VISUAREKAN vol.2

Posted on Posted in Tak Berkategori
Spread the love

VISUAREKAN vol.2

\\BEAUTY & ANTI-BEAUTY \\online new media art festival + exhibition\\

Opening 27 October 2020 at www.serbukayu.org

Kurator : Dwiki Nugroho Mukti, Sito Fossy Biosa
Penulis : Andika W.A.P.
Seniman : Afif P. Amerta x Amrul Athabiq, Agung ‘Tato’ Suryanto, Aldy Maulana, Alexandri Luthfi, Anggawedhaswhara x M. Rico Wicaksono, Ariiq Septiawan Suseno, Atras Alwafi, Bachrul Restu Bagja, Bagus Adji Pambudi, Deden Ardiansyah, Direct Performance Up, Eka Wahyu Primadani, Ganang Winaryadi, Hidayatul Azmi, Kholif Mundzir Aldry, Krisna Murti, Kusen Donny Hermansyah, Lukman Zaman, Moch Hasrul, Nanang ‘Garuda’ Rachmat, Nicholas Frederico  X James Michael, Pemuda Harapan Kampung, Radja Gani X Candra P.W, Siti Balkis Bt Mahd Saleh Masari, Teles Berdarah, Topan Bagus Permadi, Toyol Dolanan Nuklir, Trio Muharam, Wayang Tenda, Yulius Widi Nugroho

************************************************************************************************

Kuratorial

 

Spektrum Estetis
Keindahan tidak memiliki sisi yang pasti, dia  bisa mengelinding ke semua arah dan tentu saja juga dapat di arahkan sesuai dengan keinginan. Keindahan menjadi kata sifat yang pemaknaanya tergantung bagaimana apresiator akan memaknainya. Keindahan memiliki makna yang sangat relatif dalam sebuah peradaban, keindahan biasanya memiliki standart tertentu yang di amini oleh banyak orang, namun meskipun demikian keindahan yang di amini tersebut tidak memiliki nilai yang mutlak.
Pemaknaan indah yang distandarisasi sebenarnya akan membatasi makna dari keindahan itu sendiri, jika sebuah karya seni di asosiasikan sebagai bentuk yang memiliki unsur keindahan maka sebenarnya semua hal juga memiliki nilai keindahan tersebut. Karya seni hari ini sangat beragam dan tidak memiliki batas bentuk atau dimensi, semua hal bisa diklaim menjadi karya seni asal memiliki konsepsi yang jelas. Sedangkan ‘hal’ yang tidak memiliki konsepsi jelas dia hanya akan menjadi objek yang memiliki potensial, jika tidak ada respon lebih lanjut maka posisinya akan tetap hanya menjadi objek potensial.
Keindahan yang banyak dimaknai bertautan dengan estetika, dalam paham tradisional lebih banyak ditautkan dengan bentuk seni yang lebih tinggi seperti seni murni, dan bentuk keindahan-keindahan yang memiliki nilai tinggi. Namun seiring dengan pendekatan perluasan pemaknaan apa itu seni maka ruang lingkup pengalaman estetika juga melebar, dan memunculkan berbagai bidang kajian estetika. Diantaranya adalah estetika lingkungan, estetika dan politik, estetika sosial, termasuk estetika relasional, dan estetika keseharian (Arnold Berleant, 2013). Pelebaran progresif dalam ruang lingkup penyelidikan estetika dan jauh dari tempat-tempat seni konvensional dimulai dengan memusatkan perhatian pada estetika lingkungan.1 Estetika lingkungan banyak mengacu pada analisa keindahan yang lebih alamiah seperti pemandangan alam, namun pada saat yang bersamaan kajian estetika lingkungan ini menemukan bentuknya juga diperkotaan sehingga memeperluas kondisi dan kemungkinan apresisiasi, maka pengalaman estetika lingkungan berkembang di lingkungan perkotaan dengan apa yang ada dan terjadi sehari-hari diperkotaan, dan menjadi kajian estetika sehari-hari, bahkan ruang luar menjadi subjek untuk kesadaran estetika (Arnold Berleant, 2013)
Estetika melibatkan keseluruhan spektrum estesis dan tidak hanya artistik, kita juga harus mempertimbangkan untuk mengalami pemandangan, matahari terbenam atau air terjun, gurun atau laut, terjun payung atau bungee jumping, mencicipi anggur, hubungan seksual, bermain catur atau poker, dan rolet , serta pengalaman terkait politik, agama, dan olahraga. Kita harus memasukkan juga situasi yang melibatkan kekerasan sosial dan penindasan yang dapat sangat mempengaruhi sensibilitas individu. Dalam semua kesempatan estesis ini, apakah menyenangkan atau menyakitkan, dalam melakukan dan menjalani, pengalaman kita terstruktur, dibingkai dan ditandai sesuai dengan kondisi biologis, konteks sosial dan kekhasan individu.
Dufrenne berpendapat bahwa objek memiliki otoritas atas pemaknaan terhadap dirinya, “Pada dasarnya, bukan kita yang menentukan apa yang indah. Objek itu sendiri memutuskan, dan ia melakukannya dengan memanifestasikan dirinya. Penilaian estetika diberikan dari dalam objek daripada dari dalam diri kita. Kami tidak mendefinisikan keindahan, kami memastikan apa objeknya”. (Dufrenne 1973, lxii)
Bagi John Dewey juga, gagasan kecantikan, untuk tujuan teoretis, menjadi istilah yang menghalangi. “Keindahan berada pada jarak paling jauh dari istilah analitik, dan karenanya dari konsepsi yang dapat menggambarkan teori sebagai alat penjelasan atau klasifikasi. Sayangnya, itu telah mengeras menjadi objek yang aneh; kegembiraan emosional telah menjadi sasaran apa yang oleh filsafat disebut hipostatisasi, dan konsep kecantikan sebagai esensi intuisi telah dihasilkan. Untuk kepentingan teori, istilah itu kemudian menjadi istilah yang menghambat” (Dewey [1934] 1980, 129–30). Dalam statement yang dilontarkan Dewey menyebut bahwa banyak penghalang yang diciptakan untuk dapat memaknai indah itu sendiri.
Ide ketidaktertarikan estetika sudah muncul di Shaftesbury dan Hume sebagai reaksi melawan egoisme borjuis dan perantaraan kasar, tetapi dikonsolidasikan tepat dengan Kant’s Critique of Judgment § 2. Konsep ketidaktertarikan Kant dapat diterapkan bukan untuk hubungan estetika tetapi untuk impor semiotik dari suatu objek atau peristiwa. Dengan kata lain, ketika proses semiosic digantikan oleh apresiasi estetika, subjek mungkin tidak tertarik pada apa yang dimaksud dengan objek untuk berkonsentrasi pada bagaimana hal itu disajikan, yaitu nilai estetika yang diperolehnya untuknya. (Mandoki, 2017)
Untuk dapat memaknai keindahan dan mengahakimi atas indah atau tidak indah adalah hal yang personal, merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalam estetik yang dimiliki, diproses di bawah sadar dan disingungkan dengan sadar. Meskipun terasa sangat membingungkan ketika dipikirkan namun dalam prakteknya pengambilan keputusan indah atau tidak indah yang membuat kita memiliki pengalaman baru atas sebuah objek atau kejadian akan terjadi secara natural. Ide menganai bagaimana proses apresiasi yang terjadi seperti diungkapkan oleh Dufrenne, dan Dewey adalah pola bagaimana apresiator memproses informasi untuk menyimpulkan secara personal. Ssedangkan ketidaktertarikan yang diutaran oleh Kant adalah respon terhadap fenomena yang terjadi di masyarakatnya, dan membuktikan bahwa standarisai keindahan terjadi dalam suatu peradapan, namun masing-masing individu berhak menolak dan tidak mengikuti standarisasi tersebut.

_______________________________________________________________________

1 Literatur di sini menjadi sangat luas. Beberapa karya berpengaruh termasuk R. W. Hepburn, “Estetika Kontemporer dan Pengabaian Kecantikan Alam,” dalam Wonder and Other Essays (Edinburgh: The University Press, 1984). —–, The Reach of the Aesthetic (Aldershot: Ashgate, 2001), Arnold Berleant, The Aesthetics of Environment (Philadelphia: Temple University Press, 1992), ——, Living in the Landscape: Toward an Estetika Lingkungan (Lawrence: University Press of Kansas, 1997), —- -, Estetika dan Lingkungan, Tema dan Variasi (Aldershot: Ashgate Publishing Ltd, 2005), Allen Carlson, Aesthetics and the Environment (New York: Routledge ), 2000; Allen Carlson, Nature and Landscape: An Introduction to Environmental Aesthetics (New York: Columbia University Press, 2009), Yrjö Sepänmaa, The Beauty of Environment: A General Model for Environmental Aesthetics (Environmental Ethics Books, PO Box 310980, Denton, TX, 1993), Emily Brady, Estetika Lingkungan Alam (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2003).

_______________________________________________________________________

Arnold Berleant. (2013). The Transformationsof aesthetics. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699. Retrieved from https://doi.org/10.17613/M6H41JM3P

Mandoki, K. (2017). Everyday Aesthetics.

Dewey, John. [1934] 1980. Art as Experience. New York, Perigee.

Dufrenne, Mikel. 1987. In the Presence of the Sensuous. Roberts, Mark. S. Gallagher, Dennis. (eds).

New Jersey: Humanities Press International.

************************************************************************************************

Tulisan Sito Fossy Biosa Yang Berantakan
Saya ingin mengulangi pernyataan ini; ‘Kebenaran nomor satu, baru kebagusan’ (Sudjojono). Beliau dengan tegas menyatakan bahwa seniman seharusnya tidak mempropagandakan kebagusan, akan tetapi mempropagandakan kebenaran pada tiap-tiap orang. Logika tersebut membuat saya semakin yakin bahwa wajar jika bentuk boleh dikesampingkan guna memperdalam nilai estetisnya (pra eksekusi hingga eksekusi), perihal membahas parameter atau acuan yang digunakan seniman untuk menimbang kemenarikan (beauty) dan ketidakmenarikan (anti beauty, konteks bentuk buruk yang “cantik”) suatu obyek. Nilai estetis tersebut dapat diamati dari sudut pandang ekspresi; cara obyek estetis hadir sesuai keinginan personal (seniman maupun spektator), salah satunya dikembangkan dengan metode chaos-menggunakan ungkapan ketidakteraturan bentuk, merupakan tatanan standarisasi keteraturan lainnya, melawan yang turisme-mooindie layaknya Jiwa Ketok Sudjojono.
Pembicaraan kita terikat dengan pencarian bentuk terdalam dari jiwa yang melebihi konsep konsistensi mapan nan rapi. Posisi ini sampai pada perdebatan panjang tentang yang ikonik dan yang melebur. Ikonik erat dengan pola pikir ciri khas mapan seniman, di sisi lain seniman juga terus berusaha menjalani pengalaman empiris, membongkar bentuk mapan untuk menemukan hal beda bersama kehidupan dan lingkungan sekitarnya. Dari sanalah ego selalu dibenturkan dengan kisah melankolia realita-derita manusia. Tabrakan pengalaman membuat keping demi keping ingatan semakin kaya dan terangkai acak dengan berbagai peristiwa (terlihat jelas dari karya PUZZLE ISLANDS, Nanang ‘Garuda’ Rakhmat Hidayat, 2020). Saya mampu mengatakan dan menyamaratakan bahwa cara eksplorasi seniman dan karya mereka yang dipamerkan sedang melalui proses mengalami lompatan jaman, dalam situasi banal-berantakan. Di tahun penuh resiko ini, pemahaman melawan kehati-hatian berkarya macam itu justru menarik dan sungguh saya rindukan.

************************************************************************************************

BEAUTY AND ANTI BEAUTY

“These people are not pretty. It’s not a pretty scene but it’s beautiful…

beauty speaks for itself.” – Van Gogh

visuarekan.istts – Keindahan adalah sebuah pola dari satu kesepakatan, personal, maupun komunal. Walau ia juga adalah sisi subjektifitas dari interpretasi manusia, yang mengikat mereka dengan ingatan akan satu tragedi yang menjeratnya. Ada sebuah susunan yang akhirnya dibuat manusia untuk membicarakannya, mengutarakannya; dalam kata, visual, dan gerak, yang berimbas pada subjektifitas tersebut. Keindahan akan selalu mengakar pada hakekat perenungan masing-masing. Ia menjelajahi alam kesadaran manusia untuk bisa menyentuh titik intuisinya. Namun begitupun, keindahan itu sendiri bukanlah sekadar rasa saja, interpretasinya dipicu oleh wujud atau penampakannya sendiri. Banyak seniman yang terjebak pada konsepsi romantisme ini, bahwa bentuk sebuah karya seni adalah perihal keindahan saja. Mereka yang memperhatikan betul bagaimana keindahan mampu merepresentasikan dirinya sesuai dengan pola dan harapan masyarakat saat itu sungguh terlihat jelas. Fungsi seni sebagai penyampai makna-makna atau sarana kebajikan untuk disuarakan menjadi formula yang diulangi pada era-era romantisme. Hal ini kemudian berpengaruh pada bagaimana bentuk yang hadir bukan lagi sebagai bentuk yang bertolak dengan masyarakat itu sendiri, atau zaman di mana karya tersebut dihadirkan. Sebab di dalamnya, ada makna yang berusaha disampaikan sehingga penolakan yang timbul dari tolak ukur standarisasi masyarakat bukanlah suatu hal yang baik.
Dalam perkembangannya seni selalu merepresentasikan zaman, dan fungsinya sebagai suatu kacamata masyarakat terutama seniman itu sendiri, yang berubah ketika dunia dipenuhi dengan kehancuran. Perubahan pandangan yang dihasilkannya, dan hidupnya budaya konsumtif masyarakat modern kini membuat obsesi terhadap keindahan justru semakin candu namun juga semakin hampa. Di sisi lain, secara ironis mengilhami bagaimana seni mengonsepkan kembali keluluh lantak-an harapan, dan wujud masyarakat yang sakit, sebagaimana wujud ketamakan manusia tadi menghancurkan segala mimpi-mimpi yang dibangun seperti pada masa romantisme. Di sinilah munculnya gerakan perlawanan terhadap estetika guna menemukan bentuk baru yang mampu mengonsepkan estetika itu sendiri sebagai suatu yang nyata, yang hidup, dan bahkan bila perlu seniman tidak lagi boleh ikut campur terhadap pemaknaan karyanya. Yang artinya: karya itu memiliki daya hidup atas kehendaknya sendiri. Bukan sebagai budak dari harapan-harapan utopis generasi itu lagi.
Sehingga bila sebelumnya karya dan bentuknya yang indah merupakan perwujudan dari konsepsi masyarakat terhadap indah itu sendiri. Pada masa setelah perang, hal ini berubah menjadi konsep keindahan yang lebih personal dan ironis. Dua hal yang akan selalu dibenturkan untuk menghadirkan keindahan yang lebih realistis kepada dunia itu sendiri. Mediasi medium untuk menyentuh hal-hal personal selalu akan menghadirkan juxtapose antara realitas yang dihadapinya. Kehadiran seni bukan lagi dimaknai sebagai sesuatu yang eksklusif namun sebagai suatu eksperimentasi yang menghadirkan fluidasi antara audience/masyarakat terhadapnya. Sehingga seni bukanlah seni atau wujud ide dari seniman saja, ia merupakan ruang waktu pergolakan zaman, namun bersamaan dengan itu juga bukan bagian dari zaman tersebut. Ia menolak konsepsi untuk terus menemukan konsepsi baru tentang dunia, dan harapan-harapan ironis antara realitas dan mimpi utopis generasi sekarang, dan selanjutnya yang tiada henti.
Festival-pameran VISUAREKAN (tema tahun lalu; Form, Shape, adalah Bentuk) dibentuk oleh Sito Fossy Biosa, M. Sn (dosen DKV ISTTS) demi mengkawinsilangkan ragam bentuk seni dan teknologi di kota Surabaya melalui spirit New Media Art sekaligus merayakan eksistensi World Day of Audiovisual Heritage tiap tanggal 27 Oktober, guna memberi pemahaman bahwa dekade ini peradaban seni tidak dapat lepas dari penciptaan-penciptaan terkhusus berbasis teknologi, maka tanggal 27 Oktober mendatang, kami akan siap menyelenggarakan acara penting VISUAREKAN VOL. 2 dengan tema Beauty dan Anti-Beauty untuk melupakan pandemi 2020 yang sudah merusak keindahan bersama “si cantik”.

I speak only of myself since I do not wish to convince, I have no right to drag others into my river, I oblige no one to follow me and everybody practices his art in his own way… Always destroy what is in you.” Tristan Tzara (Seven Dada Manifesto)

Subjektifitas dan pola dari kinerja manusia merespon pandangan disekitarnya, yang acak dan spontan, menjadi suatu bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan, adalah apa yang kita sebut hari ini sebagai sebuah karya Seni. Sesuatu yang menyerang individu kepada hasrat peribadinya, ketamakannya, dan memori-memori hidup yang dirasakannya berserak, bahkan hingga menghapuskan batas antara marah dan kesedihan, adalah apa yang seni lakukan kepada manusia itu sendiri. Ouroboros, adalah analogi yang tepat baginya, bagian yang satu untuk dibunuh dari kesatuannya sendiri. Yang terpisah namun tidak terpisahkan. Seperti Nietzsche mendeskripsikan tragedi sebagai: suatu yang muncul dari paduan suara tangisan. Keningratan sebuah karya seni dengan klise selalu dipertentangkan dengan paduan-paduan suara ini yang kini ingin dihapuskan. Moralitas itu sendiri, disisi lain selalu dianggap sebagai yang populer, tepat, dan kokoh kedudukannya, ia tidak memiliki campur tangan dengan dosa-dosa sosial dan zaman. Sesuatu yang tidak lebih dari sekedar telapak bersarung tangan yang kalau kotor, akan kita ganti dengan yang baru. Padahal yang kita buat adalah moral yang berlandaskan ideal dan kebebasan puitiknya. Itu bukan paduan suara tangisan yang dimaksud Nietzsche namun merupakan paduan suara sebagai tembok hidup, seperti yang dideskripsikan Schiller; tembok yang mengelilingi dirinya, untuk menutup diri seluruhnya dari dunia yang nyata, aneh, dan absurd, demi kepentingan landasan ideal dan kebebasan puitiknya. Tapi semuanya itu tetap bertumpu pada subjektifitas kita sebagai konseptor dan pemakna.
Visuarekan adalah salah satu bentuk subjektifitas, sesuatu yang tidak ideal, sesuatu yang tragik, dan bermula dari tangisan, dan tembok-tembok yang berdiri secara puitik untuk menghalangi absurditas ideal sebagai pengganggu dari pikiran-pikiran “natural”: Indah yang natural, indah yang menghasrat, indah yang mencinta, dan indah yang mengharu biru kepada moral dan cita-cita kebangsaan propagandis revolusioner berabad-abad kemanusiaan, tentang idealisme sosialis, komunis, demokrat, dan kapital (dan yang tak terungkap) – hasrat manusia yang ingin berkuasa. Itulah idealisme kita yang tertutup tembok, ungkap Schiller. Menghasilkan moralitas yang judgemental terhadap tragik, dan makna-makna dibalik sengsara. Kini kita menghadapi tragik itu secara langsung, dan moral-moral budaya coba kita pertahankan. Pandemi yang memaksa manusia untuk menyimpulkan peradaban dan kebiasaan-kebiasaan baru, mendorong manusia untuk menghadapi tragik dari hasil sebab akibat dari budaya mereka; sentuhan, sebagai bentuk keakraban dan kasih sayang, menjadi suatu larangan. Bersetubuh sebagai bentuk cinta, dan libido almiah, harus berbatas pengobatan. Sungguh tragik, melihat kini tembok itu nampak bernasib sama dengan tembok Berlin. Yang mulai dicoret, dan dipanjati untuk melihat sisi lain, memaklumi, dan membiasakan. Tragik yang dahulu merupakan ekspresi, kini perlahan kita buat untuk “keselamatan” diri sendiri. Kita manusia  yang tamak, bagaimanapun, apapun kita lakukan untuk lindungi ego dan hasrat sendiri.
Visuarekan Vol.01, adalah panggung tragik dari pertunjukan kebenaran zaman dan perkembangan ekspresi dari manusia yang merupakan respon terhadap budaya dan sosial. Kini, di tahun yang sengsara ini, Visuarekan Vol.02 dengan wadah virtual, dan bentuk serta dimensi yang tak mampu kita pegang, selain berlainan. Menyajikan tragik bukan lagi sebagai anti-tesis, bukan lagi ring tinju antara Indah dan Tidak Indah. Namun justru sudah menjadi bagian dari “keindahan baru”, sebagai sintesis dari anti-tesis yang selama ini ingin coba kita pertontonkan sebagai hal yang natural; tidak sebagai respon saja, tapi turut menjadi akibat dari respon tersebut.
Selamat datang di VISUAREKAN Vol. 02., Leburlah Menjadi Keindahan Baru.

************************************************************************************************

Artist & Artwork

                             

*klik pada foto seniman untuk dapat melihat profil dan karya seniman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *