HABI+

Posted on Posted in 2015, Journal, News
Spread the love

ARIF MULYADI SOLO EXHIBITION / HABI+

KEBIASAAN VISUAL

Oleh : Dwiki Nugroho Mukti

 

Setiap hari sesudah membuka mata seusai bangun tidur kita akan melakukan program-program yang sudah ditanamkan oleh diri kita sendiri. Program yang di maksud adalah kebiasaan-kebiasaan yang secara sadar atau tidak sadar dilakukan, dilakukan secara berulang-ulang tiap hari nya. Hal tersebut dilakukan adalah karena adanya banyak faktor yang mempengaruhi mulai dari kebutuhan secara fisik atau kebutuhan secara psikologis, biasanya kebiasaan yang dilakukan oleh manusia merupakan sesuatu yang ditanamkan jauh dalam ke dalam diri manusia itu sendiri, jauh ke dalam ke alam bawah sadar nya hingga secara bawah sadar pula kebiasaan itu akan dilakukan berulang-ulang.

Habit merupakan sebuah alih bahasa dari kebiasaan, habit sendiri dalam kebahasaan memiliki arti ; sebuah pengulangan, dilakukan dalam tak sadar, diperoleh melalui pengulangan yang sering.

Kebiasaan dari sisi psikologis, diartikan sebagai cara berfikir, keinginan, dan perasaan yang diperoleh melalui pengulangan pengalaman mental yang pernah terjadi1. kebiasaan yang di ulas sampai kalimat ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh individu bukan secara kelompok, karena saat kebiasaan itu menjadi aktifitas rutin yang dilakukan oleh kelompok yang berisi beberapa orang maka kebiasaan itu kana bergeser substansinya menjadi tradisi, dan saat tradisi tersebut memilki sebuah wilayah sebgaia tempat keberlangsunganya maka akan di amini sebagai budaya pada wilayah tersebut.

Hampir semua orang memiliki kebiasaan yang berbeda namun ada sedikit kemungkinan kecil yang memumungkinkan manusia satu dengan manusia yang lain memiliki kebiasaaan yang sama. Kemungkinan itu bisa terjadi saat manusia tersebut memiliki kesenangan yang sama atau pekerjaan yang sama sehingga rutinitas yang dilakukanya tiap hari hampir serupa sehingga membentuk sebuah kebiasaan yang sama.

Sebagai seorang perupa sudah umum tentunya untuk selalu melakukan aktifitas melukis atau aktifitas lain yang berhubungan dengan visual, mengabadikan pengalaman pribadi atau visualnya kedalam sebuah media, apapun itu. Bentuk yang paling sedehana dari bentuk visual mungkin tiap seniman memilki penafsiran sendiri akan nya, namun secara umum sketch adalah media paling umum digunakan oleh seorang perupa untuk meletakan ide gagasan yang terfikirkan oleh nya ataupun pengalaman visual.

………………

Sebagai manusia dengan semua kompleksitas yang ditanamkan padanya, manusia harus hidup dengan hal tersebut dan melalui hari demi hari, saat melewati hari kita sebagai manusia akan banyak bertabrakan dengan sekitar, dengan hal yang bersifat personal ataupun general. Semua orang menggalami hal tersebut dengan tidak terkecuali, disini Arif akan banyak bercerita mengenai persoalan yang bersifat personal ke dalam diri nya sendiri, persoalan mengenai dirinya sendiri, imajinasi yang terbang di kepalanya, dan keluarga yang selalu ada di sekitarnya. Disamping melakukan sketch sebagai kebiasaan maka isu-isu yang berkisar mengenai dirinya-imajinasi-keluarganya adalah garis besar karya-karya arif yang selalu disisipkan di tiap karya yang dibuatnya.

Selain isu yang bersifat personal, Arif juga ingin mengkritisi isu lain yang berkaitan dengan media yang banyak ia gunakan dalam pameran kali ini, media tersebut adalah kertas, ia merasa kertas adalah komponen yang penting dalam penciptaan-penciptaan karya besar, bukan hanya sekedar media remeh temeh yang dianggap kurang penting, lalu dibuang dan kurang dihargai sebagai karya pada mana semestinya

Dalam menyampaikan pengalaman pribadinya sebagai rekam visual atau sebagai bentuk-bentuk sentimentil saat ia menciptakan karya dimana Arif mengangap proses tersebut adalah ibadah, sebuah kewajiban yang harus dilakukan karena sudah diberikan oleh –Nya anugrah dan kelebihan, proses dalam ia bekerja membuat karya tidak memiliki batasan waktu dan tempat jadi ia bisa membuat sebuah karya seni kapanpun dan dimanapun sesuai keinginannya. Maka dari itu arif mengunakan media yang dirasa fleksibel dan praktis namun mampu memuat ide atau rekam visual dengan padat.

Pameran kali ini akan di isi oleh karya-karya Arif yang dibuat mulai tahun 2012 sampai karya-karya terbaru yang dibuat tahun 2015, pada awalnya karya-karya yang dibuat Arif belum ditujukan untuk pameran tunggal, namun seiring dengan berjalanya waktu dimana Arif sudah sangat sadar untuk melakukan sebuah bentuk dokumentasi terhadap karya-karyanya, saat itu pula ia merasa penting untuk menyampaikan karya-karyanya ke dalam sebuah forum terbuka. Dalam pameran tunggalnya yang di adakan di rumah sore, kebanyakan karya Arif akan didominasi oleh karya sketsa, karya sehari-hari yang dibuat olehnya. Sebuah karya yang mucul karena kebiasaan dan kesadaran akan pentingnya mendokumentasi ide gagasan ataupun pengalaman visual kedalam semuah media, agar tidak mengguap begitu saja. Melakukan sketsa tentunya sudah umum dilakukan oleh sorang perupa, yang membuat karya-karya dari arif terlihat spesial adalah bentuk figuratif khas dan goresan ekspresionis yang sangat khas.

Karya yang disajikan berkisar pada keseharianya, visual yang ditawarkan akan cenderung kaku dan keras, menubrukan warna dengan berani, namun meskipun dengan visual gambar yang sangat ekpresionis didalamnya terdapat pesan-pesan yang hangat tentang keseharian dan isu-isu yang Arif angkat.

Karya-karya Arif  adalah jenis karya yang beraliran ekpresionis dan dikemas dalam bentuk bentuk naif. Is that called gestural painter, concerned in different way with spontaneous and unique touch of the artist, his or her “handwriting”, and the emphatic texture of the paint it include such major artist as pollock, willem de kooning, and franz klik 2, dengan gesture karya yang khas di tiap karyanya arif menyuguhkan sebuah ilustrasi mengenai keseharianya, hal-hal ringan yang terjadi sehari-hari, namun mampu digambarkan dengan menarik dalam karya-karya nya. Dari kesemua karya-karya yang dibuat oleh Arif dalam ia mendokumentasikan keseharianya adalah seperti apa yang dilontarkan oleh Harold Rosenberg mengenai aliran ekpresionisme yaitu ‘what was go on canvas not picture but and event’, event yang berkutat pada seputaran keseharian Arif.

Dalam pemeran tunggal arif ini kekuatan yang dimunculkan tidak hanya dalam karya-karya namun juga penataan karya dan secara keselurahan acara. Penataan karya dalam pameran tunggal Arif ini akan ditata sedemikian rupa untuk memainkan irama dan pemenuhan volume karya dalam ruang pamer. Sebelum mengunakan bentuk display karya yang sedemikian Arif sudah melakukan percobaan mengenai bentuk display yang dilakukan di stodio pribadinya, sehingga penataan yang demikian kiranya akan mampu memaksimalkan karya-karya yang dipamerkan.

………………

Kepuasan pribadi saat membuat karya adalah ektase yang dirasa oleh Arif, selain kepuasan yang sedemikian Arif memiliki sebuah mimpi besar dalam berkesenian dan menjadi seniman. Maka pameran tunggal seperti ini adalah sebuah langkah untuk mendekatkan Arif dengan mimpi yang ingin diraihnya.

Semoga pameran tunggal yang pertama bagi Arif Mulyadi ini adalah sebuah penanda dirinya dalam dunia seni rupa, dan juga merupakan awalah untuk ia melakukan pameran-pameran tunggal dengan ‘kegilaan-kegilaan’ lainya.

 

 

1 American Journal of Psychology (1903)

2 Anason, H.H – Mansfield, C. Elizabeth. History of modern art (London,2012),435

 

 

download catalog here

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *