Review Ampyang

Posted on Posted in News
Spread the love

image

Pameran Seni

AMPYANG

Kacang cino gulo jowo

27 mei- 18 juni 2016

Galeri seni house of sampoerna , taman sampoerna 6, Surabaya 60163

Perupa : Aloysisus Erwin S, B.G Fabiola Natasha, Nani Wijaya, Rachmad Priyandoko

Kita adalah manusia yang tercipta dari proses meniru, demikian kiranya yang Plato gambarkan mengenai salah satu metode manusia terbentuk hingga menjadi seorang individu yang utuh (nemesis). Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu saja akan bertemu dengan hal yang kita sangat akrab ataupun sangat asing namun seiring berjalanya waktu hal yang akrab dan asing itupun akan melebur menjadi bagian yang tak terpisahkan.

image

dokumentasi budidayabaik

Disebutlah proses alkulturasi, proses masuk dan jadinya pola budaya dimana kita berada saat ini di Indonesia dan tentunya budaya yang lahir adalah dengan proses peleburan dari berbagai budaya yang masuk. Kita akan menyempitkan pandangan kita kepada Surabaya, di Surabaya sendiri banyak sekali budaya yang masuk dan campur aduk antara satu sama lain, seperti budaya bawaan dari Jawa, Arab, Cina, Madura dan sebagainya.

Dalam pameran Ampyang yang mengambil tema “kacang cino gulo jowo” ini adalah pameran yang merepresentasikan alkuturasi budaya antara cina dan jawa. Sebagai orang jawa tentu kita akan banyak memiliki pemikiran bahwa cina merupan inlander yang kemudian tinggal di jawa, namun pemaknaan sejarah tersebut kiranya akan banyak bergeser menurut waktu nya, bisa saja semakin lama suku cina akan menjadi suku “pribumi” karena lama nya ia bernaung disini, sangat sulit diterima untuk saat ini tapi mungkin saja hal tersebut bisa terjadi.

image

dokumentasi budidayabaik

Tulisan yang dipaparkan untuk menjelaskan pameran ini juga banyak berbicara menggenai alkulturasi budaya cina di tanah jawa yang kemuadian karena lamanya ia berada disini maka budaya ataupun produk budaya tersebut menjadi seolah-olah adalah budaya lokal.

Suguhan karya yang ditampilkan oleh Aloysisus Erwin S, B.G Fabiola Natasha, Nani Wijaya, dan Rachmad Priyandoko cukup beragam dengan memadukan lukis, instalasi ataupun bentuk-bentuk eksperimental, mereka juga apik dalam membahasakan pandangannya terhadapa alkulturasi yang terjadi antara cina dan jawa.

Seperti Rachmad yang menggambarkan visual jawa dengan bentuk wayang, dan Nani Wijaya menggambar dengan mengunakan tinta cina, dan dua orang lainya dengan sudut  pandang khas masing-masing.

image

dokumentasi budidayabaik

Kekurangan dalam pameran ini menurut saya ada beberapa yang disajikan secara prematur dan terkesan kotor, kotor bukan karena disenggaja untuk menjadi kotor, namun kortor karena belum terlalu siapnya karya tersebut, ada pula bentuk ekperiment yang ditampilkan dengan penggunaan media-media non kanvas namun dalam karya-karya ini pula terkesan dipaksakan sehingga untuk dapat menikmatinya kita perlu meraba dengan berhati-hati apa maksud dari si pengkarya.

Saya tidak terlalu menggeatui bagaimana proses pembuatan karya yang dipamerkan, namun menurut penglihatan saya perlu sedikit waktu lagi untuk merampungkan karya sebelum siap untuk dipamerkan, atau malah perlu peran seorang kurator sebagai penakar kualitas dan ketercapainya karya tersebut untuk dapat di dinikmati dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *