Krisna Murti

Posted on Posted in Tak Berkategori
Spread the love

Krisna Murti adalah bapak video art Indonesia. Seniman visual kelahiran Kupang, 1957. Ia belajar di FSRD ITB pada 1976-1981. Krisna Murti pernah bekerja sebagai dosen di Pascasarjana ISI Yogyakarta sampai 2017 dan asisten Sadali di ITB pada tahun 1984-1987. Krisna Murti juga aktif mengikuti residensi di berbagai negara, antara lain Jepang, Singapura, Kuba, Rusia, Australia, Jerman, dan Belanda.

Pada tahun 1993, Krisna Murti menciptakan karyanya yang berjudul 12 Jam Dalam Kehidupan Penari Agung Rai, dalam pertunjukan video. Krisna Murti dikenal sebagai pelopor seniman multimedia Indonesia. Karya-karyanya dikategorikan sebagai seni media baru, yaitu seni yang banyak menggunakan perangkat elektronik.

Karya-karyanya telah dipamerkan, antara lain di The First Fukuoda Asian Art Triennale di Jepang pada tahun 1999, Havana Biennale di Kuba, Gwangju Biennale di Korea pada tahun 2000, dan Venice Biennale di Italia pada tahun 2005. Dia juga berpartisipasi dalam festival seni media baru di Belanda pada tahun 2000, di Jerman pada tahun 2005, dan di Australia pada tahun 2009.

Pameran solonya, antara lain adalah “Video Spa” di Gaa Fusion of Senses Gallery, Ubud, Bali (2005); “Forbidden Zone” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2008); “Mediatopia” di Galeri Seni Kontemporer Semarang, Semarang, Jawa Tengah (2010); “Video (e) scape” di Galeri Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia (2015); Dan “Chaotic Jumps” di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung (2016).

Krisna Murti juga meraih penghargaan Artist of the Year 2010 dari Majalah TEMPO, dan Octubre Corto Special Award 2013 untuk Lotus Story, dari FIVER, La Rioja, Spanyol.

Dalam pameran Dunia dalam Berita yang sedang berlangsung di Museum Macan Jakarta, Krisna Murti menampilkan karya yang diberinya nama Makanan Tidak Mengenal Ras, karya yang dibuatnya pada 1999. Karya ini merupakan salah satu instalasi video awal buatan Krisna Murti yang melihat politik identitas di Indonesia sebagai salah satu implikasi dari keragaman budaya.

MIGRASI (1998)
Video Art – Performance
Durasi: 3.04
This video based on the performance of Wawan S Husein, created during chaotic situation in the Reformasi era. Goat was slaughtered as ritual performance to purify body and the Life. Using body goat’s organs , the performer invistigates and remaps symptom of social deseas and its malfunctions. During the event, performer sang his personal poetic words (1998/9).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *