WARUNG DALAM WARUNG

Posted on Posted in Journal
Spread the love

Tulisan pengantar pameran tunggal EMZA MUTTAQIN

Tempat : Warkop Krayon

Waktu : 20 Mei 2017

Seni rupa dalam prakteknya dapat dipahami seperti fisika atau kimia, yang mana saat disampaikan di kelas-kelas di tiap sekolah pelajar itu menjadi pelajaran yang sangat berjarak dengan realitas hidup siswanya, saya melihat siswa di diharuskan menghapal nama unsur atau rumus kecepatan tanpa benar-benar ada pondasi yang diberikan untuk memahaminya, atau siswa tersebut di tempatkan dalam situasi nyata dimana ilmu tersebut dapat digunakaan, pelajaran tersebut akan selalu terasa berjarak, dan malah di abaikan seolah hal tersebut bukan hal yang penting, atau menjadi sebuah kesia-sia an untuk belajar tentang hal tersebut. Saya sepenuhnya sadar bahwa sebenarnya ilmu ini adalah adalah penerapan ilmiah dari apa yang kita lakukan sehari-hari dan sangat berhubungan dengan apa yang kita lakukan, bukan sebuah kesia-sian semata, saat kita bisa paham dengan baik maka kita akan dapat melakukan segala sesuatunya lebih baik karena kita tentu saja akan menjadi lebih mengerti.

Begitu pula dengan seni rupa, seni rupa dipandang menjadi sesuatu yang abstrak dan tidak menyentuh kehidupan masyarakat luas, seni rupa hanya menjadi pelampiasan, tempat untuk berekspresi atau mencurahkan melalui media visual, seni rupa sangat berjarak karena ditempatkan di ruang pamer khusus yang mana orang awam pasti akan berpikir 1000 kali sebelum masuk, dengan alasan mereka tidak mempunyai kepentingan terhadap karya yang ada di dalam ruang pamer tersebut, mereka tidak mengerti tentang karya seni, dan banyak alasan lagi yang membuat seni rupa sangat berjarak dengan realitas yang terjadi dalam masyarakat. Ada kasus lain dimana seniman membuat karya yang membicarakan tentang apa yang terjadi di dalam masyarakat, seperti permasalah, isu yang sedang berkembang, atau kebiasaan masyarakat itu sendiri. Namun dalam pengaplikasianya masyarakat hanya dijadikan objek, karyanya sendiri disampaikan dengan cara-cara yang tetap berjarak dengan masyarakat itu sendiri.

Dari paparan singkat diatas maka kita akan memiliki 3 variabel utama yaitu, seni rupa – jarak – masyarakat, seni rupa dan masayarakat dipisahkan oleh jarak dan ini adalah hal yang harus mulai dipangkas, dari memangkas jarak dengan masyarakat maka akan membuka lebih banyak kesempatan yang akan diraih oleh sebuah seniman yang melakukanya atau karya yang di buat. Saya rasa karya seni hari ini tidak harus terlalu mengeksklusifkan diri dan hanya berfokus pada nilai material yang akan diraih pada sebuah karya, namun lebih dari itu karya yang muncul adalah bentuk manifestasi cultural yang dilakukan seniman dalam masyarakat melalui sebuh karya. Karya akan memiliki nilai fungsi di dalam masyarakat, entah itu nilai funsi sebagai pengingat, pemantik (membuat masyarakat berekasi terdap sebuah masalah), atau malah menjadi sebuah solusi atas masalah itu sendiri.

KONTOEMLASI adalah judul dari pameran tunggal yang dilakukan oleh EMZA MUTAQIM, judul dari pameran ini bila huruf yang dicoret dihalangkan akan menjadi kata baru yang merujuk pada alat kelamin pria dalam bahasa jawa, kenapa memilih judul ini adalah karena karya-karya yang bibuat oleh seniman merupakan karya yang banyak mengunakan alat kelamin laki-laki sebagai objek utama dalam lukisannya, sehingga dengan spontan seniman pun memilih judul ini untuk mejadi judul dari pameran tunggalnya. Selain berkarya dengan kanvas seniman juga berkarya dengan media tubuhnya (performance art). Visual dari karya seniman menarik, karena dengan pemilihan objek yang hampir sama ditiap-tiap lukisanya dia mampu menggemas objek yang sama dengan unsur visual seperti; warna garis, atau bahkan penambahan tulisan untuk memperkuat ide gagasan dimasing masing karya.

Selanjutnya yang ingin saya bahas lebih lanjut bukan hanya bentuk visual yang dibuat oleh seniman tapi lebih dari itu dia membuat sebuah metode untuk dilakukan dalam pameranya, dengan tujuan untuk memangkas jarak antara karyanya dengan masyarakat. Untuk memangkas jarak antara karyanya dengan masyarakat, seniman memilih warung kopi untuk berpameran, menggunakan ruang publik yang mana sering digunakan oleh masyarakat yang ada di surabaya berkumpul, bercengkrama, bahkan bisa kita sebut warung kopi sebagai spatio temporal 1, tempat untuk berhenti sejanak dari penatnya rutinas. Dalam diskursus lanjutan apa yang terjadi di warung kopi dimana pola untuk berkumpul dan berce

ngkrama dalam bahasa Surabaya disebut dengan cangkrukan, pola cangkrukan dapat diartikan sebagai komunitas kontemporer dimana tidak ada keterikatan keanggotaan didalamnya namun mampu menjadi magnet untuk orang berkumpul, berinteraksi, hingga menghasilkan sesuatu hal secara kolektif. Pengunaan ruang publik memang pilihat yang tepat saat seniman berbicara untuk mendistribusikan karyanya langsung kepada masyarakat, karena ruang publik merupakan tempat yang strategis untuk melakukan kegiatan yang mengandung unsur politis (dalam artian melakukan aktifitas persuasif kepada masyarakat), hal ini ditulis oleh Jurgem Habermas bahwa ruang publik mulai mendapat fungsi politis sejak abad 18, namun jenis fungsi politis itu sendiri baru bisa dipahami jika dikaitkan dengan fase tertentu di dalam sejarah perkembangan masyarakat sipil sebagai suatu keseluruhan tempat dimana pertukaran komoditas dan kerja sosial jadi semakin terbebaskan dari instruksi-instruksi pemerintah 2.

Dengan mengunakan warung sebagai ruang pamer yang di inginkan oleh Seniman adalah agar aktifitas senirupa dibuat sedekat mungkin dengan masyarakat sebagai bentuk edukasi terhadap masyarakat perihal bentuk-bentuk seni, pendekatan aktifitas seni rupa melalui metode cangkrukan menjadi pola kerja yang dilakukan oleh seniman agar karya yang dibuat tidak menjadi karya yang eksklusif hanya untuk di apresiasi hanya di medan seni. Karya yang ditampilkan pun juga tidak sepenuhnya mengadaptasi bentuk penyajian yang ada di galeri, display yang dibuat oleh seniman benar-benar disesuaikan dengan apa yang ditemui di warung, karena bila menggubang apa yang ada di warung itu sendiri yang ditakutkan adalah esensi warung sebagai tempat cangkruk akan luntur.

Seniman akan membuat sebuah warung kecil didalam warung kopi, warung kecil itu akan menjadi pusat aktifitas dari seniman, tetap akan ada yang di display di tembok namun selebihnya karya akan dikemas menyerupai jajanan yang sering ditemui di warung kopi. Karya seni yang dibuat oleh seniman akan ditata sedemikan rupa diwarung namun tetap dengan batasan agar warung tersebut tetap berlaku sebagai warung bukan menjadi tempat yang berbeda.

 

…………

 

 

1 spatio temporal : spa·ti·o·tem·po·ral à belonging to both space and time or to space-time.

2 Ruang Publik ‘sebuah kajian tentang kategori masyarakat borjuis’ – Jurgen Hebermas, 106

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *