Tawaran estetik dan kedalaman

Posted on Posted in Journal, News
Spread the love

Pengtar Kuratorial Pameran : MIXCALIBRE

oleh : D.N. Mukti

Apa yang kita kenakan adalah cerminan dari diri ada ungkapan yang menyebutkan demikian, namun sebenarnya saya tidak terlalu sepakat dengan ungkapan ini karena permukaan tidak pernah menyebutkan kedalam. Menyoal fashion pasti akan selalu terbayang kepada sebuah pagelaran yang megah, mewah, dan sangat ekslusif, sampai-sampai mungkin kita merasa tidak pantas untuk sekedar mengadirinya saja. Dalam tulisan ini saya ingin menyasar perihal dunia fashion yang dilakukan oleh masyarakat untuk mensiasati perkembangan mode yang berlalu begitu cepat namun tidak semua orang mampu mengimbangi dengan uang yang mereka dapatkan, alhasil munculah duplikasi barang sebagai alternatif, banyak alternatif yang ditawarkan sebagai siasat, mulai dari alternatif harga atau dari sektor ekonomi, alternatif estetik, bahkan alternatif yang menyoal tentang kedalaman terkait fashion dan apa yang kita kenakan itu sendiri. Bentuk alternatif dari sudut ekonomi menyajikan barang duplikasi dengan kualitas yang beragam mulai dari kualitas yang sangat hampir sama menyerupai asli nya, ada juga yang dibuat dengan kualitas pas-pasan dan biasaya barang yang demikian memiliki harga yang sangat murah dan relatif terjangkau oleh setiap kalangan.

Pensiasatan barang duplikasi ini dapat dimakanai secara beragam, saya sendiri memakanai pola tersebut sebagai suatu upaya vandalisme1 terhadap sebuah produk yang sudah memiliki brand besar dan dikenal luas atau mungkin kita sebut saja bran-brand kapitalis, saya pikir upaya ini muncul secara alami berkatitan bagai mana pola pikir masyarakat dikontruksi disini, pendidikan dan pengetahuan komunal adalah hal yang sangat berpengaruh dalam pembetukanya. Kenapa tidak para vandalis (orang yang membajak brand) membuat sebuah brand sendiri dan menjualnya ?, ternyata masalah membuat brand dan mendistribusikan nya jauh lebih rumit ketimbang sekedar membajak, membuat, menjual, dan untung. Upaya yang dilakukan vandalis ini juga bisa menjadi sebuah alternatif pilihan dari sisi ekonomi.

Tidak begitu dengan seniman, jika para vandalis ini memberi alternatif dari sudut pandang ekonomi, maka seniman akan memberi alternatif dari sudut pandang estetika dan kedalaman, dengan membuat sebuah karya yang indah, ngeri, nyleneh atau menjijikan seniman coba hadir untuk memberikan sebuah paparan estetik baru beserta kedalaman ide yang ingin dibicarakan melalui karyanya. Dalam pameran ini akan ada 4 seniman yang sama-sama memiliki concern terhadap dunia fashion namun mereka bekerja dengan cara masing masing dan berbeda, seperti Ojite yang lebih berfokus padas dunia seni rupa namun dia juga mengekplorasi karya dengan mengunakan baju sebagai medium, lalu Agus Sunandar adalah seorang lulusan seni rupa UM dan ITB namun sekarang menjadi seorang perancang busana yang sudah malang melintang di dunia fashion nasional maupun internasional, lalu ada Agnes yang berekperimentasi menggunakan tumbuhan dalam membuat karya textile nya, dan ada Ican Harem soerang seniman yang menjadi icon fashion street yang sangat populer dengan karya-karya membuat gambar di denim dan medium lainya. Dari ke seniman ini yang memiliki concern sama namun menapak dengan cara berbeda akan berkolaborasi untuk menampilkan sebuah alternatif estetis dan kedalam kepada masyarakat.

Sejauh mana penawaran estetis dan kedalam terkait fashion yang akan diberikan oleh seniman ?. Dalam pameran ini seniman akan menampilkan karya-karya yang beragam, akan muncul beberapa sudut pandang terkait pemaknaanya pada fashion.

……

Bagi Agnes Christina alam telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya seni. Bagaimanapun, alam adalah kehidupan. Setiap organisme diciptakan dengan keunikan sedemikian rupa sehingga mereka semua berbeda satu sama lain. Jika manusia memiliki cap jempol, maka pohon memiliki urat daun. Tidak ada daun yang identik, bahkan jika daun berasal dari cabang pohon yang sama.

LEAFTHIEF adalah proyek yang dipamerkan dalan kegiatan kali ini, proyek ini dikerjakan oleh Agnes untuk merekam keunikan tiap helai daun dan membuatnya bisa dipakai dalam bentuk tekstil. Karya yang dibuat dalam proyek ini dikerjakan dengan teknik monoprint mengunakan objek dedaunan dan mengunakan pewarna sintetis. Lebih jauh lagi proyek ini adalah percobaan oleh Agnes Christina dalam upaya untuk memahami tubuh manusia, karakteristik dan keunikannya. Jadi karya Fashion yang akan dihadirkan oleh Agnes adalah karya mengenai prosesnya mempelajari manusia namun mengunakan medium lain yang dapat menjadi analoginya.

……

Phrau Runako adalah tema dan label Ready to wear Deluxe Agus sunandar. Agus Sunandar sendiri adalah seorang perancang busana yang telah malang melaintang di dunia fashion nasional maupun internasional. Ide visual pada karya-karya yang dibuat oleh Agus adalah Desain-desain yang basic menjadi pilihan dengan penekanan pada  penggunaan garis garis kontur pada siluet yang kuat dan tegas, juga penggunaan dominasi warna bolt dominasi warna abu abu, hitam, merah dan warna warna kuat lainnya. Banyak menggunakan bahan Linen bertekstur woven yang kuat, semua itu untuk merepresentasi nilai nilai kehidupan masyarakat jaman sekarang yang penuh semangat, optimis, kuat dan terbuka.

Dalam pameran ini Agus akan memamerkan koleksinya yang mengambil tema “Phrau”, Phrau adalah Perahu. Alat yang digunakan sebagai sumber penghidupan masyarakat di pesisiran pantai. Perahu serta kehidupan para nelayannya menarik dan menginspirasi pembuatan koleksi kali ini. Latar belakang Agus yang lahir di daerah pantai di pulau Madura, daerah yang panas, keras namun memiliki kebudayaan yang kuat dan masyarakat pesisir yang sangat terbuka, membuat Agus memiliki kedekatan secara emosionil dengan tema. Faktor emosionil dan proses yang telah dijalani oleh Agus selama berkarya menjadi simpul dan menghasilkan karya-karya fashion yang indah namun memiliki makna mendalam.

……

Ojite Budi Sutarno mempunyai pemaknaan tersendiri terkait fashion. Berangkat dari proses berkaryanya Ojite merasa bahwa seni rupa itu tidak terikat pada sebuah medium saja, namun bisa sangat luas, dan apa yang kita kenakan juga menjadi karya seni itu sendiri. Pemikiran tersebut saya rasa sama dengan pemikiran yang ingin melepaskan diri dari bentuk seni yang tinggi, seperti yang dilakukan di gerakan dada1, yang memiliki spirit untuk mebawa seni kepada hakikatnya bukan sekedar hal yang berjarak atau seni yang tinggi. Dari term tersebut Ojite mulai membuat karya tidak hanya menggunakan kanvas namun juga membuat karya yang merespon pakaian dan beberapa medium lain seperti tulisan dan novel.

“ Ketika kita menjelaskan benda/ realitas kepada orang lain lain,tanpa sengaja kita membuat realitas baru yang berupa penjelasan, ketika saya menjelaskan karya saya kepada  orang lain,saya buat penjelasan itu menjadi bagian dari medium karya saya yg lain, jadilah kostum yang saya pakai. Jadinya kostum ini merupakan sebagian penjelasan dan kredo dari karya-karya yang saya buat menjadi karya yang interaktif(mendekatkan karya dengan apresiator). Komposisi yang cair, bisa menambah atau mengurangi(ketika tubuh menjadi medium seni) pemaknaan terhadap karya. Bentuk senirupa sebagai tontonan atau ruang pamer yg cair;bisa dibawa jalan(karnaval),dan semacamnya bisa menjadi sebuah alternatif yang ditawarkan.” Ojite.

