Nona Minta Dansa

Posted on Posted in 2016, Journal, News
Spread the love

Redesign Sangkar Emas Wanita

Nona minta dansa | group exhibition

Oleh : Dwiki Nugroho Mukti

Minta dalah sebuah kata kerja yang berarti ingin mendapat, lantas apa yang diingini oleh nona? Nona ingin dansa, sebuah kalimat analogi yang memberikan gambaran tentang wanita saat ini. Saat ini wanita secara penuh mendapat tempat atau kedudukan yang sama dengan pria salah satu contohnya dalah ada banyak wanita yang mampu menjadi pemimpin besar, bahkan untuk memimpin sebuah Negara. Wacana yang digaungkan adalah seperti demikian namun faktanya meskipun wanita tahu bahwa ia memiliki tempat yang sama dengan pria namun wanita sebagian besar masih memiliki sekat yang tertanam pada tiap-tiap meraka, bahwa mereka tidak sama dengan pria (bukan hal yang kodrati). Dalam judul pameran ini kita akan mendapati sebuah kalimat yang bersifat persuasif wanita ingin mengajak untuk melakukan sesuatu, sebuah gerakan agar tidak menjadi  pihak yang pasif yang hanya ingin menjadi penerima, namun juga berkontribusi bagi sebuah perdapan.

Dalam ajakannya tiap-tiap “nona” akan memberi perlakuan yang berbeda dalam usahanya, mungkin dengan menunjukan kemandirianya, ketangguhanya, atau malah menggunakan kelemahanya sebagai alat. Tidak ada yang salah pada tiap-tiap cara yang digunakan hanya kembali lagi pada wanita sejauh apa ia mampu menggenali dirinya sendiri untuk dapat menggunakan potensi terbaiknya.

Seni rupa nona di Surabaya

Berbicara lebih jauh dalam peran wanita dalam medan keseni rupaan surabaya, mungkin bila kita melihat seni rupa di Surabaya, sepintas kita akan menjumpai bahwa medan seni rupa disini di kuasai oleh pria, karena memang pelaku yang lebih aktif adalah pelaku pria dan sebagainya-dan sebagainya. Sebenarnya hal itu tidak sepenuhya benar banyak juga pelaku wanita yang ada disurabaya namun memang hanya segelintir saja yang akhirnya terjun secara penuh dalam medan seni rupa murni, dan sisanya lebih ke bentuk yang aplikatif.

Menggenali diri sendiri untuk dapat menggunakn potensi terbaik memang harus dilakukan, bila wanita di medan kesenirupaan surabaya lebih cocok unutk berada dalam ranah seni rupa aplikatif kenapa tidak, toh saat dalam bidang tersebut potensi mereka bisa lebih optimal hal tersebut akan menjadi hal yang baik tentu saja, tidak memaksakan diri untuk secara langsung terjun dalam medan seni rupa murni juga merupakan pilihan tepat, toh dalam wacana sekarang sebenarnya juga sudah kabur entah itu murni atau aplikatif keduanya bisa menjangkau antara satu dengan yang lain, keduanya bisa berubah.

Meskipun tidak banyak namun ada beberapa perupa yang menggambil jalur seni rupa murni dan mampu menjadi kekuatan di Surabaya, seperti Lini Natalini, Indah Woro, dan beberapa orang yang tidak cukup apabila saya sebutkan satu persatu. Karya-karya wanita ini menjadi karya penting terhadap perkembangan seni rupa di surabaya, dan merekalah kartini di bidang seni rupa di surabaya.

Gerak Nona

Bila ingin melihat gerak nona  apakah kita harus selalu menunggu hari kartini untuk melihatnya, memang momentum hari kartini merupakan momentum yang tepat untuk para wanita keluar dn unjuk gigi, harinya wanita. Namun di luar hari kartini wanita harusnya selalu unjuk gigi sebagai pembuktian bahwa dirinya ada dan bergerak disini, setiap hari akan menjadinya harinya wanita saat ini !.

Di surabaya saya mencatat ada beberapa gerakan yang dilakukan oleh wanita untuk menghidupi arus kesenian disurabaya, salah satunya adalah acara ini (nona minta dansa), acara yang di inisiai oleh wanita (Risya Ayudya) yang tergabung dalam komunitas Serbuk Kayu, lalu ada Arisan Jari yang aktif dengan kegitan workshopnya.

Meskipun bukan sebuah pergerakan yang massive namun apa yang dilakukan oleh wanita-wanita ini diharapkan mampu menjadi pemantik untuk wanita-wanita yang lain untuk berani memulai menunjukan potensi yang dimilikinya tanpa harus menunggu, saat ia hanya menunggu maka ia akan tertinggal satu putaran dunia, dan bila ia terus menunggu ia akan selalu tertinggal putaran dunia.

………………………………………………………

Menggutip diskripsi karya salah satu seniman yang terlibat dalam pameran ini, Khanza, Bahwa wanita selalu bermimpi untuk menjadi seorang putri yang hidup dalam sangkar emas, karena hal tersebut di ucapkan oleh wanita maka saya akan percaya dan mengamini hal tersebut, namun untuk dapat menjadi putri wanita harus bekerja keras dan mulai membangun sangkarnya sendiri, jangan selalu menunggu agar seseorang membuatkan sangkar untuk dirimu, mungkin lebih baik bila sangkar tersebut dibangun dengan kehendak dan rancangan dirimu sendiri sehingga bisa menjadi tempat yang benar-benar sesuai dan membawa banyak bahagia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *