Review – Bhineka Satu (Pameran foto koleksi Antara)

Posted on Posted in News
Spread the love

JUDUL PAMERAN  : Bhineka Satu (Pameran foto koleksi Antara)

KURATOR : Oscar Motuloh

PERIODE PAMERAN : 28 Agustus – 1 Oktober 2017

TEMPAT : House of Sampoerna,Taman Sampoerna 6, Surabaya 031-3539000

Untuk memperingati hari kemerdekaan House Of Sampoerna (HOS) menyelenggarakan pameran foto, bila biasanya HOS hanya menyadi fasilitator seniman untuk menyelengarakan pameran seni di Galerinya, tapi kali ini HOS menjadi inisiator yang menyelengarakan pameran. Pihak HOS menyelengarakan pameran ini bekerjasama dengan LKBN ANTARA, pameran ini adalah pameran foto koleksi dari ANTARA.

image

Kegiatan ini tidak hanya berisi diskusi, bahkan sebenarnya kegiatan ini adalah seremonial untuk merayakan kemerdekaan, pameran hanya sekedar sisipan karena habitus yang dilakukan di HOS. Kegiatan dimulai pada tanggal 26 Oktober 2017 dengan kegiatan ‘Bincang Museum’ bertemakan ‘Demokrasi yang Pancasilais’ dengan narasumber KH Said Aqil Siradj – Ketua Umum PB NU. Di hari kedua diawali dengan kegiatan ceremonial dan diskusi, dengan tema ‘ Pancasila BUKAN PancaSilam’ dengan Moderator Meidyatama Suryodiningrat – Presiden Direktur LKBN Antara, dan Narasumber Yudi Latif – Kepala UKP – Pembinaan Ideologi Pancasila, Hilmar Farid – Direktur Jendral Kebudayaan, Hana Amalia – CEO Yayasan Pondok Kasih Surabaya. Di sesi terakhir sertelah diskusi dilanjutkan dengan pembukaan pameran.

Dalam pameran kali ini HOS menggunakan galeri yang biasanya tidak dibuka untuk umum, galeri baru ini terletak di sebelah kanan dari Museum Kretek Sampoerna. Konten pameran ini adalah koleksi Foto ANTARA, menurut kurator pameran Oscar Motuloh ini adalah upaya untuk merayakan kemerdekaan melalui bentuk visual.

Foto yang diperkan adalah foto mulai zaman kemerdekaan hingga foto apa yang terjadi saat ini, dari pameran ini yang ingin digugah adalah bagaimana apresiator memaknai Pancasila melalui apa yang sering kita temui sehari-hari, ataupun dari sejarah yang sebenarnya kita tidak pernah tahu dan salah satu cara agar kita dapat tahu adalah dengan mulai membuka lembar-lembar sejarah agar apa yang terjadi di masa lalu dapat menjadi pembelajaran untuk dapat melangkah kedepan dengan baik.

image

Isu perbedaan juga beberapa kali dikemukakan dalam diskusi dan dalam karya yang dipamerkan. Dalam diskusi jelas disinggung bahwa Indonesia merupakan bangsa yang sangat beragam, namun keberagaman ini adalah hal menguntunggkan. Seperti yang di ungkapkan oleh Hilmar Farid, bahwa kota dengan penduduk yang beragam (dari berbagai suku) memiliki perkembangan ekonomi yang lebih baik daripada kota yang tidak beragam. Kesimpulanya adalah beragam dan berbeda bukan menjadi sesuatu hal yang harus terus menerus dipermasalahkan, namun kita harus dapat melangkah bersama dengan perbedaan dengan landasan yang sama yaitu Pancasila. (Dnm)

_____eng____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

EXHIBITION TILTTLE : Bhineka Satu (Photo exhibition of Antara collection)

CURATOR  : Oscar Motuloh

EXHIBIT PERIOD : 28 Agustus – 1 Oktober 2017

PALCE : House of Sampoerna,Taman Sampoerna 6, Surabaya 031-3539000

image

To commemorate Independence Day House of Sampoerna (HOS) held a photo exhibition, if HOS usually only facilitates artists to hold art exhibitions in their Gallery, but this time HOS became the initiator who held the exhibition. HOS party held this exhibition in cooperation with LKBN ANTARA, this exhibition is a photo exhibition collection from ANTARA.

This activity not only contains discussion. in fact, this activity is ceremonial to celebrate independence, the exhibition is just an insert because habitus did in HOS. The activity started on 26 October 2017 with the activity of ‘Bincang Museum’ themed ‘Demokrasi yang Pancasilais’ with resource person KH Said Aqil Siradj – Chairman of PB NU. The second day begins with ceremonial activities and discussions, with the theme ‘Pancasila NOT PancaSilam’ with Moderator Meidyatama Suryodiningrat – President Director of LKBN Antara, and Resource Person Yudi Latif – Head of UKP – Pancasila Ideology Development, Hilmar Farid – Director General of Culture, Hana Amalia – CEO Yayasan Pondok Kasih Surabaya. In the last session, the discussion continued with the opening of the exhibition.

In this exhibition HOS uses galleries that are not usually open to the public, this new gallery is located on the right of the Kretek Sampoerna Museum. The content of this exhibition is ANTARA Photo collection, according to Oscar Motuloh exhibition curator, this is an effort to celebrate independence through visual form.

image

The photos that were published were photos from the time of independence to photos of what is happening at the moment, from this exhibition that wants to be inspired is how the appreciators interpret Pancasila through what we often meet every day, or from history that we really never know and one way So we can know is to start opening the pages of history so that what happened in the past can be a learning to be able to move forward well.

The issue of difference is also raised several times in discussions and in works on display. In the discussion, it is clear that Indonesia is a very diverse nation, but this diversity is a matter of the lawsuit. As revealed by Hilmar Farid, that city with diverse populations (from various tribes) has better economic development than cities that do not vary. The conclusions are diverse and different rather than being something that must be constantly questioned, but we must be able to move along with the differences on the same ground of Pancasila. (Dnm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *