Manusia Diam Di Tempat

Posted on Posted in Journal, News
Spread the love
Oleh : D.N Mukti

 

Salam, sayang, bergandengan, saling membantu adalah sedikit contoh dari bentuk konkret hubungan antar manusia. Hubungan yang benar terjadi dengan bertatap dan bersentuhan, dewasa ini menuju bentuk yang mutakhir, tentu saja hubungan ini menjadi lebih mutakhir karena perkembangan tekologi yang begitu pesat. Berkomunikasi menjadi lebih mudah dengan adanya smartphone, beberlanja menjadi lebih mudah dengan adanya onlineshop, membeli makan, membayar, dan banyak hal lain dipersingakat dengan banyaknya teknologi yang dibuat unuk memudahkan nya. Saat semua begitu mudah dan dapat dilakukan tanpa bergerak sedikitpun dari tempat dimana kita ada saat ini, tentu saja memberi banyak keuntungan untuk mempercepat gerak, namun dengan begitu banyak percepatan yang terjadi hubungan-hubungan bersentuh dan bertatap menjadi semakin terpangkas. Tidak perlu saling bertemu untuk melakukan transakasi semua sudah diatur sedemikan rupa dengan program, manusia hanya perlu mengusap layar. Menurut Marsshall Berman melihat bahwa modernitas tidak hanya ditandai oleh dialektika kebaruan, akan tetapi juga dialektika kecepatan. Hal ini dapat dilihat dari dari makin meningkatnya tempo kebaruan, yang di iringi dengan meningginya tempo kehidupan, khususnya diperkotaan.1 Percepatan selalu menuntut untuk adanya sesuatu yang baru, dan sesuatu yang baru hanya bertahan sebentar, kemudian nilanya berubah menjadi lama dan digantikan baru yang lebih baru, pola ini akan terus berulang. Begitu juga dengan hubungan antar manusia yang cara dan esesnsinya selalu berubah, saat perubahan tidak benar terencana maka akan terjadi kerancuan dan masalah yang cukup serius.

Untuk mengenal orang, dewasa ini semakin mudah dengan adanya sosial media, meskipun tanpa kita tahu latar belakang nya, entah kita memiliki kepentingan atau tidak saat mengenalnya, manusia saat ini begitu mudah untuh melakukan penjajakan lewat paparan visual yang tersaji di sosisal media. Tidak peduli memiliki kepentingan atau tidak dengan orang tersebut, banyak pengguna sosial media akan mem’follow’ karena orang tersebut tampan atau cantik, hanya ketertarikan fisik dalam layar. Sebenarnya hubungan semacam ini bukan sebuah hubungan yang memiiki kerikatan emosial mendalam, toh sebenarnya saat kita mengikuti seseorang di sosial media kita tidak benar-benar tahu apakah dia ‘orang’ yang nyata, wajahnya secantik atau setampan itu, atau kehidupan nya seperti yang dikisahkan dalam sosial medianya. Semua begitu buram namun menawarkan banyak kesenangan, hubungan yang terjalin menjadi begitu dangkal. Kontradiksi cultural kecepatan : di satu pihak, meningkatkan durasi kesenangan, di pihak lain, mempersempit durasi spiritual.2

Sebagai ilustrasi saat saya hendak membeli sebuah barang tanpa memliki smarphone untuk membeli secara online, prosedur yang harus saya lakukan adalah; harus pergi kepasar, bertemu pembeli, melakukan tawar menawar, jika terjadi kesepakatan maka barang yang saya inginkan bisa saya dapatkan. Saat proses menuju ke pasar untuk membeli barang tersebut banyak peluang untuk saya bertemu dengan orang baru dan melakukan komunikasi, dari komunikasi itulah memungkinkan saya untuk mendapatkan peluang-peluang yang mungkin saja tidak bisa kita bayangkan. Contohnya saat saya hendak kepasar saya merasa haus, maka saya berhenti di sebuah kedai minuman, di kedai minuman itu saya bertemu dengan serang pencari bakat yang kebetulan melihat saya dan menganggap saya memiliki potensi untuk membintangi film yang dia garap, jadi saya selain hendak membeli barang kebutuhan saya, saya juga mendapat pekerjaan untuk membintangi sebuah film. Disitulah kemungkin-kemungkinan yang ‘sebenarnya’ diperkecil dengan kemudahan yang dihadirkan oleh teknologi. Bila kita membeli menggunakan smartphone, opsi yang kita miliki adalah kita membuka smartphone memilih barang, kemudian melakukan transfer, dan barang dikirim. Peluang kita berinteraksi dengan orang baru secara nyata menjadi semakin kecil, menjadikan kita jauh dari’nyata’ dan menjadi manusia diam di tempat.

Yang ingin dikritisi adalah bagaimana percepatan berpengaruh terhadap hubungan antar manusia. Dengan segala kemudahan, manusia tidak memliki ruang dan waktu untuk berbasi-basi secara nyata, dan mungkin dapat berdampak kepada kebudayaan itu sendiri. Tata karma, sopan santun dan banyak perilaku yang mengontruksi kebudayaan, diturunkan secara lisan dan contoh perbuatan, bisa saja semakin lama akan semakin hilang dimakan oleh percepatan. Menurt Virilio, eksistensi manusia di dalam wadah ruang mengalami perubahan mendasar, dari “sebentuk tubuh yang bergerak di dalam ruang”, menjadi sebentuk tubuhyang dian ditempat sebagai satu katub inersia, sebuah titik dimana subjek menampung, menahan, menyerap setiap zat dan gerakan yang dating (informasi, tontonan, gaya) lemat simulasi elektronik.3

Dalam pembacaan lebih lanjut dalam tataran territorial, pola ini dapat mengakibatkan kota tak lagi menyediakan ruang dan waktu bagi basa-basi, tata karma, teposliro: untuk menyapa, untuk mengatakan sekedar “halo!”.4 Manusia menjadi semakin sibuk dengan dirinya dan tidak punya banyak waktu memperhatikan sekitar. Dampaknya kota menjadi tempat yang tidak menawarkan banyak pemaknaan hubungan mendalam namun hanya hubungan dalam tataran permukaan.

 

 

 

 

1 Marshall Berman, All That is Solid Melts Into Air, Verso, London 1982, hlm. 16.

2 Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Berlari (Dormologi, Impolsi, Fantasmagoria), Yogyakarta, 2017, hlm. 35.

3 Paul Virilio, Speed & Politics, Semiotext(e), New York, 1986, hlm. 13.

4 Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Berlari (Dormologi, Impolsi, Fantasmagoria), Yogyakarta, 2017, hlm. 35, 36.

 

 

EXHIBITION TITLE : Pesta Seni 5

CURATOR : D.N. Mukti

ARTIST : Ainun M. & Okta Viviana A.N., Akhmad Irfan, Alif Sukma, Muclisin, Arisona Rahman, M. Azhar Hammadi, Deny Renandan P, Desy Dwi Lestari, SMP & SMK Al-Firdaus, DKV Stikom, Eko Utomo, Fandi A.S, Ferry M. Fatoni, Frisky Jayantoro, Galan Arkasa P, Happy Wahyu F, Hendra Agung P, Hevids Hadid A, Jonathan Viola C, Juniewan B, Karimatus Sa’adah, Kelompok Trimerti, Khotibul, Muhammad Iqbalsyah, Malta F, Meidito Dian P, M. Rizky Nugroho, Moh. Nasyeh Lukman H, Muhamad Ardan A, Nihru Hiqam, Muhammad Nur L.W – Arvin R.A – M. Rizky F – Rizky Gandha N, Osyada R – Fuad Nuriyanto – Vicko Afriansyah, Rico Yogi S.S – Brilian Gilang R – Hasyim Dwi Irwanto – Ikko M.F, Rio Ari Firmansyah, Rizka Azizah Hayati, Sultan Putra, Upin Arifin, Farikh Abdul Aziz, Frans Goesmar P, I’an Rafly, Nawang Cahyani, Akbar Warisqianto, Ruth Kezia A, Surya Anggara, Andri Paguh – Anang Tsani – Galan Arkasa, APIPRAWK, Ashar Auliarahman, Bhagas Arta B, Candra Rizky P, Dwi Hartanto.

EXHIBITION PERIODE : 30 Oktober – 1 November 2018

LOCATION : Sasana Krida, Jl. Veteran, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144

 

Dokumentasi foto : https://goo.gl/WKK9UJ

Dokumentasi video : https://youtu.be/auO4_6RzvMA

Link Terkait : http://serbukayu.org/2018/11/27/manusia-diam-di-tempat/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *