Oleh : Dwiki Nugroho Mukti
Sejarah mooi indie
Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. Namun demikian istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai.
Secara harafiah Mooi Indie berarti Hindia Belanda yang Indah
Lukisan-Iukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyek maternya adalah pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Selain itu kecantikan dan eksotisme wanita-wanita pribumi, baik dalam pose keseharian, sebagai penari, atau pun dalam keadaan setengah busana. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda.
Korelasi mooi indie dengan seni modern dewasa ini
Mooi indie adalah sebuah istilah yang saat itu digunkan oleh S.Sudjojono untuk mengejek lukisan yang melulu indah pada massa itu , korelasi dengan seni modern saat ini sangat luas , mari kita memperluas wilayah pembahasan kita mengenenai mooi indie saya tidak akan mengkotakan mooi indei untuk wilayah seni rupa saja tapi saya juga akan memperluas ke wilayah kreatif manusia dengan pendekatan keindahan .
Dalam proses berkesenian setiap orang memiliki tujuan masing masing ada yang hanya sebatas mencerna sebuah keindahan lalu menelurkan keindahan juga atau membuat sesuatu yang mengacu pada non keindahan dari keindahan tersebut atau banyak proses yang lain yang dilakukan dalam berkarya . Banyak dari mereka yang mengusung semangat idealism pribadi dalam berkesenianya hal itu sebenarnya mutlak harus dilakukan oleh tiap orang yang mempunyai niatan menjadi seorang seniman , mengapa demikia karena seniman sendiri dewasa ini adalah orang yang berkarya dengan pendekatan pikiran dan perasan dan seniman bukan sepenuhnya seorang karyawan yang hurus mengambar atau mengerjakan yang pasar atau bos inginkan (seniman pasar) , saya tidak memungkiri bahwasanya setiap individu memiliki tendensi tersendiri dalam berkarya dan dapat kita lihat dari tendensi tersebut akan kea rah mana karya kita akan menjadi yang yang idealism atau ber oreintasi pasar .
Tujuan atau pencapaian per personal dalam berkaya sangat berbeda beda ada yang murni untuk mencari uang , menyalurkan bakat minat , atau yang lain-lain , kerelatifan harusnya secara arif kita terima , saya akan mengesampingan sebuah profesi seniman (seniman pasar) karena bila masuk keranah itu perlu pembahasan yang lebih luas lagi . dalam istilah mooi indei maka akan banyak menyerang mengenai lukisan yang melandaskan keindahan yang utopia dalam setiap karyanya , beralasan karya sebagai oase penyegar saat kita lelah atau saat kita mencari hiburan , hal tersebut sah dan seharusnya tidak ada pengolongan semacam itu ( mooi indie) karena saya rasa pendekatan penyampain karya per personal adalah berbeda beda mungkin dengan sebuah keindahan tersebut dalam proses berkaryanya ia menemukan sebuah kepuasan batin , atau malah ia memasukan isu-isu propaganda dibalik keindahan tersebut , kita seharusnya secara arif bisa mengamati dengan seksama sebelum memutuskan .
Beruntunglah mereka yang ingin lebih dalam berkarya seperti seorang S.Sudjojono ia adalah seorang yang ingin lebih dari sekedar keindahan , namun bagi mereka yang masih mengangap keindahan adalah passion mereka dalam berkarya mereka juga beruntung karena mungkin hal tersebutlah yang menjadi passion mereka dalam berkarya .
Lalu dimana batasan proses kesenian , untuk menjadi membuat karya yang utopis atau idealis ?
Saya berangapan untuk menjadi seorang seniman yang idelis kita harus mampu menghidupi karya kita , omong kosong bila seorang seniman menghidupi proses berkesenian nya dengan karyanya sendiri namun dengan segala pemikiran idealis dari ia sendiri , bila seorang seniman sudah mendapatkan kontrak atau yang mendapat kolektor yang tetap ia akan cenderung nyaman dan akan menbuat karya yang tidah jauh dari karya-karyanya yang laku , mengapa demikian karna kolektor lebih banyak mencari seniman yang menurut mereka konsisten , karena konsesitensi sendiri akan banyak beepengaruh terhadap harga karya tersebut . bila seniman sudah dituntut untuk konsisten dalam bentuk karyanya mereka akan menyebut seniman tersebut matang atau apalah sesuka hati mereka , dan hal tersebut secara tidak langsung akan banyak membatasi proses kreatif kita sebagai seniman yang idealnya harus tetap menjadi kreatif , kreatif dalam berkarya berekplorasi dan ke kreatifan dalam bidang lainnya . Maka saya akan menyebut mereka orang kretif namun masih terbelengu niatanya untuk melakakan proses yang lebih kreatif lagi .
Bolehlah kita menjadi orang yang berprasangka baik dan melihat dari sisi positif , oke mereka berkarya sesuai apa yang disukai oleh para kolektornya namun mereka juga melakukan proses kreatif yang lain , dan memang seperti inilih idealnya seniman menurut hemat saya .
Seni adalah sesuatu yang kita niatkan
Maksud saya adalah semua orang bisa untuk menjadi seniman tergantung niat dari mereka masing ,bila ada sebuah gerakan desember hitam yang menentang arus keindahan dengan sebuah konfrontas dari fx.harsono cs , dengan terang terangan mereka menolak bahwa kesenian adalah harus indah . Maka kita harus melakukan sebuah pergerakan yang disarkan oleh sebuah paham , dan paham tersebutlah yang akan membawa kita untuk lebih jauh lagi beperan dalan dunia kesenian seperti ……………
Bersambung…….