Wayang juga menjadi hal yang mengispirasi Ojite dalam berkarya, namun meski mengipirasi Ojite tidak mau serta merta mengalihvisualkan wayang kepada karya dia buat, dia lebih memilih untuk memaknainya sendiri wayang tersebut dan memunculkanya dengan bentuk yang berbeda, namun masih menyampaikan jiwa yang sama. Dalam membuat karyanya Ojite mendapat ide dari proses yang kontemplatif, dengan menyerap hal-hal yang ada disekitar lalu mengendapkanya dan mengolah visualnya untuk kemudian di aplikasikan menjadi sebuah karya seni. Ojite percaya bahwa konsep baginya adalah bagian dari menganut,meyakini dan menjalankan sebuah filosofi..

……

Ican Harem membuat karya dengan merespon produk fashion yang sudah jadi seperti baju, celana dan sebagainya. Ican merespon produk fashion tersebut sebagai siasatnya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.  Dalam merespon produk fashion Ican mengabaikan standar estetik yang ada, yang di amini oleh kebanyakan. Ican cenderung menghadirkan produk fashion yang sangat muda, raw, dan ugal-ugalan. Produk fashion yang sudah dimodifikasi dan lebur dengan selera estetis Ican muncul sebagai karyanya.

“Karena  saya sebenernya mau pake sendiri produknya..Saya punya kebutuhan akan sandang yg tidal biasa..klo beli Baru Mahal..paling gampang bikin sendiri” Ican Harem.

Pendistribusian yang diakukan oleh Ican bukan sepenuhnya strategi yang dilakukan untuk mengenalkan karyanya pada masyarakat luas, Ican membuat sebuah karya dengan merespon produk fashion adalah untuk memenuhi kebutuhnya sendiri, namun seiring berjalanya waktu banyak orang yang mengamini dan menggemari karya Ican. Proses yang terjadi sangatlah natural dan cenderung tidak tendensius. Setelah berjalan dengan pola yang demikian membuat karya dan mendistribusikanya melalui sosial media, fungsi dari karya Ican bergeser sebagai bisnis yang dia tekuni, jika awal memang untuk pemenuh kebutuhan sendiri namun sekarang karena animo masyarakat terhadap karyanya, Ican mendistibusikan karyanya dengan tujuan yang berbeda yaitu berniaga.

……

Dari kesemua seniman yang terlibat, mereka mempunyai sudut masing-masing dalam membicarakan fashion, saya rasa hampir tidak ada benang merah lain kecuali semua seniman menggunakan produk fashion sebagai karyanya. Namun inilah yang menjadi pamera ini menarik paparan 4 seniman yang terlibat cukup membuat penuh ruang pamer dengan panawaran estetis dan kedalam yang berbeda.

Dan, pada akhirnya karya yang muncul dalam pameran ini akan menjadi sebuah paradoks yang menarik tentang upaya menghadirkan pendekatan karya yang cenderung populis dan tidak membingungkan, tapi masih menyisakan ruang untuk para apresiator memiliki tafsir lain terkait estetik dan kedalam dari sebuah karya yang menyingungkan diri dengan fashion.

 

 

 

 

 

 

 

1 Vandalisme adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)” atau “perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.

2 Dadaisme merupakan aliran pemberontak di antara seniman dan penulis. Dan memiliki semangat yaitu menolak frame berpikir “seni adalah sesuatu yang tinggi, yang mahal, yang serius, complicated, dan eksklusif“. Mereka membenci frame berpikir “seni tinggi” karena seni semacam itu adalah milik kaum menengah ke atas yang memiliki estetika semu.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Dadaisme

EXHIBITION TITTLE : TRA X FANCY – Mixalibre

CURATOR : D.N Mukti

ARTIST : Agnes Christina, Agus Sunandar, Ojite Budi Sutarno, Ican Harem feat. Ardalano.

EXHIBITION PERIODE : 13-15 July 2018

LOCATION : Rumah Opa, Jl. Welirang No.41a, Oro-oro Dowo, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119

 

Dokumentasi foto : https://www.facebook.com/media/set/?set=a.373007616770126&type=1&l=411b288bf2

Dokumentasi video : https://youtu.be/I2663Z3sAQM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *