selanjutnya.Fenomena bagaimana seniman bersiasat untuk tetap dapat melakukan aktifitas berkesenian ini yang coba ditangkap dan di presentasikan dalam kegiatan Jatim Young Artist Festival, kegiatan ini di rencanakan sebagai ajang pemetaan terhadap seniman-seniman muda yang terus bergerak, dan menampilkan karyanya dalam sebuah ajang pameran sebagai bentuk representasi apa yang mereka alami dan lakukan di dalam lingkup wilayahnya. Seniman yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diharap mampu menyuarakan aspirasinya melalu karya-karya yang nantinya akan dipamerkan, terkait masalah, kendala, dan bagaimana mereka melakukan penyiasatan terhadapnya.
By : Aditya Nirwana, M.Sn. & Dwiki Nugroho
MAKSUD DAN TUJUAN •Mengingat kembali khasanah-khasanah kekayaan kebudayaan yang ada di Jawa Timur melalui citraan visual.•Membangun kembali memori sosio kultural kehidupan lokal masyarakat Jawa Timur dalam benak masyarakat modern dengan menampilkan ikonik, tanda, bahkan simbol yang telah dilahirkan di kehidupan masyarakat Jawa Timur.•Memperkokoh ikatan/jejaring keterkaitan seniman muda Jawa Timur. •Upaya memacu tumbuhnya infrastruktur dan suprastruktur seni rupa Jawa Timur yang kuat dimulai dari fragment lokalitas secara naratif untuk memenuhi keberagaman dunia seni di Indonesia umumnya.
Sehubungan dengan hal yang menjadi tujuan diatas, besar harapan kami bisa bekerjasama dengan baik untuk kepentingan dan keikut sertaan dalam pameran Jatim Youth Artis Festival dengan tajuk Fragment Naratif.
I.NAMA KEGIATAN“EAST JAVA YOUNG ARTIS FESTIVAL”
2. TEMA KEGIATAN“ Fragment Naratif ”
Tema yang kami angkat guna memantik kembali keberagaman fenomena masyarakat di Jawa Timur sebagai cerminan jati diri masyarakat Nusantara.
2. KONSEP PAMERAN
Ajang pertemuan karya seniman muda, peningkatan mutu karya dan membangun kembali Heritage Budaya Jawa Timur dalam dunia rupa.
Tempat dan waktu : Hotel Bumi Surabaya Resort, Pada tanggal 28 November s/d 2 Desember 2017Pembukaan pameran akan dilaksanakan pada: hari selasa 28 November 2017 pukul 14.00 wib.
Tata Tertib Pameran :
1. Jumlah karya yang dipamerkan 45 karya dua dimensi (lukis).
2..Untuk media bebas menggunakan, cat minyak, akrilik, drawing, kolase dan mix media ataupun karya seni grafis, serta dikerjakan secara maksimal.
3.Karya yang dipamerkan adalah karya terbaru (dikerjakan dalam kurun waktu 2014-2017).
4. Ukuran karya maksimal 130 cm x 110 cm, minimal 100 cm x 100 cm .
5.Karya rapi dan siap pajang.
6. Karya dipacking dengan rapi dan kuat, karena panitia tidak menanggung “kerusakan” dalam pengiriman. Panitia hanya bertanggung jawab keamanannya selama pameran berlangsung.
7. Setiap Perupa hanya diperbolehkan mengirimkan 2 foto karya untuk di seleksi oleh dewan kurator terpilih.
8. Setiap Peserta akan mengirimkan 1 karya yang terpilih oleh dewan kurator
9. mengirimkan konsep karya minimal 150 kata.peserta wajib membuat tulisan minimal 150 kata bercerita tentang ekosistem seni rupa di sekitarnya (contoh : cerita mengenai ekosistem sekitar yang sangat buruk, sarana yang tidak ada, dsb)
10. Mengirimkan dan mengabarkan tanda kesediaan ikut serta dan data karya paling lambat diterima oleh panitia tanggal 30 Oktober 2017 pukul 00.00 wib, dikirimkan ke eastjavaYAF@gmail.com mohon diperhatikan guna kepentingan pembuatan katalog, diwajibkan mengirimkan CV (MS Word), Image Foto Diri dan karya (JPEG dalam format 400 dpi).
11. Pengiriman karya kepada panitian dimulai pada tanggal 14 November dan paling lambat diterima panitia pada tanggal 22 November 2017 dengan alamat Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Jl. Gentengkali 85 Surabaya, sebelum pengiriman karya sebaiknya konfirmasikan ke Dwi Tyas Febriyanti Cp 0831-2895-9283
12. Display karya 23 s/d 26 November 2017.
13. Bongkar karya tanggal 3 Desember 2017.
14. Karya yang telah dipamerkan diambil kembali oleh peserta pada tgl 4 s/d 5 Desember 2017 di kantor DKJT.
15. Peserta mendapatkan dana transportasi keikut sertaan dari panitia dengan menyerahkan foto Copy KTP/SIM.16. Dana transpotasi keikut sertaan dapat diambil di sekretariat kantor DKJT pada tanggal 4 s/d 5 Desember 2017.
Surabaya, 14 Oktober 2017
Mufi Mubaroh, M.SnKomite Seni Rupa DKJT
Note : Jika berminat segera hubungi Dwi Tiyas Febriyanti untuk mendapatkan formulir pendaftarannya dan akan dikirimkan ke email saudara.cp. phone/wa 0831-2895-9283
